Seleksi Program PHC Nusantara 2021, Atas Undangan Pihak Prancis

Pada tanggal 17 Februari 2021, rapat komite gabungan Prancis-Indonesia ke-9, dalam rangka seleksi PHC Nusantara telah dilaksanakan di Jakarta dalam bentuk daring dan luring. Rapat dihadiri para perwakilan Kementerian Eropa dan Luar Negeri Prancis (MEAE), Kementerian Pendidikan Tinggi, Riset dan Inovasi Prancis (MESRI), Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset Inovasi Nasional (KEMRISTEK/BRIN) dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (KEMDIKBUD).

Rapat bilateral ini dipimpin oleh Bapak Thierry Maré, Atase Kerja Sama Sains dan Teknologi Institut Français d’Indonésie, Kedutaan Besar Prancis di Indonesia.

Untuk membuka rapat, Ibu Lucille Sancho, perwakilan MEAE menyambut para anggota komite seleksi gabungan dan mengucapkan terima kasih kepada kedua Kementerian Indonesia yang terkait atas komitmen mereka dalam memperkuat kerja sama bilateral dalam bidang riset, meskipun pada masa pandemi COVID-19. Beliau juga menggarisbawahi pentingnya hubungan internasional dalam bidang pendidikan tinggi dan penelitian.

Direktur Sumber Daya Pendidikan Tinggi, KEMDIKBUD, Bapak Mohammad Sofwan Effendi menyambut baik niat Pemerintah Prancis. Beliau menyatakan dengan hormat jika dapat melanjutkan kerja sama dengan Prancis melalui program PHC Nusantara. Beliau menekankan pentingnya program ini untuk mengembangkan kualitas para dosen peneliti Indonesia.

Selanjutnya, menurut Bapak Heri Hermansyah, Plt. Direktur Riset dan Pengabdian Kepada Masyarakat Deputi Penguatan Riset dan Pengembangan, KEMRISTEK/BRIN, beliau mengharapkan program Nusantara dapat membuka bentuk kolaborasi baru, seperti supervise bersama, publikasi bersama.

Dalam kesempatan ini, Bapak Robert Gardette, Ahli Sains DAEI (MESRI) mempresentasikan studi statistik sejak 2009-2020. Program ini telah berkontribusi dalam memelihara kerjasama yang bermanfaat dalam jangka panjang. Beliau menunjukkan bahwa 90% proyek penelitian yang diinisiasi oleh PHC Nusantara terus berkelanjutan, sehingga sebanyak 52% peneliti mendapatkan akses pendanaan baru.

Pada edisi 2021, ada 33 proyek yang diajukan. Komite gabungan Prancis-Indonesia memutuskan untuk mendanai 9 proposal.

Programme d’Excellence – Bourses d’Études Pour Religieux 2021

Beasiswa dari Kementerian Eropa dan Luar Negeri Prancis ini mendanai proyek studi yang relevan dengan topik keagamaan (sejarah, filosofi dan teologi…), dengan prioritas pada tingkat S2 dan S3, namun tidak menutup kemungkinan untuk tingkat S1 tergantung pada kualitas aplikasi yang diterima.

Program ini terbuka baik untuk calon pemuka agama yang akan mengemban tugas di sebuah institusi keagamaan maupun untuk mahasiswa yang memiliki proyek studi dalam bidang sains sosial dan terkait secara langsung pada bidang sains keagamaan.

Sasaran

  • Kandidat memiliki kemampuan berbahasa Prancis. Bagi kandidat yang ingin mengikuti kelas persiapan Bahasa Prancis di Negara Prancis, berkas aplikasi beasiswa harus diajukan sebelum keberangkatan. Hal ini dibuktikan melalui surat keterangan dari penanggung jawab atau pimpinan institusi keagamaan yang menaungi kandidat. Setelah seleksi, jika kandidat terpilih, maka biaya kelas persiapan Bahasa Prancis tetap ditanggung oleh kandidat bersangkutan.
  • Kandidat dari semua negara kecuali yang berasal dari Uni Eropa dan Amerika Utara.
  • Semua agama dapat diterima pada beasiswa ini.
  • Kandidat yang berasal dari luar Prancis dan belum pernah menerima Beasiswa Pemerintah Prancis lebih diutamakan. Kandidat yang saat ini berada di Prancis, juga berkesempatan untuk mendaftar.

Kondisi

  • Beasiswa ini mendanai satu masa studi (atau sebagian, untuk jenis beasiswa pendek). Beban finansial di luar periode studi menjadi tanggungan mahasiswa.
  • Beasiswa ini memperbolehkan bantuan finansial dari pihak ketiga untuk kandidat yang terikat secara kedinasan dengan otoritas atau institusi keagamaan tertentu.
  • Pengelolaan beasiswa ditangani oleh Campus France dengan besaran alokasi standar yang sudah ditetapkan yaitu : 700 €/bulan untuk tingkat S1 dan S2 dan 1.415 €/bulan untuk tingkat S3 dengan nilai tukar mata uang asing yang berlaku pada tanggal 1 Januari 2021.
  • Tidak menanggung biaya perjalanan P/P maupun kursus persiapan bahasa.
  • Mahasiswa yang akomodasinya ditanggung oleh suatu institusi atau asosiasi keagamaan harus menyebutkannya dalam berkas aplikasi.

Jenis beasiswa

Kandidat dapat mengajukan aplikasi untuk salah satu dari jenis beasiswa berikut ini :

Beasiswa jangka panjang

Mencakup satu periode studi antara 12 – 36 bulan untuk satu atau sebagian masa studi di Prancis (S2, S3, terbuka juga untuk S1 tergantung pada kualitas berkas pendaftaran).

Beasiswa jangka pendek

Mencakup satu periode berdurasi 6 bulan dan dapat membiayai masa tinggal di Prancis, bagi yang terdaftar dalam kategori program doktor dengan atau tanpa co-tutel, maupun post-doktoral. Beasiswa ini juga terbuka untuk jenis studi/ penelitian jangka pendek lainnya.

Untuk beasiswa jangka panjang maupun jangka pendek

Seluruh berkas pendaftaran beasiswa dikirimkan kepada Institut Français d’Indonesie (IFI) yang akan melakukan seleksi berkas, sebelum akhirnya diteruskan kepada Kementerian Eropa dan Luar Negeri Prancis paling lambat tanggal 1 Mei 2021. Kandidat yang terseleksi akan mendapatkan informasi hasil seleksi di awal Juni 2021.

Berkas yang diperlukan:

  1. Formulir beasiswa yang telah diisi;
  2. Ijazah setara dengan baccalaureate français dan terjemahannya dalam Bahasa Prancis oleh penerjemah yang ditunjuk oleh Kedutaan Besar Prancis di Indonesia;
  3. Ijazah pendidikan terakhir lainnya, dan terjemahannya dalam Bahasa Prancis oleh penerjemah yang ditunjuk oleh Kedutaan Besar Prancis di Indonesia;
  4. Surat keterangan dari institusi pendidikan tinggi di Prancis yang menyatakan pendaftaran kandidat dan gelar yang akan diraih;
  5. Detail proyek studi yang akan ditempuh di Prancis disertai dengan objektif professional setelah studi. Dalam studi doktoral, dimohon untuk menyertakan detail proyek penelitian (proposal) beserta presentasinya;
  6. Untuk kandidat dari Negara non-francophone, menyertakan justifikasi kemahiran Bahasa Prancis: Test de Connaissance du Français (TCF) yang berlaku kurang dari 2 tahun, atau Diplôme d’Etudes de la Langue Française (DELF) tingkat B2; maupun Diplôme d’Etudes Approfondi de la Langue Française (DALF C1 atau DALF C2).

Berkas tambahan untuk kandidat yang terikat pada otoritas atau institusi keagamaan tertentu:

  1. Surat keterangan dari otoritas atau penanggung jawab keagamaan, divalidasi oleh IFI;
  2. Surat rekomendasi dari otoritas atau penanggung jawab komunitas keagamaan, termasuk, dalam hal di mana terdapat beberapa pelamar dari komunitas yang sama, urutan peringkat dari para kandidat yang diajukan;
  3. Dokumen terkait pendanaan bersama yang diberikan oleh otoritas atau komunitas keagamaan.

Seluruh pertanyaan mohon ditujukan melalui surel:
S1 dan S2: annisa.fauziah@ifi-id.com
S3: diah.dharmapatni@ifi-id.com

Penawaran Program Doktor dan Post-Doktoral CNES

Penawaran Program Doktor dan Post-Doktoral CNES telah dibuka hingga 2 April 2021 (Pukul 24.00 Waktu Paris).

Setiap tahun, CNES mengalokasikan dana penelitian (disertasi dan post-doktoral) kepada mahasiswa Prancis dan luar Prancis pada bidang:
•    Ilmu Teknik (sistem orbit, sistem transportasi antariksa)
•    Ilmu Penggunaan Aset Antariksa (ilmu alam semesta, ilmu bumi, ilmu mikrogravitasi)
•    Ilmu Sosial dan Humaniora (hukum, sejarah, ekonomi, sosiologi, psikologi, dll.)

Informasi mengenai Penawaran Program Doktor dan Post-Doktoral beserta syarat dan ketentuan kandidat dapat dilihat pada tautan berikut :
https://recrutement.cnes.fr/en/annonces (pilih PhD atau Post-doctorate pada menu type of contract)

Penawaran ini terbuka bagi warga negara asing. Prosedur aplikasi tetap sama, wawancara akan dilakukan melalui panggilan video atau telepon.

Panggilan Proyek Penelitian “Science et Impact” Maret 2021

Tenggat pendaftaran: 24 Februari 2021

Dalam rangka penguatan kerja sama sains dan teknologi antara Prancis dan Indonesia, Kedutaan Besar Prancis di Indonesia meluncurkan kembali program “Science et Impact”. Program ini melengkapi program-program yang telah ada atau yang sedang dipersiapkan, sehingga menjadi sebuah perangkat lengkap kerja sama sains dan teknologi.

Kedutaan Besar Prancis di Indonesia bermaksud menyediakan sebuah pendanaan yang fleksibel, reaktif, dan mudah untuk mendukung kerja sama sains dan teknologi. Tujuan prorgam ini adalah mendukung para aktor Prancis untuk terus melanjutkan kerja sama mereka dengan Indonesia dan menjawab beragam kebutuhan seperti konferensi sains, sidang disertasi, magang, seminar, survei/angket, terjemahan, dll.

Sebuah realisasi yang berdampak dari setiap proyek yang akan didanai diharapkan dapat mengilustrasikan impak dari sains dan secara khusus dari kerja sama Prancis – Indonesia. Tidak ada batasan tema untuk program ini.

Dana yang disediakan untuk setiap proyek maksimal 10.000 euro; pendanaan rata-rata sejak Oktober 2016 adalah sekitar 4.000 euro per proyek.

Bantuan dana ini berupa subsidi yang disalurkan kepada institusi berbadan hukum di Prancis. Sebelum dana ditransfer, penerima wajib membuat surat pernyataan yang menyatakan bahwa pengirim dibebaskan dari biaya transfer. Tidak diperlukan Surat Perjanjian antara Kedutaan Besar Prancis dan lembaga yang bersangkutan karena pendanaan ini bersifat sepihak.

Untuk pendaftaran silahkan isi formulir online di bawah ini:


Formulir Science et Impact Maret 2021​

Perhatian

  • Satu formulir per projek yang akan diterima.
  • Sekali terkirim, formulir tidak dapat diubah atau dibatalkan.

Untuk informasi selengkapnya, silahkan mengunduh Panggilan Proyek Penelitian Science et Impact 2021.
dan untuk pertanyaan, anda dapat menghubungi Kantor Kerja Sama Sains dan Teknologi melalui surel projet@ifi-id.com

Pesta Sains 2020, 9-16 November

Pesta Sains adalah sebuah perhelatan budaya ilmiah yang berasal dari Prancis, kembali digelar setelah dua tahun absen. Program ini dirancang untuk mempopulerkan sains kepada masyarakat luas dan merupakan sebuah ajang bagi universitas, pusat kebudayaan ilmiah, pusat kebudayaan dan laboratorium untuk membuka pintu, memperkenalkan hasil penelitian, dan membagikan pengetahuan ilmiah kepada masyarakat.

Diselenggarakan oleh Institut Français Indonesia, rangkaian acara Pesta Sains akan diselenggarakan seluruhnya dari tanggal 9 sampai 16 November 2020 secara daring. Perlehatan ini akan mengangkat tema-tema utama kerja sama sains Indonesia Prancis, yang terbagi menjadi tema harian yaitu: Maritim, Kesehatan, Lingkungan, Pertanian, Energi.

Rangkaian acara terdiri dari webinar, kegiatan sains menarik lainnya (KUARK) dan pemutaran video tesis mahasiswa doktor indonesia di Prancis.

Jangan lewatkan informasi terbaru Pesta Sains melalui situs kami !

Rincian Program: 

Senin, 9 November 2020

Video
Explique ta thèse ! – Mukhamad Ngainul Malawani

Evolusi Lanskap di Lombok pada era Holosen dalam Kaitannya dengan Aktivitas Vulkanik, Perubahan Iklim dan Peran Manusia

Para mahasiswa Indonesia yang melanjutkan studi di Prancis akan mempresentasikan disertasi dan menceritakan keseharian mereka sebagai mahasiswa doktor, hal yang disukai dari Prancis sekaligus hal yang dirindukan dari Indonesia.

Webinar – Maritim
Terumbu karang

Presentasi oleh Ruxandra Toderasc – Coral Guardian
Senin, 9 November 2020 – Pukul 15.00 WIB – Zoom
Registrasi via
http://bit.ly/fds20-coralguardian
Webinar dalam Bahasa Inggris

Coral Guardian berupaya melindungi terumbu karang dengan melibatkan populasi yang bergantung seutuhnya pada terumbu karang melalui aksi-aksi nyata di lapangan.

Webinar – Maritim
Manajemen Sumber Daya Perairan. Mikroalga HASLEA: Mengenal Peranan dan Karakteristiknya.

Presentasi oleh Sulastri Arsad
Senin, 9 November 2020 – Pukul 19.00 WIB – Zoom
Registrasi via
http://bit.ly/fds20-maritim
Webinar dalam Bahasa Indonesia

Sulastri Arsad melakukan penelitian tentang bioprospecting, isolasi, kultivasi, dan pemanfaatan mikroalga spesies Haslea yang memiliki peranan dan karakter yang unik.

Selasa, 10 November 2020

Video
Explique ta thèse ! – Mekro Permana Pinem

Edible packaging berbahan dasar chitosan, studi fase nanofluid menjadi nanocomposite film.

Para mahasiswa Indonesia yang melanjutkan studi di Prancis akan mempresentasikan disertasi dan menceritakan keseharian mereka sebagai mahasiswa doktor, hal yang disukai dari Prancis sekaligus hal yang dirindukan dari Indonesia.

Webinar – Kesehatan
Menguak genom SARS-CoV-2 untuk menemukan cara mengakhiri pandemi: Apakah kita benar-benar mengenal virusnya?

Presentasi oleh Riza Putranto
Selasa, 10 November 2020 – Pukul 19.00 WIB – Zoom
Registrasi:
http://bit.ly/fds20-kesehatan
Webinar dalam Bahasa Indonesia

Riza Putranto adalah seorang peneliti yang menekuni bidang genomika, transkriptomika serta metagenomika. Webinar ini membawa kita kepada refleksi umum tentang apa yang telah kita cemati di masa pandemi selama 8 bulan terakhir di Indonesia, dari sudut pandang ilmiah.

Kamis, 12 November 2020

Video
Explique ta thèse !– Kadek Wiweka

Desa wisata sebagai salah satu model pengembangan desa berkelanjutan di Indonesia

Studi kasus di Jawa Tengah (Yogyakarta)

Para mahasiswa Indonesia yang melanjutkan studi di Prancis akan mempresentasikan disertasi dan menceritakan keseharian mereka sebagai mahasiswa doktor, hal yang disukai dari Prancis sekaligus hal yang dirindukan dari Indonesia.

Webinar – Pertanian
Proyek BEFTA: Sebuah upaya meningkatan keanekaragaman hayati dan pemulihan fungsi ekosistem di perkebunan kelapa sawit

Presentasi oleh Jean-Pierre Caliman dan Anak Agung Ketut Aryawan
Kamis, 12 November 2020 – Pukul 19.00 WIB – Zoom
Registrasi:
http://bit.ly/fds20-agrikultur
Webinar dalam Bahasa Inggris

BEFTA, keanekaragaman hayati dan fungsi ekosistem di perkebunan daerah tropis, adalah sebuah platform yang dikembangkan di lanskap kelapa sawit di Sumatera untuk mempelajari secara ilmiah kapasitas praktik lapangan, terutama yang terkait dengan penanganan semak belukar, untuk mewujudkan keanekaragaman habitat di dalam perkebunan.

Jumat, 13 November 2020

Video
Explique ta thèse ! – Sih Natalia Sukmi

Warisan Prasejarah Indonesia Menghadapi Tantangan Pembangunan Berkelanjutan: Konstruksi Sebuah Model Pemberdayaan Masyarakat

Para mahasiswa Indonesia yang melanjutkan studi di Prancis akan mempresentasikan disertasi dan menceritakan keseharian mereka sebagai mahasiswa doktor, hal yang disukai dari Prancis sekaligus hal yang dirindukan dari Indonesia.

Presentasi – Lingkungan
Aku Saintis. Aku Lindungi Bumi.

Presentasi oleh pemenang OSK (Olimpiade Sains Kuark)
Jumat, 13 novembre 2020 –Pukul 15.00 WIB – Zoom
Webinar dalam Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia

Melalui presentasi ini, para alumni OSK (Olimpiade Sains Kuark) berkontribusi melalui langkah-langkah nyata untuk melindungi bumi dengan menginvestigasi solusi yang dimulai dari lingkungan rumah.

Pemutaran Film Dokumenter – Lingkungan
Lengguru, ekspedisi ilmiah menguak dunia yang tersembunyi

Presentasi oleh Régis Hocdé, Laurent Pouyaud dan Indra Bayu Vimono
Jumat, 13 novembre 2020 –Pukul 19.00 WIB – Zoom
Registrasi:
http://bit.ly/fds20-lingkungan
Webinar dalam Bahasa Inggris

Penjelajah Lengguru akan menayangkan film dokumenter Lengguru, Dunia yang Hilang, diikuti dengan diskusi dan tanya jawab.

Sabtu, 14 November 2020

Video
Explique ta thèse ! – Miratul Khusna Mufida

Implementasi Big Data dan Kecerdasan Buatan pada Sistem Transport Cerdas

Para mahasiswa Indonesia yang melanjutkan studi di Prancis akan mempresentasikan disertasi dan menceritakan keseharian mereka sebagai mahasiswa doktor, hal yang disukai dari Prancis sekaligus hal yang dirindukan dari Indonesia.

Tournage
Proyek kerja sama Prancis-Indonesia di Universitas Indonesia – Proyek hotel net-zero

Para peneliti dan mahasiswa doktor di UI mempresentasikan awal mula, perkembangan dan pekerjaan proyek penelitian Net-Zero, hasil dari buah kerja sama yang baik antara Université de Rennes 1 dan Universitas Indonesia.

Webinar – Energi
Sistem pendingin tenaga surya di hotel-hotel net-zero energy di kawasan tropis

Presentasi oleh Paul Byrne dan Ardiyansyah Yatim
Samedi 14 novembre 2020 – 19h Jakarta – Zoom
Registrasi:
http://bit.ly/fds20-energi
Webinar dalam Bahasa Inggris

Université de Rennes dan Universitas Indonesia telah bekerja sama sejak tahun 2017, dalam proyek sistem pendingin tenaga surya di hotel-hotel net-zero energi di wilayah tropis. Tujuannya adalah untuk merancang hotel-hotel net-zero energi yang mengonsumsi lebih sedikit energi, tanpa atau dengan sedikit sekali ketergantungan terhadap listrik.

Senin, 16 November 2020

Pameran virtual
A bord du Nautilus

Presentasi oleh para siswa Lycée français de Jakarta
Senin, 16 November 2020 – Live Pukul 18.30 WIB – Zoom/Youtube

Ayo naik kapal Nautilus dengan seluruh penemuan Kapten Nemo dan teknisinya Cyrus Smith, saat penjelajahan di Pulau misterius. Pameran ini menggabungkan disiplin sains dan sastra seputar cita-cita ilmuwan Jules Verne.

Panggilan Proyek Penelitian PHC Nusantara 2021

BATAS AKHIR PENDAFTARAN: 21/10/2020

Partenariat Hubert Curien (PHC) Nusantara 2021 telah dibuka. Program pendanaan penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan pertukaran pengetahuan dan teknologi antara pusat-pusat penelitian di kedua negara, dengan menitikberatkan pada potensi kerja sama baru dan partisipasi peneliti muda serta mahasiswa doktor.

Program tahunan ini terselenggara atas kerja sama Kementerian Uni Eropa dan Luar Negeri Prancis (MEAE), Kementerian Pendidikan Tinggi, Riset dan Inovasi Prancis (MESRI), beserta pihak terkait di Indonesia yaitu Kementerian Riset dan Teknologi (KEMENRISTEK) dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (KEMDIKBUD).

PHC Nusantara 2021 terbuka bagi proyek penelitian bersama Indonesia-Prancis (kecuali bidang Nuklir, Pertahanan, dan Militer). Proyek-proyek penelitian harus termasuk ke dalam 11 lingkup bidang penelitian berikut:

  1. Solusi setelah pandemi COVID-19 (Teknologi yang memungkinkan swasembada atau ketahanan lokal, Pencegahan dan pengendalian infeksi, Teknologi sanitasi, Manajemen Govtech/data terbuka dan Big Data, Manajemen krisis setelah pandemi, Digital workplace, dan Teknologi, organisasi dan implementasi pembelajaran jarak jauh)
  2. Teknologi Pangan
  3. Energi, termasuk energi baru dan terbarukan (PLT termal dan nuklir, geotermal, energi ombak dan gelombang laut, bioenergi, biofuel, tenaga surya, dll)
  4. Kesehatan dan obat-obatan
  5. Ilmu kelautan, maritim dan oseanografi
  6. Teknologi transportasi: darat, udara, laut
  7. Teknologi Informasi dan Komunikasi
  8. Ilmu Sosial dan Humaniora
  9. Teknologi mutakhir, seperti nanoteknologi
  10. Pelestarian lingkuangan: biodiversitas flora dan fauna, air, tanah perubahan iklim
  11. Pengendalian dan pencegahan risiko alam dan/atau manajemen bencana – termasuk sistem peringatan dini yang melibatkan ilmu geologis, seismik, vulkanik, klimatik, geomagnetik. 

Untuk informasi lebih lanjut, silakan mengunduh dokumen berikut :

Untuk pendaftaran dan informasi lebih lanjut, peneliti Indonesia dapat klik di sini.

Menemukan Budaya Ilmiah di Prancis

PROYEK UNTUK TALENTA MUDA INDONESIA
Testimoni Mohammad Qoimam Bilqisthi Zulfikar

Pada tanggal 1 hingga 7 Desember 2018, saya mendapatkan kesempatan untuk berpartisipasi di sebuah program yang luar biasa, bernama Pekan Talenta Ilmiah Muda Frankofon. Selama sepekan, saya telah mempresentasikan proyek-proyek ilmiah di kantor pusat Organisasi Internasional Frankofoni (OIF) dan bertukar pengalaman seputar frankofoni di bidang komunikasi ilmiah, ilmu teknik dan industri.

Pengalaman tersebut sangatlah inspiratif dan sekembali saya ke Indonesia, saya memutuskan untuk membuat sebuah program bagi para anak muda di daerah saya, Provinsi Jawa Timur. Tujuan utama dari program ini adalah mempresentasikan kemajuan budaya ilmiah di Prancis dan menceritakan pengalaman saya selama di Paris. Saya berharap lebih banyak anak muda yang mengerti akan pentingnya budaya ilmiah dan antusias berpartisipasi dalam program Universcience dan Campus France.

Bekerja sama dengan IFI Surabaya, saya mengajukan untuk menyelenggarakan sesi sharing, dimana saya dapat mempresentasikan kegiatan saya selama berada di Pekan Talenta Ilmiah Muda Frankofon 2018, memperkenalkan program-program Universcience dan juga perkembangan budaya ilmiah di Prancis. Program ini telah terselenggara pada bulan September dan Oktober 2019 di tiga institusi berikut:

  • 28 September 2019, di Institut Français d’Indonésie (IFI) Surabaya [90 peserta]
  • 5 Oktober 2019, di Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (UNIPDU) Jombang [80 peserta]
  • 7 Oktober 2019, di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya [40 peserta]

Saya berterima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam pelaksanaan program ini.

Kronik Kemunculan dan Kejayaan Coronavirus

23 Juni 2020 | 18.30 | Zoom webinar
Gratis | Reservasi: Zoom

Beberapa tahun terakhir ini, kita menyaksikan jumlah kasus epidemi virus berlipat ganda, serta munculnya virus-virus baru yang menginfeksi manusia. Selain besarnya sorotan media akan kasus-kasus epidemi ini, ada beberapa faktor lain yang bisa menjelaskan mengapa fenomena kemunculan epidemi ini berlipat ganda, serta kesuksesan beberapa tipe virus. Untuk itu diperlukan virus yang kompeten, inang yang reseptif, kondisi lingkungan yang mendukung pertemuan keduanya, juga persistensi virus tersebut. Coronavirus adalah tipe virus yang karakteristiknya berpotensi membuatnya juara dalam memunculkan epidemi. Tidak hanya banyak ditemukan pada hewan, Coronavirus juga banyak menginfeksi manusia.

 

Dalam masa pandemi Covid-19 ini, sebuah webinar mengenai virus-virus yang luar biasa ini hendak diselenggarakan.

 

Profil pembicara:

 

Thomas Mourez adalah Atase Kerja Sama Kesehatan dan Pembangunan Sosial di Kedutaan Prancis di Vietnam.

Sebelumnya, ia adalah dosen di Universités-Praticien Hospitalier di Fakultas Kedokteran dan Rumah Sakit Rouen, peneliti untuk Kelompok Riset Adaptasi Mikroba (Groupe de recherche sur l’adaptation microbienne/GRAM 2.0), anggota tim peneliti spesialis adaptasi virus-virus binatang di tubuh manusia, serta anggota Dewan Universitas Nasional (Conseil National des Universités/CNU; seksi 45).

Sebagai spesialis virologi kesehatan, sejak 2001 ia mulai meneliti tentang infeksi pernapasan yang disebabkan oleh coronavirus. Riset-risetnya mengenai coronavirus telah dikutip sebanyak hampir 500 kali dalam kajian-kajian ilmiah internasional. Beberapa tahun setelahnya, ia memulai spesialisasinya dalam bidang HIV dan hepatitis di beberapa rumah sakit besar di Paris dan Cina. Pada tahun 2007, ia bergabung dengan Badan Riset Nasional untuk AIDS dan Hepatitis (Agence Nationale de Recherche sur le Sida et les hépatites virales/ANRS). Kemudian pada akhir tahun 2008, ia bergabung dengan Universitas Paris Diderot dan Institut Pasteur de Paris, membantu Frédéric Tangy di bagian Genomika Virus dan Vaksinasi dan mengerjakan disertasinya di sana.

Ia telah menulis sekitar 30 artikel yang diterbitkan di berbagai surat kabar internasional (18 di antaranya untuk pembaca tingkat A dan B), belasan artikel pendidikan frankofon dalam bidang kesehatan, serta sering menjadi pembicara dalam berbagai konferensi tingkat nasional dan internasional. Ia adalah juga Kepada Redaksi Traité de Virologie Médicale (800 halaman, terbitan SFM), jurnal berbahasa Prancis yang dijadikan referensi virologi.

Thomas Mourez bergelar doktor di bidang farmasi dan sains, serta memiliki gelar akademik di bidang pedagogi kesehatan.

Bagaimana Virus Korona Membangkitkan Kecerdasan Kolektif Dunia

Ditulis oleh Marc Santolini, salah satu Pendiri dan Direktur Riset Just One Giant Lab, Universitas Paris

Di seluruh penjuru dunia, para ahli epidemiologi, praktisi, insinyur, dan masih banyak lagi, tanpa kenal lelah mendayagunakan keberlimpahan data epidemi virus korona untuk membuat model kemajuannya, memprediksi dampak dari intervensi yang mungkin dilakukan, serta mengembangkan berbagai solusi untuk menyiasati kekurangan peralatan medis.

Mereka membuat berbagai model dan kode terbuka yang bisa dan boleh dipergunakan oleh laboratorium lain.

Dunia riset dan inovasi nampaknya sedang tenggelam dalam hiruk-pikuk kolaborasi dan produksi pengetahuan bersama yang daya tularnya sama hebatnya dengan virus korona.

Mungkinkah ini yang disebut dengan “kecerdasan kolektif”, konsep terkenal yang digadang-gadang bisa memecahkan masalah-masalah pokok planet kita?

 


Sains, sebuah jaringan yang dibangun di pundak para raksasa

 

Pada tahun 1675, Newton telah menuliskannya: “Jika jarak pandangku bisa lebih jauh, itu karena aku berdiri di pundak para raksasa.”


Sejak saat itu, pengakuan terhadap konsep kecerdasan kolektif tersebut telah menjadi standar dalam praktik penelitian ilmiah. Dalam dunia sains dan ilmu teknik saat ini, 90% terbitan ilmiah ditulis secara berkelompok.


Tiga dasawarsa terakhir, kemunculan internet dan kemudia media sosial telah mengacaukan batasan-batasan tradisional tentang kecerdasan kolektif: mulai dari masyarakat “ilmuwan” yang eksklusif, tidak transparannya sistem peninjauan oleh rekan sejawat, hingga jurnal ilmiah yang hanya bisa diakses secara berbayar.


Dunia penelitian akademik mengalami kemudahan teknologi dan keterbukaan informasi yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang memudahkan para pelaku dari latar belakang yang sedemikian beragam berinteraksi secara langsung dan merata. Kini, kita menyaksikan pesatnya peningkatan jumlah jurnal ilmiah yang dapat diakses secara terbuka, serta situs-situs arsip artikel ilmiah.


Di luar sistem akademik, berbagai komunitas non lembaga juga bermunculan. Para peretas, peretasbio, bahkan makers secara mandiri mengorganisasi diri mereka dalam jaringan dan berpartisipasi dalam ikhtiar produksi pengetahuan bersama. “Tanah subur” inilah yang melahirkan respons yang belum pernah ada sebelumnya ketika kita menghadapi krisis akibat Covid-19.

 

 

Covid-19 membangkitkan kecerdasan kolektif

 

Pada awal epidemi, kita dapat menyaksikan bagaimana penelitian “tradisional” mengalami percepatan dan berkenan membuka hasil penelitiannya kepada publik. Berbagai jurnal bergengsi seperti Science, Nature, bahkan The Lancet yang biasanya memberlakukan akses berbayar untuk artikel-artikel ilmiah mereka, kini memberikan akses cuma-cuma kepada publik yang ingin membaca terbitan mereka tentang virus korona dan Covid-19.


Data-data mengenai perkembangan epidemi ini diperbaharui setiap hari. Data yang disajikan Universitas John Hopkins, misalnya, adalah buah dari kerja terbuka dan kolaboratif yang telah diguna ulang sebanyak hampir 9 ribu kali di platform kolaborasi GitHub oleh berbagai proyek penelitian pihak ketiga.


Berbagai hasil analisis dipublikasi secepat-cepatnya di sejumlah server prapublikasi yang dapat diakses bebas atau bahkan di situs-situs web laboratorium. Algoritma dan visualisasi interaktif diunggah di GitHub, sedangkan video-video edukasi dengan bahasa yang mudah dipahami diunggah di Youtube.


Angkanya sungguh mencengangkan. Hingga hari ini ada lebih dari 45 ribu artikel akademik mengenai Covid-19 yang telah dipublikasi.


Baru-baru ini, sejumlah inisiatif masyarakat non lembaga yang terdiri dari para pelaku dengan latar belakang berbeda mulai bermunculan; mereka menggunakan berbagai platform daring. Misalnya, sebuah komunitas ahli biologi, insinyur, dan pengembang terbentuk di platform Just One Giant Lab (JOGL). Mereka mengembangkan berbagai alat berbiaya murah dan bersumber terbuka untuk mengatasi virus korona. Platform yang kami rancang bersama Léo Blondel (Harvard) dan Thomas Landrain (La Paillasse, PILI) sejak tiga tahun terakhir ini, bertujuan untuk menjadi sebuah pusat riset virtual, terbuka, dan terdistribusi di seluruh dunia.


Platform Just One Giant Lab memungkinkan berbagai komunitas untuk mengatur kinerja mereka secara mandiri guna memberikan solusi yang inovatif untuk berbagai permasalahan mendesak yang membutuhkan kompetensi interdisipliner dan pengetahuan lapangan. Platform ini berperan sebagai fasilitator yang mempermudah koordinasi dengan cara menghubungkan kebutuhan dengan sumber dayanya di tengah masyarakat, dan mengorganisasi program-program penelitian serta tantangannya.


Khususnya, penggunaan sistem rekomendasi yang memungkinkan terjadinya pemilahan informasi agar para kontributor dapat mengikuti jalannya aktivitas dan mengetahui kebutuhan-kebutuhan terpenting komunitasnya – dengan melenturkan mekanisme kolaborasi yang mempermudah kinerja kecerdasan kolektif. 


Saat proyek Covid-19 pertama lahir empat minggu yang lalu – berupa tes diagnosis bersumber terbuka dan berbiaya rendah –, ada kesibukan yang nyata di platform ini. Jumlah kontribusi meningkat setiap menitnya: ratusan interaksi, inisiasi proyek, diskusi, dsb. Sampai-sampai server yang kami gunakan tidak kuat menampungnya! Hanya dalam waktu satu bulan ada lebih dari 60 ribu pengunjung yang berasal dari 183 negara; 3 ribu di antaranya adalah kontributor aktif yang menelurkan 90 proyek, mulai dari desain masker pelindung hingga prototipe ventilator berbiaya rendah.


Komunitas masif ini dengan cepatnya mengatur diri secara mandiri untuk bekerja dalam sub-subkelompok yang para anggotanya memiliki bermacam kompetensi dan membentuk semestanya sendiri: data scientist dari perusahaan-perusahaan besar, antropolog, insinyur, dan ahli biologi, semuanya bahu-membahu bekerja di ruang kerja virtual ini.


Anggota paling aktif yang menjadi koordinator komunitas ini adalah seorang siswa SMA berusia 17 tahun dari Seattle! Inisiatif ini kini telah menjadi sebuah program penelitian seutuhnya, bernama OpenCOVID19, dengan pendanaan sebesar 100 ribu euro dari Axa Research Fund yang diperuntukkan bagi proyek-proyek yang dikembangkan sesuai rekomendasi komunitas, bekerja sama dengan AP-HP untuk mempermudah evaluasi dan validasi desain-desain peralatan kesehatan, serta berbagai hal pokok lainnya: diagnostik, pencegahan, perawatan, dan bahkan analisis data serta pemodelan.




Peta klaster kompetensi para partisipan platform JOGL pada proyek Covid-19 dan interaksi mereka.

Marc Santolini, JOGL, CRI, penulis artikel.

 

Pengorganisasian mandiri komunitas-komunitas tersebut telah menjadi hak prerogatif dunia sumber terbuka (open-source) dan induk dari berbagai proyek masif, seperti Linux. Model kerja mereka kini kian terlihat perannya dalam penyelesaian masalah-masalah global dan multidisiplin, yaitu dengan mendayagunakan keragaman kompetensi untuk menyelesaikan berbagai masalah kompleks.

 

 

Apakah yang dimaksud dengan kecerdasan kolektif?

 

Bila kita bisa mengukur kecerdasan individu melalui serangkaian tes kecerdasan yang dengannya kita dapat menentukan nilai IQ seseorang, mengapa kita tidak bisa mengukur kecerdasan sebuah kelompok melalui tes kecerdasan kolektif?


Pada tahun 2010 sejumlah peneliti menunjukkan keberadaan “faktor kunci” kecerdasan kolektif yang bisa memprediksi kinerja suatu kelompok dalam menyelesaikan beragam tugas.


Agar suatu kelompok dapat memaksimalkan kecerdasan kolektifnya, kelompok tersebut tidak harus berisikan orang-orang dengan IQ tinggi. Terpenting adalah kepekaan sosial para anggotanya. Artinya, kemampuan mereka untuk berinteraksi secara efektif dan berkomunikasi secara sehat, atau bahkan keragaman dalam komposisi para anggotanya, terutama proporsi perempuan dalam kelompok mereka.


Dengan kata lain, sebuah kelompok yang cerdas bukanlah kelompok yang terdiri dari individu-individu cerdas, tetapi kelompok yang berisikan individu-individu beragam yang tahu caranya berinteraksi dengan benar. Dan kami, para pendiri JOGL, menyimpulkan: “Sepertinya lebih mudah untuk meningkatkan kecerdasan kolektif sebuah kelompok ketimbang kecerdasan individu. Pertanyaan selanjutnya adalah: dapatkah kita meningkatkan kecerdasan kolektif tersebut, misalnya, dengan membuat sebuah alat kolaborasi daring?”


Itulah visi kami saat membuat platform JOGL, yaitu dapat mengukur perkembangan komunitas dan progres berbagai proyek kerja dalam waktu nyata, yang memungkinkan terbentuknya koordinasi yang lebih baik untuk pelaksanaan berbagai program, salah satunya tentu saja Covid-19.


Data-data ini juga menawarkan tolok ukur kuantitatif “tata laksana yang baik” yang memfasilitasi kecerdasan kolektif dan mendorong kemajuan penelitian-penelitian mendasar mengenai seluruh kolaborasi yang kami lakukan dalam tim penelitian saya di Pusat Penelitian Interdisipliner Paris. Bahkan, dengan menggunakan alat-alat ilmu jaringan, kami dapat mempelajari bagaimana dinamika kolaboratif ini mendukung kemajuan pengetahuan.

 

 

Antusiasme sesaat atau pergerakan berkelanjutan?

 

Bagaimana revolusi ini dapat bertahan? Bila ada pelajaran yang bisa kita ambil dari “hackaton”, acara kolaborasi pengembangan proyek perangkat lunak yang menggunakan prinsip kecerdasan kolektif untuk melahirkan berbagai proyek hanya dalam satu atau dua hari, kesulitannya adalah bagaimana caranya agar proyek-proyek tersebut tetap berkelanjutan setelah kemeriahan acara tersebut selesai.


Meskipun terlalu cepat bila kita menyimpulkan hal ini sekarang – dalam kasus OpenCOVID19 –, ada beberapa cara untuk melanggengkan masa depan gerakan kolaborasi masif seperti ini.


Sebuah kesamaan dari komunitas-komunitas yang cepat kilat pertumbuhannya adalah mereka rentan bingung! Siapa yang harus dihubungi untuk menyelesaikan masalah ini dan itu, atau siapa yang bisa menjawab pertanyaan ini dan itu? Solusinya adalah merumuskan “skema minat” yang bisa memandu para partisipan menuju klaster yang sesuai dengan bakat mereka, sehingga mereka bisa bekerja maksimal untuk perkembangan suatu proyek. Dalam istilah lain: sistem rekomendasi, algoritma yang sama yang sukses dipakai oleh berbagai media sosial, seperti Twitter, Instagram, dan Facebook, sistem yang menjadi cikal bakal komunitas-komunitas tersebut.


Metode tersebut – yang dibuat berdasarkan prinsip-prinsip ilmu manajemen kelompok dan ilmu jaringan – bekerja dengan cara melacak jejak-jejak digital para anggota komunitas (interaksi, diskusi, proyek yang telah direalisasikan, kompetensi) untuk mendapatkan gambaran dalam arus aktivitas: siapa orang yang harus dihubungi, proyek mendesak mana yang perlu dibantu, atau bahkan tugas apa yang paling masuk akal untuk dilakukan selanjutnya.


Di jantung struktur JOGL, algoritma seperti itu juga memungkinkan terjadinya pertemuan-pertemuan acak yang secara tak terduga justru bermanfaat untuk pengembangan sebuah proyek.


Pengembangan algoritma rekomendasi yang mempermudah terbentuknya kolaborasi-kolaborasi masif tersebut membutuhkan kontribusi berbagai disiplin ilmu, mulai dari informatika, matematika, etika hingga ilmu sosial. Pada akhirnya, masa depan kecerdasan kolektif bertumpu pada dirinya sendiri. Sebab, hanya kecerdasan kolektiflah yang bisa menentukan masa depannya sendiri.


Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh The Conversation France. Klik di sini untuk membaca versi aslinya. 

Rekonfigurasi Islam Abad ke-17 di Nusantara: Menyoal Kembali Ortodoksi

26 Februari 2020 | 17.30 | IFI Thamrin
Gratis | Reservasi: 
Eventbrite

Pada abad ke-15 dan ke-16, Islam berkembang dengan pesat di kawasan Nusantara (Asia Tenggara Maritim).

Pada akhir abad ke-16, sebagai dampak dari perluasan kesultanan yang berlangsung cepat serta hubungan antar samudra yang semakin erat dengan dunia Muslim lainnya, perubahan yang signifikan terjadi di kawasan ini. Pada masa itu, pemikiran Islam di Asia Tenggara, yang mencakup risalah politik dan hukum mengenai laut dan kedaulatan, mencerminkan penerimaan dinamis dari teks modern awal dan gagasan dari mancanegara. Hubungan dengan wilayah kekuasaan Imperium Usmani dan Mughal telah memperkuat susunan Islam Sunni di kawasan ini yang sebelumnya dianggap sebagai sesuatu yang tidak pasti. Perpecahan politik di Aceh yang terjadi setelah wafatnya penguasa dan pelindung sufisme filosofis, Sultan Iskandar Muda (1607-1636) telah mempengaruhi ranah sosial dan agama di kawasan Nusantara sepanjang tahun 1630 dan 1640.

Menanggapi kebingungan pada masyarakat luas dan pentingnya mendefinisikan pemurtadan, telah dilakukan usaha-usaha untuk menyimpulkan suatu bentuk ortodoksi Sunni, yang pada gilirannya akan menjadi inspirasi bagi identitas keislaman di dunia Melayu. Kaum intelektual Asia Tenggara, penguasa serta para kalangan terpelajar dengan spontan telah membawa otoritas keagamaan khususnya di jazirah Arab-Usmani ke dalam ruang perdebatan ini. Otoritas keagamaan tersebut sebagian besar berada di tangan penduduk asing (non-Arabia atau al-Mujawirun) dan memberikan suatu penafsiran ulang pada teks yang mengangkat—menyerupai pemikiran Aristoteles “Golden Mean”—pemikiran Islam jalan tengah.

Dengan latar belakang ini, maka presentasi ini bertujuan untuk memberikan sebuah pencerahan baru mengenai dimensi global Islam di wilayah Nusantara pada abad ke-17. 

Pembicara

Zacky Khairul Umam mempelajari budaya Islam dan Timur Tengah pramodern dan kontemporer di Jakarta, Canberra dan Istanbul sebelum pindah ke Berlin sebagai doktor di Berlin Graduate School of Muslim Cultures and Societies, Free University of Berlin. Saat ini penelitiannya berfokus pada sejarah kebudayaan dan intelektual Islam pramodern, termasuk Kesultanan Utsmaniyah dan Asia Tenggara. Pemikirannya sejak awal menempuh pendidikan tinggi telah diterbitkan di bebagai media ternama di Indonesia. Zacky Khairul Umam adalah peneliti tamu di Ecole Française d’Extrême-Orient Jakarta dan anggota Abdurrahman Wahid Center for Peace and Humanities, Universitas Indonesia.

Jika Anda melewati salah satu seminar dari seri Hommes, Territoires,Sociétés, Anda dapat menontonnya di Kanal Youtube kami.