Edisi Ke-4 Tesis Saya Dalam 180 Detik

Kompetisi MT 180 Indonesia edisi ke-4 diadakan pada tanggal 1 November 2019, di Universitas Hasanuddin (UNHAS), Makasar. Bersamaan dengan itu digelar kongres kerja sama Prancis-Indonesia untuk bidang ilmu pengetahuan. Peserta kompetisi yang berjumlah 8 orang, maju secara bergilirian ke panggung amfiteater Mattulada untuk memperdengarkan bahasan tesis mereka kepada para hadirin awam selama 180 detik. Di hadapan para juri yang terdiri dari orang-orang Prancis dan Indonesia, para peneliti muda itu mampu menyampaikan perihal penelitian mereka dengan bakat yang mereka miliki dan keterbatasan sarana yaitu hanya dengan 1 slide, tanpa satupun gambar dan terlebih lagi mereka harus menyampaikannya dalam bahasa Prancis.

Persiapan para peserta kompetisi

Para peserta telah mengikuti sesi bimbingan sebelum acara. Sesuai dengan kebutuhan, mereka diberikan kursus bahasa Prancis selama 3 bulan di IFI atau di Alliances françaises di daerah tempat tinggal masing-masing (Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Bandung, Bali). Selain itu, mereka berhak mendapat bimbingan langsung dari pemenang kompetisi tahun 2017, Maya Puspita.

Berbagai jenis pelatihan dilakukan beberapa kali:

  1. Tahap pertama adalah bagaimana mengadaptasikan isi dari presentasi ilmiah dengan pendengar yang awam. Para peserta harus yakin dengan kemampuan akan hal tersebut .
  2. Tahap kedua adalah penulisan teks dalam bahasa Prancis. Dengan bantuan pengajar IFI, para peserta mempelajari kosa kata dan tata bahasa yang diperlukan untuk karya mereka
  3. Tahap ketiga adalah latihan penyampaian secara lisan pada saat menjelang acara. Dengan demikian para peserta dapat melatih pelafalan, mengatur irama berbicara dan menyesuaikan pokok bahasan presentasi mereka.
  4. Tahap terkahir adalah persiapan yang dilakukan sehari sebelum dan pada hari acara serta melatih agar para peserta fokus pada presentasi mereka.

Ketika acara berlangsung, para peserta presentasi disambut dengan rasa antusias oleh para hadirin. Mereka menilai kemampuan bahasa Prancis para peserta sangat baik dan bahasan yang disampaikan pada umumnya sangat dimengerti oleh para hadirin awam. Pujian pun diberikan kepada para peserta.

Para pemenang kompetisi:

  • Pemenang pertama: Mahdi MUBAROK, Université de Lorraine.

Subjek: “Valorisastion du bois de hêtre par le développement des traitements de modification chimique innovants et respectueux de l’environnement”.

  • Pemenang kedua: Natasha Erinda Putri MONIAGA, Universitas Udayana.

Subjek: “La communication de la signification et du mythe de la marque “Bali , the Island of Gods” dans la promotion du tourisme sur les réseaux sociaux”.

  • Pemenang ketiga: Bachtiar MUTAQIN, Paris I Panthéon Sorbonne.

Subjek: “ Impacts géomorphiques de l’éruption du Samalas en 1257 lle long du détroit d’Alas, Nusa Tenggara Ouest, Indonésie.”

Daftar peserta kompetisi:

  1. I Dewa Made Frendika Septanaya – Lettres Sorbonne Université
  2. Gara Samara Brajadenta – Université de Poitiers
  3. Bachtiar Wahyu Mutaqin – Paris I Panthéon Sorbonne
  4. Edvia Gracia Ardani – Postgraduate School of Sahid Jakarta
  5. Mahdi Mubarok – Université de Lorraine
  6. Tri Kusnawati – Universitas Negri Jakarta
  7. Natasha Erinda Putri Moniaga – Universitas Udayana
  8. Pipit Anggraeni – Université Polytechnique des Hauts de France
                        1.  

Para Juri

Dipimpin oleh Bapak Stéphane Dovert, konselor kerja sama dan kegiatan budaya di IFI Jakarta yang anggotanya:

  • Bapak Mardi Adi Armin, dosen literatur Prancis UNHAS
  • Bapak Benoit Bavouset, Direktur IFI Surabaya
  • Bapak Jean-Marie Pincemin, Konselor di bidang penelitian internasional dari Université de Poitiers.

Penyelenggaraan Kelompok Kerja Bersama Indonesia – Prancis Ke-11 Di Bidang Pendidikan Tinggi, Penelitian, Inovasi dan Kewirausahaan

Institut Prancis di Indonesia (IFI) – Kedutaan Besar Prancis di Indonesia bekerja sama dengan Kementerian Riset, Teknologi dan Badan Riset Inovasi Republik Indonesia (Kemristek/BRIN) menggelar Kongres Kerja Sama Indonesia-Prancis (Joint Working Group) dan Kompetisi MT180 diadakan di kampus Universitas Hasanuddin, Makassar, pada 30 Oktober sampai dengan 1 November 2019.

Acara dibuka oleh Menteri Ristek/BRIN Republik Indonesia Bapak Bambang Brodjonegoro, Duta Besar Prancis untuk Indonesia Bapak Olivier Chambard serta Rektor Universitas Hasanuddin Makassar Ibu Dwia Aries Tina Pulubuhu serta dihadiri oleh 182 perwakilan universitas Prancis dan Indonesia serta peneliti muda dari kedua negara.

Gubernur Sulawesi Selatan, Bapak Nurdin Abdullah berkesempatan menerima kedatangan delegasi Indonesia dan Prancis di Makassar melalui acara makan malam di Rumah Jabatan Gubernur sehari sebelum acara berlangsung.

Rangkaian acara terdiri dari kuliah umum, penampilan teater sains “Binôme” dari kelompok seniman Prancis Les sens des mots dan lokakarya dengan 7 tematik: ketahanan pangan dan pertanian, kesehatan dan kedokteran; teknik dan energi (energi alternatif dan terbaharukan); teknologi informatika dan komunikasi; ilmu sosial dan humaniora (hukum, politik, pariwisata, ekonomi); ekologi, manajemen lingkungan dan ilmu maritim serta kelautan; konsorsium manajemen energi Indonesia – Prancis (FICEM).

Turut terselenggara final kompetisi Disertasiku dalam 3 Menit (MT180) di mana para kandidat mempresentasikan hasil riset S3 mereka dalam waktu tiga menit menggunakan bahasa Prancis di hadapan panel juri yang terdiri dari Konselor Kerja Sama Kedubes Prancis Stephane Dovert, Direktur IFI Surabaya Benoit Bavouset, Pengajar Sastra Prancis Unhas Mardi Armin, Wakil Kepala Pemberdayaan Manusia Ristek/BRIN Adhi Putranto dan Kepala Riset Internasional Universitas Poitiers Jean-Marie Pincemin.

Keluar sebagai pemenang MT180 tahun ini, Mahdi Mubarok, mahasiswa pasca doktoral Universitas Lorraine, Prancis, dengan riset berjudul “Valorization of European Beech through Development of Innovative and Environmentally Friendly Chemical Modification Treatment” yang bertujuan meningkatkan stabilitas dimensi dan daya tahan kayu melalui teknik ramah lingkungan yang telah diterapkan di Eropa.

Selain menjadi ajang temu para aktor di bidang pendidikan tinggi dan riset, Kongres Kerja Sama Indonesia–Prancis yang ke–11 ini juga menjadi jembatan untuk memperkokoh kerja sama bilateral antara Indonesia dan Prancis yang memasuki tahun ke-70 di tahun 2020 mendatang.

Selama berlangsungnya Kongres Kerja Sama ini para peserta membangun jejaring kerja sama baru terutama terkait kesepakatan antar universitas dalam bentuk diploma ganda, mobilitas dosen dan mahasiswa, proyek pendanaan riset dan transfer teknologi yang akan menjadi agenda baru untuk Kongres Kerja Sama edisi ke-12.

Pemerintah Prancis melalui IFI berkomitmen pada pengembangan pendidikan tinggi, riset dan teknologi di Indonesia melalui berbagai bentuk kerja sama dengan Kementerian Riset/BRIN dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia serta institusi pendidikan tinggi dan lembaga penelitian kedua negara.

Sampai bertemu di perayaan 70 tahun kerja sama Indonesia – Prancis tahun depan!

Pekan Diplomasi Iklim Uni Eropa di IFI

Dalam rangka Pekan Diplomasi Iklim Uni Eropa yang diselenggarakan di Jakarta dari tanggal 23 September sampai 6 Oktober 2019, Institut Prancis Indonesia memperoleh kesempatan untuk melaksanakan dua acara. Pertama, meja bundar. Pada forum ini Ludovic Maria, Atase bidang Ekonomi, Lingkungan dan Energi dari Kedutaan Besar Prancis dan Emmanuel Baudran, Country Director of French Development Agency kembali membahas tentang langkah-langkah yang telah direalisasikan oleh Prancis sejak konperensi bersejarah COP21, baik di dalam negri Prancis sendiri, dengan rencana nasional energi-iklim, juga di negara-negara yang sedang berkembang, dimana Prancis menawarkan bantuan teknis dan finansial dalam melaksanakan transisi rendah karbon.

Kedua, penutupan acara. Acara Pekan akan ditutup juga di IFI dengan pemutaran film ”Qu’est-ce qu’on attend”, sebuah film dokumenter yang mengisahkan kehidupan 2200 penduduk sebuah kota kecil di Prancis (Alsace). Mereka mengambil langkah untuk memulai cara hidup transisi ekologis, dengan tujuan untuk mengurangi kerusakan ekologi di masyarakat perkotaan Prancis.

Secara khusus, untuk acara “Pekan” tahun ini, kaum muda Indonesia dapat mengemukakan kesan-kesan mereka dan melakukan temu wicara secara langsung dengan para aktor Diplomasi iklim Prancis dan Eropa, agar bersama-sama memikirkan bagaimana komitmen politik dapat dilaksanakan di diri masing-masing secara maksimal.

BUKU BESAR KERJA SAMA ILMIAH: MENILIK 41 TAHUN RIWAYAT RISET BERSAMA INDONESIA-PRANCIS

Eratnya kerja sama ilmiah antara Indonesia dan Perancis tergambardalam Buku Besar Kerja Sama Ilmiah yang merangkum 104 riset bersama olehpeneliti kedua negara sejak 1977 hingga saat ini. Menggali isu-isu yang palingrelevan dengan situasi dan kondisi di Indonesia, kumpulan rangkuman riset initerbagi ke dalam tujuh topik: lingkungan, ilmu sosial dan humaniora,pertanian, ilmu informatika dan komunikasi, kesehatan, dan energi. Topik-topik ini juga dapat ditelusuri menurutperiode saat penelitian berlangsung.

 

Riset-riset yang tersaji dalam buku ini mencoba menciptakanberbagai dampak positif dalam berbagai bidang. Beberapa riset berfokus padapencarian sumber energi alternatif terbarukan, penanggulangan dampakperubahan iklim, serta pengelolaan sumber daya alam yang efisien. Beberapa yanglain menggali tentang kekayaan budaya dan sejarah Indonesia serta keunikanmasyarakatnya.

 

Lebih dari sekadar memorabilia, buku ini dirancang untukmenghubungkan kalangan akademis Indonesia dan Prancis, baik satu sama lain maupundengan berbagai pihak yang berpotensi terlibat dalam penelitian mereka. Untukitu, Buku Besar Kerja Sama Ilmiah ini juga menampilkan informasi tentangpeneliti, lembaga, dan mitra yang turut berkontribusi, lengkap beserta kontakyang dapat dihubungi. Selain itu, buku ini juga memuat informasi penyandangdana yang berpotensi membantu kelangsungan penelitian bersama kedua negara dimasa mendatang.

 

Disusun oleh Institut Prancis di Indonesia atas dukungan penuhdari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia,buku ini turut menjadi wujud apresiasi kepada segenap pihak yang telahberkontribusi bagi kemajuan kerja sama ilmiah antara Indonesia dan Perancis.Untuk itu, peluncuran Buku Besar Kerja Sama Ilmiah ini mengambil tempat bersamaandengan perhelatan Kelompok Kerja Bersama Indonesia Perancis ke-10.  Acara yang dihadiri lebih dari 200 pesertaini diselenggarakan pada 26-28 Juli 2018 lalu di Palaisdes Congrès du Futuroscope, Poitiers, Prancis.

Kelompok Kerja Bersama Indonesia-Prancis Ke-10

26 – 28 Juli 2018

Futuroscope de Poitiers

Angka Penting :

Edisi ke-10
200 partisipan
6 lokakarya tematis
300 eksemplar Buku Besar Kerja Sama didistribusikan

Sekitar 200 orang menghadiri pembukaan Kelompok Kerja Bersama Indonesia-Prancis di Bidang Universitas dan Saintifik ke-10 yang diselenggarakan pada 26 Juni 2018 di Palais des Congrès du Futuroscope, Poitiers, Prancis.

Sebagai tempat berbagi dan berdiskusi, pertemuan ini merupakan kesempatan bagi para perwakilan lembaga-lembaga dan pelaku di bidang pendidikan, riset, dan inovasi untuk mengembangkan kolaborasi yang telah ada dan merancang kerja sama-kerja sama baru selanjutnya. Kelompok Kerja Bersama 2018 ini adalah juga kesempatan untuk memaparkan laporan hasil kerja selama 10 tahun terakhir ini; menguatkan hubungan bilateral Indonesia-Prancis di sektor pendidikan tinggi, riset, dan inovasi; mengidentifikasi prioritas dan tahap-tahap kegiatan dan program di masa depan; serta merancang orientasi kerja sama selanjutnya.

Edisi 1 dasawarsa ini membahas tidak hanya aspek metodologis kerja sama (mobilitas pengajar dan mahasiswa, kesepakatan antaruniversitas, sistem beasiswa, diploma ganda, proyek riset bersama), namun juga tema-tema penelitian. Pertemuan ini menyoroti juga sebuah aspek penting lainnya, yaitu proses peningkatan kualitas penelitian, transfer teknologi, inovasi, dan pengembangan ekonomi.

Momen-Momen Penting

Kelompok Kerja Bersama ini dibuka dengansebuah seremoni yang dipimpin oleh Loïc Vaillant, Presiden ComUE Léonard deVinci sebagai penyelenggara kegiatan, serta dihadiri oleh Jean-CharlesBerthonnet, Duta Besar Prancis untuk Indonesia, dan Hotmangaradja Pandjaitan,Duta Besar Indonesia untuk Prancis.

Acara kemudian dilanjutkan dengan lima rapat pleno yang memberikan kesempatan kepada para peserta untuk melihat visi bersamadan berdiskusi mengenai kebijakan dan sistem invasi di Prancis dan diIndonesia. Para pembicara selain memaparkan kondisi kerja sama saintifik danuniversitas antara Prancis dan Indonesia, serta program-program pembiayaanbaru, juga memformulasikan orientasi kerja sama ke depannya.

Setelah itu, digelar final kompetisi Ma Thèse en 180 Secondes (MT180) Indonesia. Kesembilan finalis saling berhadapan. Mereka diberikan waktu selama 3 menituntuk mempresentasikan subjek disertasi mereka dengan cara yang menarik danmeyakinkan. Siapa saja kesembilan finalis tersebut ? Lihat profil merekadi sini.

Rabu, 27 Juni, para partisipan mendapatkan banyakkesempatan untuk saling berbincang dan bertukar informasi (melaluiposter-poster atau saat “projects dating”), serta membangun hubungankemitraan yang selanjutnya dikonkretkan dalam 6 lokakarya tematis (KetahananPangan dan Pertanian, Kesehatan dan Kedokteran, Energi, Teknologi Informasi danKomunikasi, Ilmu Sosial dan Humaniora, serta Ilmu Kelauran dan Maritim).Lokakarya-lokakarya tersebut dirancang dengan pendekatan lintas sektoral agardapat menyentuh semua aspek penelitian di perguruan tinggi, serta prosesinovasi dan transfer teknologi di berbagai bidang keilmuan.

Kegiatan ini kemudian ditutup dengan kunjunganke beberapa laboratorium unggulan, di antaranya PPrime, XLIM, IPAM, dan SPCTS.

Sejak edisi pertamanya pada 2008, KelompokKerja Bersama Prancis-Indonesia telah mampu mendapatkan visibilitas danpubliknya. Hal tersebut selain mencerminkan kondisi kerja sama antarakedua negara kita yang terus menguat seiring waktu berjalan, juga proyek-proyekkerja sama yang tengah berjalan. Untuk itulah Buku Besar Kerja Sama Saintifikdiluncurkan pada kesempatan ini. Buku tersebut merangkumkeberhasilan-keberhasilan bersama, serta menjadi sebuah sumber inspirasitersendiri untuk membaca apa yang sedang terjadi, sehingga kita dapatmenyiasati pendekatan dan pemilihan mitra-mitra kerja secara lebih baik lagi.

Para Penyelenggara

Kelompok Kerja Bersama Prancis-Indonesiadiselenggarakan setiap tahunnya secara bergantian di Prancis dan di Indonesia.Sebagai ajang kerja sama prioritas antara kedua negara sejak 2008, KelompokKerja Bersama ke-10 ini tahun ini digelar di Poitiers, Prancis. Kegiatan inidiselenggarakan secara bersama-sama oleh ComUE Léonard de Vinci, InstitutPrancis di Indonesia (IFI), Kementerian Riset, Teknologi, dan Perguruan TinggiRI, Kedutaan Besar Prancis di Indonesia, serta Kedutaan Besar Indonesia diPrancis.

Siaran pers kegiatan ini dapat diunduh di sini.