BUKU BESAR KERJA SAMA ILMIAH: MENILIK 41 TAHUN RIWAYAT RISET BERSAMA INDONESIA-PRANCIS

Eratnya kerja sama ilmiah antara Indonesia dan Perancis tergambardalam Buku Besar Kerja Sama Ilmiah yang merangkum 104 riset bersama olehpeneliti kedua negara sejak 1977 hingga saat ini. Menggali isu-isu yang palingrelevan dengan situasi dan kondisi di Indonesia, kumpulan rangkuman riset initerbagi ke dalam tujuh topik: lingkungan, ilmu sosial dan humaniora,pertanian, ilmu informatika dan komunikasi, kesehatan, dan energi. Topik-topik ini juga dapat ditelusuri menurutperiode saat penelitian berlangsung.

 

Riset-riset yang tersaji dalam buku ini mencoba menciptakanberbagai dampak positif dalam berbagai bidang. Beberapa riset berfokus padapencarian sumber energi alternatif terbarukan, penanggulangan dampakperubahan iklim, serta pengelolaan sumber daya alam yang efisien. Beberapa yanglain menggali tentang kekayaan budaya dan sejarah Indonesia serta keunikanmasyarakatnya.

 

Lebih dari sekadar memorabilia, buku ini dirancang untukmenghubungkan kalangan akademis Indonesia dan Prancis, baik satu sama lain maupundengan berbagai pihak yang berpotensi terlibat dalam penelitian mereka. Untukitu, Buku Besar Kerja Sama Ilmiah ini juga menampilkan informasi tentangpeneliti, lembaga, dan mitra yang turut berkontribusi, lengkap beserta kontakyang dapat dihubungi. Selain itu, buku ini juga memuat informasi penyandangdana yang berpotensi membantu kelangsungan penelitian bersama kedua negara dimasa mendatang.

 

Disusun oleh Institut Prancis di Indonesia atas dukungan penuhdari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia,buku ini turut menjadi wujud apresiasi kepada segenap pihak yang telahberkontribusi bagi kemajuan kerja sama ilmiah antara Indonesia dan Perancis.Untuk itu, peluncuran Buku Besar Kerja Sama Ilmiah ini mengambil tempat bersamaandengan perhelatan Kelompok Kerja Bersama Indonesia Perancis ke-10.  Acara yang dihadiri lebih dari 200 pesertaini diselenggarakan pada 26-28 Juli 2018 lalu di Palaisdes Congrès du Futuroscope, Poitiers, Prancis.

ROMAN GOENARJO

Sebelum datang ke Prancis, Roman GOENARJO, mahasiswa S3 di prodi STAPS-ED jurusan biologi kesehatan, adalah pengajar di Universitas Indonesia. Ia kemudian mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Indonesia yang mendorong para pengajar untuk melanjutkan pendidikan tinggi mereka di luar negeri.

Pada 2015, pascakunjungan Gérarg Mauco, profesor di Universitas Poitiers, ke Universitas Indonesia, Roman akhirnya dapat menyicip pengalaman belajar pertamanya di Prancis dan Eropa. Saat itu, Roman juga mengontak Laurent Bosquet (kini pembimbing disertasinya), dan berkesempatan untuk tinggal di Poitiers selama dua minggu.

Sampai saat ini, Roman telah menghabiskan dua semester bekerja di Laboratorium MOVE (Mobilité Vieillissement et Exercice). Disertasinya berjudul “Hubungan antara Pengaturan Tekanan Darah, Oksigenasi Otak, dan Kinerja Kognitif dalam Dua Tugas Ganda”. Tujuannya, untuk mempelajari hubungan tersebut pada tubuh manusia dewasa dan lanjut usia.

Roman beserta timnya merupakan para peneliti yang berusaha keras untuk memberikan hasil yang diharapkan para pasien dan keluarga mereka. Sekarang ini, jumlah orang yang menderita demensia bertambah secara signifikan. Setiap tahun di seluruh dunia, ada kira-kira 9,9 juta kasus demensia baru.

Selain itu, Roman adalah juga Presiden Perkumpulan Pelajar Indonesia (PPI) di Poitiers. Digagas pada 2012, PPI adalah sebuah perkumpulan yang terdiri 18 cabang yang tersebar di seluruh Prancis. Perkumpulan ini memberi dukungan pada para pelajar Indonesia dalam keseharian juga dalam perkuliahan. Di antara banyaknya aktivitas mereka adalah pertemuan rutin, pembelajaran bahasa Prancis, Indonesia dan Inggris, serta partisipasi dalam pameran-pameran kebudayaan untuk memperkenalkan budaya Indonesia.

Mimpi besar Roman adalah kembali ke Indonesia dan membagikan ilmu dan pengalamannya dengan para koleganya. Ia juga pergi belajar sejauh ini bersama keluarganya agar kelak dapat bekerja kembali sebagai dosen-peneliti di Universitas Indonesia. Dalam waktu dekat ini, ia berharap dapat turut serta dalam pengembangan ilmu pengetahuan di Indonesia karena kita tidak boleh melupakan orang-orang yang mencintai kita.

Pada 2018, Roman ikut berpartisipasi dalam kompetisi MT180 Indonesia edisi ke-3.

Kelompok Kerja Bersama Indonesia-Prancis Ke-10

26 – 28 Juli 2018

Futuroscope de Poitiers

Angka Penting :

Edisi ke-10
200 partisipan
6 lokakarya tematis
300 eksemplar Buku Besar Kerja Sama didistribusikan

Sekitar 200 orang menghadiri pembukaan Kelompok Kerja Bersama Indonesia-Prancis di Bidang Universitas dan Saintifik ke-10 yang diselenggarakan pada 26 Juni 2018 di Palais des Congrès du Futuroscope, Poitiers, Prancis.

Sebagai tempat berbagi dan berdiskusi, pertemuan ini merupakan kesempatan bagi para perwakilan lembaga-lembaga dan pelaku di bidang pendidikan, riset, dan inovasi untuk mengembangkan kolaborasi yang telah ada dan merancang kerja sama-kerja sama baru selanjutnya. Kelompok Kerja Bersama 2018 ini adalah juga kesempatan untuk memaparkan laporan hasil kerja selama 10 tahun terakhir ini; menguatkan hubungan bilateral Indonesia-Prancis di sektor pendidikan tinggi, riset, dan inovasi; mengidentifikasi prioritas dan tahap-tahap kegiatan dan program di masa depan; serta merancang orientasi kerja sama selanjutnya.

Edisi 1 dasawarsa ini membahas tidak hanya aspek metodologis kerja sama (mobilitas pengajar dan mahasiswa, kesepakatan antaruniversitas, sistem beasiswa, diploma ganda, proyek riset bersama), namun juga tema-tema penelitian. Pertemuan ini menyoroti juga sebuah aspek penting lainnya, yaitu proses peningkatan kualitas penelitian, transfer teknologi, inovasi, dan pengembangan ekonomi.

Momen-Momen Penting

Kelompok Kerja Bersama ini dibuka dengansebuah seremoni yang dipimpin oleh Loïc Vaillant, Presiden ComUE Léonard deVinci sebagai penyelenggara kegiatan, serta dihadiri oleh Jean-CharlesBerthonnet, Duta Besar Prancis untuk Indonesia, dan Hotmangaradja Pandjaitan,Duta Besar Indonesia untuk Prancis.

Acara kemudian dilanjutkan dengan lima rapat pleno yang memberikan kesempatan kepada para peserta untuk melihat visi bersamadan berdiskusi mengenai kebijakan dan sistem invasi di Prancis dan diIndonesia. Para pembicara selain memaparkan kondisi kerja sama saintifik danuniversitas antara Prancis dan Indonesia, serta program-program pembiayaanbaru, juga memformulasikan orientasi kerja sama ke depannya.

Setelah itu, digelar final kompetisi Ma Thèse en 180 Secondes (MT180) Indonesia. Kesembilan finalis saling berhadapan. Mereka diberikan waktu selama 3 menituntuk mempresentasikan subjek disertasi mereka dengan cara yang menarik danmeyakinkan. Siapa saja kesembilan finalis tersebut ? Lihat profil merekadi sini.

Rabu, 27 Juni, para partisipan mendapatkan banyakkesempatan untuk saling berbincang dan bertukar informasi (melaluiposter-poster atau saat “projects dating”), serta membangun hubungankemitraan yang selanjutnya dikonkretkan dalam 6 lokakarya tematis (KetahananPangan dan Pertanian, Kesehatan dan Kedokteran, Energi, Teknologi Informasi danKomunikasi, Ilmu Sosial dan Humaniora, serta Ilmu Kelauran dan Maritim).Lokakarya-lokakarya tersebut dirancang dengan pendekatan lintas sektoral agardapat menyentuh semua aspek penelitian di perguruan tinggi, serta prosesinovasi dan transfer teknologi di berbagai bidang keilmuan.

Kegiatan ini kemudian ditutup dengan kunjunganke beberapa laboratorium unggulan, di antaranya PPrime, XLIM, IPAM, dan SPCTS.

Sejak edisi pertamanya pada 2008, KelompokKerja Bersama Prancis-Indonesia telah mampu mendapatkan visibilitas danpubliknya. Hal tersebut selain mencerminkan kondisi kerja sama antarakedua negara kita yang terus menguat seiring waktu berjalan, juga proyek-proyekkerja sama yang tengah berjalan. Untuk itulah Buku Besar Kerja Sama Saintifikdiluncurkan pada kesempatan ini. Buku tersebut merangkumkeberhasilan-keberhasilan bersama, serta menjadi sebuah sumber inspirasitersendiri untuk membaca apa yang sedang terjadi, sehingga kita dapatmenyiasati pendekatan dan pemilihan mitra-mitra kerja secara lebih baik lagi.

Para Penyelenggara

Kelompok Kerja Bersama Prancis-Indonesiadiselenggarakan setiap tahunnya secara bergantian di Prancis dan di Indonesia.Sebagai ajang kerja sama prioritas antara kedua negara sejak 2008, KelompokKerja Bersama ke-10 ini tahun ini digelar di Poitiers, Prancis. Kegiatan inidiselenggarakan secara bersama-sama oleh ComUE Léonard de Vinci, InstitutPrancis di Indonesia (IFI), Kementerian Riset, Teknologi, dan Perguruan TinggiRI, Kedutaan Besar Prancis di Indonesia, serta Kedutaan Besar Indonesia diPrancis.

Siaran pers kegiatan ini dapat diunduh di sini.

HADYAN FIBRIANTO SOEKARNO

Lahir di Yogyakarta pada tahun 1973, Hadyan Fibrianto Soekarno bergabung bersama bagian kerjasama ilmiah dan teknologi IFI  Kedutaan Prancis pada tahun 2015.

Insinyur teknik sipil yang lulus pada tahun 1997 dan Doktor dalam bidang automasi dan produksi (kontrol proses) tahun 2001, keduanya di Prancis – Ia memiliki segudang pengalaman di bidang managemen proyek, dan juga riset dan industri baik di Eropa maupun di Asia Tenggara.

1/ Bagaimana anda dapat sampai dalam bidang kerjasama dengan Prancis atau dengan Indonesia ?

Sains selalu menjadi minat saya sejak dulu, oleh sebab itu riset untuk saya adalah sebuah cara untuk memahami sains serta aplikasinya. Saya juga senang menjadi berguna bagi banyak orang. Dan mengapa Prancis ? sebab Prancis merupakan rumah kedua bagi saya di mana saya mengenyam pendidikan tinggi dan karena itu saya mendapatkan banyak pengetahuan saintifik.

2/ Kenapa anda memilih pengalaman ini, apa yang anda harapkan ?

Sekarang ini sebenarnya saya tidak sedang berada dalam riset ilmiah, tapi pekerjaan saya memperkaya koneksi saya, terutama pada para peneliti. Lebih lanjut lagi, pengalaman ini membuat saya memiliki pengetahuan ilmiah baru. Saya yang memiliki rasa keingintahuan yang tinggi, menyenangi itu.

3/ Sampai hari ini, apa yang anda rasakan dari pengalaman ini ?

Sangat positif. Tidak hanya saya mendapatkan banyak kolega, tapi juga teman.

4/ Bagaimana anda melihat karir anda sekarang dan bagaimana pengalaman ini memberi dampak pada karir anda ? kehidupan personal anda ?

Pekerjaan saya sekarang ini memungkinkan saya untuk berkembang dalam karir profesional terutama dalam manejemen kerjasama. Secara pribadi, saya sangat berbunga bunga.

5/ Menurut anda, bagaimana pengalaman ini dapat mempengaruhi masa depan anda ?

Saya berharap dapat terus berkontribusi bagi dunia dengan sains., baik itu melalui riset, kerjasama organisasi dll. Dengan pengalaman ini, saya mengembangkan koneksi profesional saya.

6/ Apa yang ingin anda ucapkan pada para pembaca (peneliti, pelajar, pembuat keputusan) terkait pengalaman anda di bidang kerjasama ?

Sekarang ini, kita tidak mungkin dapat berkembang sendirian. Kita hanya memiliki satu dunia, dan untuk mempertahankan ketahanannya, kita tidak punya pilihan lain selain bekerjasama, saling bahu-membahu. Ini semua terkait itikad baik.

TONNI KURNIAWAN

1 / Bisakah Anda ceritakan lebih lanjut tentang diri Anda? Tentang karier dan bidang penelitian Anda?

Saat ini saya adalah peneliti di sebuah universitas negeri di Republik Rakyat Cina. Sebagai ilmuwan, saya pernah melakukan penelitian di Finlandia, Inggris, dan Jerman. Mengingat kontribusi saya di bidang teknologi, saya telah menerima berbagai penghargaan internasional. Baru-baru ini Institute for Scientific Information memilih saya sebagai salah satu ilmuwan yang paling sering dikutip di bidang teknik. Bidang penelitian saya adalah aplikasi ilmu kimia untuk keperluan industri.

2 / Pada 2015, Anda memenangkan ASEAN Green Award dari ASEAN Academy of Engineering and Technology sebagai technopreneur hijau muda dan kontributor pertumbuhan hijau di kawasan ASEAN. Bisakah Anda ceritakan lebih lanjut tentang proyek Anda saat itu?

Proyek itu mengenai pemulihan lingkungan yang tercemar akibat logam berat seperti timbal, tembaga dan seng. Ide untuk melakukan penelitian di bidang ini didasarkan pada konsep bahwa lingkungan yang tercemar dapat dipulihkan menggunakan bahan seperti arang tempurung kelapa. Bahan non-konvensional seperti limbah pertanian banyak tersedia di Asia Tenggara. Karena tempurung kelapa memiliki nilai ekonomi kecil, ini dapat diperoleh secara gratis atau dengan biaya minimal. Konversinya ke karbon, yang dapat digunakan untuk pemurnian air, akan menambah nilai ekonomi, membantu mengurangi biaya pembuangan limbah, dan yang terpenting, memberikan pilihan murah untuk karbon aktif.

3 / Sebelum kesuksesan Anda dalam ASEAN Green Awards, Anda telah mendapatkan banyak pengakuan di berbagai acara ilmiah dan teknologi internasional yang ditujukan kepada para peneliti muda dan berbagai inovasi terkait pelestarian lingkungan. Ini bukan hanya pengakuan terhadap kualitas pekerjaan Anda, tetapi juga menunjukkan keterlibatan Anda dalam komunitas peneliti ramah lingkungan dan inovator global. Sebagai peneliti apakah hal ini merepresentasikan keyakinan Anda terhadap pekerjaan Anda? Bagaimana Anda melihat integrasi global penelitian yang berfokus pada pelestarian lingkungan saat ini?

Sebagai ilmuwan, saya mempromosikan paradigma kimia hijau dengan menerapkan gagasan Produksi Bersih, yaitu bagaimana memecahkan masalah polusi menggunakan sedikit bahan kimia dengan sedikit energi, sambil meminimalkan limbah yang dihasilkan.

Secara umum, jalan ke depan untuk melindungi lingkungan tercermin oleh prinsip-prinsip Produksi Bersih yang diperjuangkan oleh UNEP sejak tahun 2000-an. Karena itu, para ilmuwan menggunakan bahan-bahan yang tidak hanya bisa meminimalkan timbulnya limbah sekunder, tetapi juga mengurangi konsumsi energi, sambil memastikan bahwa limbah diperlakukan memenuhi undang-undang yang berlaku. Dengan mengembalikan kualitas limbah air mendekati minum air baku, ilmuwan berinovasi dalam mengatasi masalah pencemaran air.

4 / Start-up Anda hanya telah dipilih oleh French Tech di ajang Hello Tomorrow Challenge, kompetisi yang memberikan penghargaan kepada 500 start-up terbaik di bidang iptek. Anda akan berpartisipasi pada Hello Tomorrow Summit Global yang akan diselenggarakan bulan Oktober 2016 di Paris. Dapatkah Anda menceritakan tentang proyek yang tim Anda kerjakan untuk ajang besar ini? Kemudian, apa yang Anda harapkan dari pertemuan ini?

Beberapa negara memiliki begitu banyak tempat pembuangan limbah, namun mereka masih mengimpor minyak. Bayangkan jika mereka memiliki pengetahuan untuk memanfaatkan energi mereka. Kita semua tahu bahwa akan ada revolusi energi global. Di Paris, kami akan menyampaikan hal ini kepada para investor dan semoga ada yang tertarik untuk terlibat dalam proyek kami.

5 / Apa rencana Anda untuk tahun 2017?

Bila kami mendapatkan investor yang cocok untuk rencana jangka panjang ini, kami ingin memperbesar skala proyek ini agar mendapatkan pasar yang lebih luas.