Lomba Foto “Gen Z Untuk Lestari”

Program Warung Prancis diluncurkan 12 tahun yang lalu, yaitu pada tahun 2012. Melalui program tersebut, IFI bekerja sama dengan banyak universitas di Indonesia untuk memperkenalkan akan budaya, bahasa, dan pendidikan tinggi Prancis.

Memasuki tahunnya yang ke-12, IFI mengadakan kompetisi foto bertajuk “Gen Z Untuk Lestari”. Kompetisi ini dibuat khusus untuk mahasiswa dari universitas yang bekerja sama dengan IFI yang bekerja sama dalam program Warung Prancis (lihat daftar perguruan tinggi di bawah).

Tema yang dipilih bertujuan untuk menunjukkan bahwa, dalam menghadapi berbagai tantangan dunia saat ini dan khususnya perubahan iklim, generasi muda adalah agen perubahan yang nyata. Kompetisi foto ini ditujukan untuk siswa yang terlibat aktif dalam proyek perlindungan lingkungan atau memiliki ide solusi.

Foto-foto yang dikirimkan harus menggambarkan perubahan yang terjadi di alam, sekaligus menampilkan keindahan dan kekayaan bentang alam Indonesia.

Periode lomba

Lomba berlangsung dari 20 Oktober – 20 November 2024

Ketentuan lomba

  • Setiap peserta dapat mempublikasikan maksimal 5 foto (dari proyek yang sama atau dari proyek berbeda)
  • Foto diambil menggunakan kamera analog atau digital (ponsel, DSLR, mirrorless, drone)
  • Foto tidak mengandung unsur SARA, kekerasan, pornografi, politik dan tidak melanggar hukum apapun
  • Keputusan juri bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat
  • Akun instagram tidak di-private
  • Waktu pengambilan foto dilakukan pada periode tahun 2024
  • Tidak diperkenankan melakukan kolase dan montase foto
  • Editing foto hanya sebatas basic editing (kecerahan, kontras, dodging, burning, rotating dan cropping)
  • Hak cipta melekat pada fotografer, namun IFI diberikan hak/izin untuk mempublikasikan foto dari para peserta untuk kepentingan pameran dan non-komersial
  • Foto yang diunggah adalah foto tunggal, bukan carousel
  • Foto diunggah di Instagram dengan menandai akun @ifi_indonesia
  • Peserta wajib mengikuti akun instagram @ifi_indonesia
  • Peserta harus menyertakan fotonya dengan keterangan yang menjelaskan perubahan yang terjadi dan solusi yang diusulkan untuk memperbaiki permasalahan yang dimaksud
  • Mencantumkan tagar #genzuntuklestari pada kolom caption
  • Tidak diperkenankan melakukan penambahan atau manipulasi pada foto menggunakan software editing maupun Artificial Intelligence
  • Peserta mengirimkan soft copy foto ke alamat email ifiuntukbumi@ifi-id.com paling lambat 20 November 2024

Kriteria penilaian lomba

  •  Kesesuaian dengan tema
  • Kualitas foto : orisinil, kreatif dan artistik
  • Cerita dan deskripsi foto

Juri dan hadiah lomba

  • Para Juri akan memilih foto-foto terbaik yang akan dipajang di IFI Thamrin dalam jangka waktu tertentu
  • Para pemenang akan diundang ke Jakarta dan berkesempatan bertemu dengan berbagai pemangku kepentingan lingkungan hidup

Daftar universitas yang bekerja sama dengan IFI dalam program Warung Prancis dan dapat berpartisipasi pada lomba foto “Gen Z Untuk Lestari”

  • Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara
  • Universitas Andalas
  • Politeknik Negeri Batam
  • Institut Informatika dan Bisnis Darmajaya
  • Universitas Tanjungpura
  • Universitas Mulawarman
  • Universitas Katolik Atma Jaya
  • Universitas Bina Nusantara
  • Politeknik Sahid
  • Politeknik Negeri Jakarta
  • Politeknik Manufaktur Bandung
  • Universitas Padjajaran
  • Universitas Jenderal Soedirman
  • Universitas Islam Indonesia
  • Universitas Muhammadiyah YogyakartaUniversitas Kristen Satya Wacana
  • Universitas Pesantren Tinggi Darul ‘Ulum
  • Politeknik Negeri Malang
  • Universitas Udayana
  • Universitas Hasanuddin
  • Universitas Tadulako
  • Universitas Halu Oleo
  • Universitas Pattimura

Kilasan Kegiatan Climate Fresk Pertama di Institut français Indonesia

Kamis, 25 Mei lalu, Institut français Indonesia menyelenggarakan lokakarya Climate Fresk pertamanya di Mediatek IFI Thamrin. Ada sekitar 30 peserta yang mengikuti permainan bertujuan sederhana: memahami dengan lebih baik lagi krisis iklim yang tengah kita hadapi bersama.

Perubahan iklim, sebuah fenomena global dengan konsekuensi yang kompleks, kini telah menjadi persoalan yang mendapatkan sorotan dunia. Fenomena ini terlalu rumit dan sulit untuk dipahami oleh masyarakat yang belum mendapatkan informasi. Berdasarkan pengamatan inilah, maka Cédric Ringenbach mengembangkan sebuah konsep yang menyenangkan dan partisipatif untuk belajar tentang iklim. Tujuan Climate Fresk adalah mendorong penyebaran pengetahuan tentang iklim dengan cepat dan massif agar lekas ada pengambilan keputusan dan tindakan bersama yang nyata. Stephanie Rawi, mantan mahasiswa Indonesia lulusan Prancis yang juga koordinator Climate Fresk di Indonesia, melibatkan diri dalam penyebaran modus edukasi ini di seluruh Indonesia.

Permainan ini dibuat berdasarkan laporan ilmiah yang dikeluarkan oleh IPCC (Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim) dan terdiri dari 42 kartu yang dibagikan kepada para peserta dalam beberapa gelombang saat permainan berlangsung. Para peserta yang dibagi dalam beberapa grup kecil dan dipandu oleh seorang fasilitator, kemudian harus menyusun kartu-kartu tersebut sehingga membentuk sebuah “mural” besar yang menggambarkan unsur-unsur utama perubahan iklim.

Dalam suasana yang akrab dan menyenangkan, para peserta diajak untuk mendiskusikan perasaan mereka dan mengajukan segala pertanyaan yang dapat membantu mereka untuk memahami persoalan iklim dengan lebih baik lagi.

Kegiatan ini ditutup dengan sesi tanya jawab kolektif sehingga semua orang dapat mengungkapkan pengalaman belajar mereka. Selain mendidik, kegiatan ini juga mendorong pertukaran pikiran dan pertemuan dengan orang-orang dari berbagai latar belakang dengan siapa setiap peserta dapat mendiskusikan persoalan yang sangat krusial bagi kemanusiaan ini.

Sekelompok siswa tengah menyusun Climate Fresk mereka
Sekelompok siswa tengah menyusun Climate Fresk mereka
Kolega dari IFI ikut serta dalam kegiatan Climate Fresk
Kolega dari IFI ikut serta dalam kegiatan Climate Fresk
Belajar sambil bersenang-senang!
Belajar sambil bersenang-senang!

Previous
Next

Jika kalian melewatkan Climate Fresk kemarin, jangan khawatir karena IFI akan menyelenggarakan kegiatan ini secara rutin di IFI Thamrin dan di seluruh kantor cabangnya di Indonesia!

Bila kalian sudah mengikuti kegiatan Climate Fresk perdana kemarin dan ingin menjadi fasilitator Climate Fresk untuk keluarga, kawan-kawan atau kolega kalian, kalian bisa mengikuti sesi pelatihan untuk menjadi fasilitator. Sesi pelatihan terdekat akan digelar di Jakarta tanggal 17 Juni 2023. Klik di sini untuk mendaftar.

Menengok Kembali Kesuksesan Tiga Film Pendek Indonesia di Festival MegaCities-ShortDocs

Dalam rangka pelaksanaan misinya, “IFI untuk Bumi”, Institut français Indonesia (IFI) berasosiasi dengan Festival MegaCities-ShortDocs, sebuah festival film pendek dokumenter Prancis berskala internasional yang mengangkat tema tantangan pembangunan berkelanjutan di perkotaan. Sepanjang tahun 2022, IFI menyiarkan informasi mengenai Festival MegaCities-ShortDocs edisi ke-8 kepada publik Indonesia, khususnya sineas Indonesia untuk mengangkat topik ini dalam konteks Indonesia.

Tahun lalu, tiga film pendek Indonesia berhasil mendapatkan penghargaan dan dimasukkan dalam seleksi resmi Festival MegaCities-ShortDocs. Tanggal 7 Desember 2022, IFI menyelenggarakan pemutaran 16 film pendek internasional penerima penghargaan di ajang Festival MegaCities-ShortDocs, dihadiri oleh para sutradara Indonesia yang memenangkan penghargaan dalam festival tersebut. Pemutaran film yang digelar di IFI Jakarta itu ditonton lebih dari seratus orang. Film-film pendek Indonesia penerima penghargaan mengangkat persoalan polusi sampah plastik dan pengelolaan sampah di ibukota serta akses air bersih untuk masyarakat nelayan di utara Jakarta.

Para sutradara dan film-film pendek Indonesia penerima penghargaan tersebut adalah sbb.:

  • Yogi Tujuliarto (diwakili oleh Andra Anhar), mendapatkan penghargaan ShortDoc Terbaik untuk filmnya yang berjudul “They Don’t Need to Know” dan hadiah sebesar 1.500 euro berikut tiket pesawat pulang-pergi untuk menghadiri seremoni penutupan festival di Paris.

  • Kurniawan Idrus Rachmat, Felicia Salvina, Ario Masri, Rheinata Yuvian Tasman, Rega Almuhtada dan Muhammad Yafi Rayhan Zainal, mendapatkan penghargaan ShortDoc Pelajar Terbaik untuk film mereka yang berjudul “Jumantara of Bantargebang” dan hadiah sebesar 1.000 euro serta tiket pesawat pulang-pergi (untuk salah satu sutradara) untuk menghadiri seremoni penutupan festival di Paris.

  • Jeffri Kaharsyah, menerima penghargaan Inisiatif Urban Terbaik untuk filmnya yang berjudul “The Rain Collector” serta hadiah sebesar 1.000 euro untuk merealisasikan proyek yang dipresentasikan dalam film tersebut.

Kesuksesan film Indonesia dalam festival ini di satu sisi menunjukkan ketertarikan serta kecakapan para sineas Indonesia dan, di sisi lain, relevansi global dari isu-isu pembangunan berkelanjutan yang diangkat dalam konteks perkotaan Indonesia.

Masih akan tetap menyiarkan kabar baik ini, IFI mengundang seluruh sineas, warga kota-kota besar serta aktivis Indonesia untuk bersiap mengikuti Festival MegaCities-ShortDoc edisi 2023!

IFI Memberikan Penghormatan Kepada Anak Muda yang Berkomitmen di Bidang Keadilan Sosial dan Lingkungan

Institut Français Indonesia mendapat kehormatan bisa mengundang aktivis Indonesia Melati Wijsen dalam acara tur promosi film dokumenter Bigger Than Us. Sejumlah pemutaran telah dihelat di beberapa IFI dan Alliance Française: IFI Surabaya (18 Agustus), IFI Thamrin Jakarta (21 Agustus), IFI Bandung (26 Agustus) dan dalam waktu dekat di Alliance Française Medan (September).

Diproduksi oleh Flore Vasseur, berkolaborasi dengan Marion Cotillard dan Denis Carot, film dokumenter Bigger Than Us mengangkat kisah pergulatan beberapa anak muda yang berjuang untuk pendidikan, keadilan sosial, hak perempuan, lingkungan, iklim, dan masyarakat pengungsi…

Sejak usia 12 tahun, Melati sudah memulai perjuangannya memerangi polusi plastik di Bali melalui komunitas Bye Bye Plastic Bags yang ia dirikan bersama saudara perempuannya, Isabel. Pada usia 18 tahun, Melati ditawari kesempatan untuk mengikuti Flore Vasseur dalam produksi film dokumenter Bigger Than Us. Dari daerah kumuh di Rio sampai desa-desa terpencil di Malawi, dari perahu darurat di lepas pantai Pulau Lesbos hingga upacara penduduk asli Amerika di Pegunungan Colorado, Melati mengajak kita untuk bertemu dengan beberapa aktivis muda yang seperti dirinya, sedang mencoba untuk mengubah dunia.

Pemutaran di IFI Thamrin dihadiri oleh lebih dari seratus orang serta perwakilan dari AFD Indonesia yang merupakan salah satu sponsor film dokumenter tersebut. Pemutaran film dilanjutkan dengan sesi diskusi bersama Melati yang bercerita tentang pengalamannya sebagai aktivis muda. Banyak topik lain yang juga dibahas seperti kerja sama dengan pemerintah dan isu-isu perempuan dalam gerakan perjuangan ini.

Kami mengajak Anda untuk mengikuti kisah perjuangan Melati dan beberapa aktivis muda lainnya: Rene, Mary, Xiuhtezcatl, Memory, Mohamad dan Winnie, yang telah menemukan inspirasi mereka dalam pencarian makna dan kemanusiaan ini.

Kini, perjuangan Melati adalah menyokong semangat pergerakan anak muda. Ia mendirikan Youthtopia, sebuah platform yang mempertemukan aktivis dan anak muda pembuat perubahan untuk berbagi pengalaman dan membangkitkan keinginan anak-anak muda untuk terlibat dalam perjuangan ini.

Dapatkan pelatihan gratis yang ditawarkan platform Youthtopia di https://www.youthtopia.education/.

Pemutaran dan diskusi film dokumenter Bigger Than Us diselenggarakan sebagai bagian dari inisiatif “IFI untuk Bumi” yang merupakan komitmen IFI untuk mengangkat isu-isu lingkungan hidup dan iklim di Indonesia.

Ikuti akun Instagram @ifi_indonesia untuk mendapatkan kabar-kabar mengenai kegiatan kami!

Dapatkan artikel yang ditulis Buzzfeed Indonesia tentang pemutaran film di IFI Thamrin.

Institut Français Indonesia berkolaborasi dengan Festival MegaCities-ShortDocs ke-8 dan mengundang warga kota-kota besar di Indonesia untuk merekam realitas lewat lensa kamera mereka!

Institut Français Indonesia berkolaborasi dengan Festival MegaCities-ShortDocs ke-8 dan mengundang warga kota-kota besar di Indonesia untuk merekam realitas lewat lensa kamera mereka!

Festival MegaCities-ShortDocs merupakan festival film pendek dokumenter yang menyoroti tantangan kehidupan urban dan inisiatif-inisiatif warganya dalam mengusulkan solusi-solusi efektif untuk memperbaiki kehidupan kota besar mereka.

Sejak 2014, lebih dari 500 sineas berpartisipasi dalam festival ini sebagai bentuk pencarian mereka akan bentuk kota yang paling berkelanjutan. Tahun ini adalah kesempatan bagi Anda untuk mengangkat nama Indonesia dengan mengirimkan ShortDoc Anda yang inspiratif!

Tim juri internasional dari kalangan profesional akan menyeleksi sejumlah ShortDoc terbaik yang akan diganjar dengan 3 Awards dan 4 penghargaan dengan total hadiah senilai €11.500.

Jangan ragu untuk menghubungi IFI atau panitia festival (contact@megacities-shortdocs.org) untuk mendapatkan informasi-informasi yang lebih lengkap.

Bagaimana cara berpartisipasi dalam Festival MegaCities-ShortDocs?

1. Untuk berpartisipasi, Anda wajib mendaftarkan diri dengan mengisi formulir pendaftaran di website MegaCities-ShortDocs.

Setelah mendaftar, Anda akan mendapatkan seluruh informasi mengenai festival ini melalui email atau WhatsApp.

Mendaftarlah sesegera mungkin untuk tindak lanjut yang lebih optimal, terutama pengarahan dan saran-saran dari panitia festival.

Formulir pendaftaran tersedia di https://www.megacities-shortdocs.org/registration.

Saat mendaftar, pilih “French Institute/Alliance Française Indonésie” di kategori “Lead Source”.

Batas waktu pendaftaran: 15 Oktober 2022

2. Unggah ShortDoc Anda di shortfilmdepot.com paling lambat 15 Oktober 2022 (waktu Paris)

Platform tersebut dapat Anda akses melalui https://www.shortfilmdepot.com/

Anda bisa melihat tutorial dan langkah-langkah pengunggahan ShortDocs daring di Youtube: https://www.youtube.com/watch?v=YA2jEBWiuTw

Anda juga dapat menghubungi panitia festival yang akan menjawab semua pertanyaan Anda.

Apa saja kriteria film ShortDoc yang harus dipenuhi?

Festival ini terbuka untuk semua orang yang ingin membuat film pendek tentang tantangan hidup urban dan solusi yang diterapkan di kota-kota besar dunia.

Kriteria artistik:

  • ShortDoc yang Anda buat harus menyoroti inisiatif yang sudah ada dan/atau “peringatan” tentang situasi sosial, ekonomi dan lingkungan di sebuah kota besar.
  • Anda harus mengangkat tantangan yang sedang dihadapi kota tersebut (khususnya masalah transportasi, pendidikan, kesehatan, perubahan iklim dan polusi) dan/atau mempresentasikan solusi dan inisiatif yang inovatif untuk mencoba menyelesaikan permasalahan urban tersebut.
  • Sebagai pilihan tantangan urban, Anda dapat mengangkat salah satu dari 17 tujuan pembangunan berkelanjutan (SDG) PBB.
  • Bila Anda ingin mengangkat solusi-solusi yang inovatif, Anda dapat mendeskripsikan inisiatif tersebut atau start-up yang mengusulkan solusi tersebut dengan menggambarkan secara mendetail dampak-dampak positifnya bagi penduduk kota. Anda juga bisa mendiskusikan berbagai perspektif yang lebih luas lagi (di level internasional, bila diperlukan).

Spesifikasi teknis:

  • ShortDoc harus dibuat di kota berpenduduk lebih dari 1 juta jiwa. Di Indonesia, contohnya adalah Bandar Lampung, Bandung, Batam, Bekasi, Bogor, Depok, Jakarta, Makassar (Ujung Pandang), Medan, Palembang, Pekanbaru, Semarang, Surabaya, dan Tangerang.
  • ShortDoc tidak boleh berdurasi lebih dari 4 menit (termasuk credit title). ShortDoc yang melebihi batas durasi tidak akan lolos seleksi tim juri.
  • ShortDoc harus bertakarir bahasa Inggris dengan ketentuan sbb.: Calibri, normal, 70, warna putih dengan kontur hitam, ukuran 2 (takarir ditampilkan per satu baris di bagian bawah layar).
  • Tim juri akan memberikan apresiasi lebih untuk ShortDoc yang memperhatikan kualitas produksi dan kegamblangan pesan yang ingin disampaikan, presentasi yang singkat dan efektif, serta kapasitas sintesis yang baik. Perhatian, video pendek Anda tidak boleh dipresentasikan sebagai video iklan.

Jangan ragu untuk mengunjungi halaman tanya-jawab di website festival atau menghubungi kami untuk informasi mendetail.

Apa saja penghargaan dan hadiahnya?

Ada 4 penghargaan dan 3 Awards yang diperebutkan dengan total nilai sebesar €11.500.

  • Penerima Award untuk ShortDoc Terbaik akan mendapatkan hadiah sebesar €1.500 (untuk sutradara, serta €1.000 untuk penggagas inisiatif yang diangkat dalam film tersebut).
  • Penerima Award untuk ShortDoc Positif Terbaik, bekerja sama dengan Cinéma Positif, akan mendapatkan hadiah sebesar €1.000 (untuk sutradara).
  • Penerima Award untuk ShortDoc Pelajar Terbaik akan mendapatkan hadiah sebesar €1.000 (untuk sutradara).

Catatan: bila Anda memenangkan salah satu dari ketiga Award tersebut, di samping hadiah yang sudah disebutkan, Anda juga akan mendapatkan tiket pesawat pulang-pergi dari kota Anda ke Paris untuk mengikuti seremoni Festival Megacities-ShortDocs yang akan digelar tanggal 8 Desember 2022 di Paris.

  • Penerima Penghargaan “Inisiatif Urban Terbaik” akan mendapatkan hadiah senilai €1.000 (untuk penggagas inisiatif atau kelompok awal pencetus inisiatif yang diangkat dalam ShortDoc tersebut).
  • Penerima Penghargaan “Métropole du Grand Paris” akan mendapatkan hadiah senilai €1.000 (untuk sutradara).
  • Penerima Penghargaan “15 Min City” akan mendapatkan hadiah senilai €1.000 (untuk sutradara).
  • Penerima Penghargaan “Urban Climate Crisis” akan mendapatkan hadiah senilai €1.000 (untuk sutradara).
  • Untuk ShortDoc penerima “Pilihan Penonton” dan “Inovasi Sektor Publik” akan mendapatkan gelar kehormatan khusus.

Tanggal penting festival:

  • 15 Oktober 2022: batas waktu pendaftaran melalui website MegaCities-ShortDocs dan pengunggahan video pendek melalui platform shortfilmdepot.com.
  • November 2022: pengumuman 15 ShortDocs hasil seleksi tim juri internasional dan profesional.
  • 1-7 Desember 2022: pemutaran internasional ShortDocs terbaik bekerja sama dengan Institut Français di seluruh dunia. Tanggal pemutaran di IFI Thamrin akan diumumkan kemudian.
  • 8 Desember 2022: seremoni penyerahan penghargaan di Paris. Para finalis terbaik dari 15 ShortDocs yang lolos penjurian, akan diundang untuk mengikuti seremoni dan menerima penghargaan. Penutupan Festival MegaCities-ShortDocs edisi ke-8.