.

Pelatihan “Women and Leadership for ASEAN countries”

Dalam rangka diplomasi feminis dan kemitraan pembangunan antara Prancis dan ASEAN , Kedutaan Besar Prancis untuk Indonesia dan Timor Leste serta 7 dari 10 kedutaan besar Prancis yang berada di negara-negara anggota ASEAN (Myanmar, Laos, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, Papua Nugini telah mengadakan  pelatihan pengembangan kompetensi lima belas perempuan pemimpin yang berasal dari negara anggota dan pengawas ASEAN.

Seminar pelatihan yang bertajuk “Perempuan dan Kepemimpinan di ASEAN” diselenggarakan oleh Ecole Nationale d’Administration (Sekolah Tinggi Administrasi Prancis) pada tanggal 7 – 16 Juni yang terdiri dari 7 sesi berdurasi 2 jam. Pelatihan ini berlangsung dalam bahasa Inggris, bahasa resmi ASEAN. Pelatihan ini diikuti oleh 15 perempuan dari 8 negara berbeda. Lebih dari setengah peserta merupakan aparatur sipil negara mereka, setengahnya bekerja di Kementerian Luar Negeri, lainnya bekerja di posisi direksi di organisasi internasional, lembaga swadaya masyarakat, dan sektor swasta. Usia rata-rata berkisar antara 30-45 tahun (paling senior berusia 53 tahun dan paling muda berusia 27 tahun) dengan harapan dapat membantu karir mereka sebagai pemimpin maupun calon pemimpin.

Pengajaran dan materi yang disediakan oleh ENA sangat diapresiasi dan memungkinkan setiap peserta untuk menyusun “rancangan aksi bayangan” yang bertujuan untuk menerapkan kesetaraan gender di lembaganya. Nilai kesetaraan yang ketat diterapkan oleh Kementerian Luar Negeri Thailand dalam bentuk alokasi posisi senior di pusat dan luar negeri menjadi sumber inspirasi penting bagi para peserta, beberapa di antaranya berharap untuk membahas pengaplikasian tujuan kesetaraan kini hingga 2024 dengan jajaran atas di lembaga mereka. Salah satu contoh tersebut menggambarkan pentingnya program ini di skala regional.

Format pelatihan jarak jauh tidak diragukan lagi memiliki keuntungan dalam menjangkau para perwakilan dari negara-negara anggota dan pengamat ASEAN. Bentuk pelatihan ini juga memiliki keuntungan dengan memberikan kesempatan kepada peserta untuk mengikuti pelatihan tanpa harus meninggalkan tanggung jawab profesional mereka.

Apabila format daring ini mungkin dilihat sebagai penghalang interaktivitas, penggunaan teknologi yang tersedia dan alat pertemuan zoom yang lebih maju justru sangat memudahkan untuk mengembangkan praktik, simulasi, dan permainan peran dalam format daring, juga menciptakan lebih banyak hubungan di antara para peserta.

Terakhir, sebagai tindak lanjut yang dilakukan oleh masing-masing peserta, beberapa aksi menjanjikan telah dimulai sebagai perpanjangan dari pelatihan ini dan menggemakan Forum Kesetaraan Generasi. Salah satunya, terwujudnya jaringan pemimpin perempuan di ASEAN dengan pembentukan grup pertukaran melalui aplikasi Whatsapp, peliputan inisiatif oleh media nasional, restitusi pelatihan bahasa nasional sebagai aksi penguatan pertama diplomat perempuan (Timor Leste), serta pembuatan video pendek para peserta. Selanjutnya Prancis dan ASEAN berharap dapat bekerja sama dalam mendorong tujuan kesetaraan generasi pada tahun 2024.

Peserta dari Indonesia :

Amy Darajati Utomo : Project Manager – ASEAN Foundation

Dewi Rosyana : Head of Sub-Division for Cooperation Planning Law and Cooperation Bureau, Ministry Secretariat Ministry of Cooperatives and Small and Medium Enterprises

Arista Kusuma : Policy Analyst for Regional and Bilateral Economic Policy/ Desk Manager for America and the Pacific Economic Cooperation – Ministry of Finance

Chaeruniza Fitriyani : Associate Planner at Directorate of Population and Social Security, Ministry of National Development Planning, Republic of Indonesia

Dewi Savitri : Doctoral student in comparative law at the University of Paris 1 Panthéon Sorbonne, writing a doctoral thesis entitled “Constitutional review and conventional control : comparative analysis of French and Indonesian Laws (Paris, France)

Siti Fuadilla : Project Officer, Save The Children in Indonesia

Bagikan:

WhatsApp
Facebook
Twitter