“Selama lebih dari 150 tahun, pertukaran budaya dan ilmiah yang intens dan beragam telah berkembang antara Prancis dan Indonesia, jauh sebelum awal hubungan diplomatik bilateral yang akan kita peringati ulang tahun ke-75 pada tahun 2025.
Hubungan intelektual, artistik, dan ilmiah antara kedua negara kita ini diceritakan oleh novelis Prancis, Alexis Salatko, dalam sebuah buku bilingual berjudul Indonésie, lumières inouïes atau Indonesia, cahaya yang mempesona (Denoël), melalui 11 potret eksklusif tokoh-tokoh Prancis yang sangat menyukai Indonesia, menjelajahinya, mempelajarinya, atau tinggal di sana.
Semua potret ini mencerminkan hubungan yang mendalam antara Prancis dan Indonesia, sebuah kedekatan yang kurang dikenal antara kedua negara dan kedua bangsa kita, yang tidak terhalang oleh jarak fisik.
Inilah kisah-kisah yang kami persembahkan di sini, bersama karya-karya ilustrator Prancis Aline Zalko.”
Fabien Penone
Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Timor Leste, dan ASEAN.
Penyair Prancis terkenal yang tinggal di pulau Jawa pada tahun 1876.
“Aku telah melihat kepulauan yang tak bertepi!”
– Kutipan dari puisi Le Bateau ivre, 1871
Pianis dan komposer Prancis ini pertama kali mengenal gamelan pada Pameran Dunia 1889, seperti halnya banyak seniman dan intelektual pada masa itu, termasuk pemahat Camille Claudel.
“Tanpa Camille, tanpa penari bedaya, tanpa musisi Bali, tanpa Mallarmé, Claude tidak akan pernah menjadi Debussy.”
Penulis, penyair, dan aktor Prancis yang terpengaruh oleh teater Bali yang ia temukan pada tahun 1931.
“Di Barat, kita diajarkan bagaimana menulis naskah teater,” katanya dengan tegas, “sedangkan di Timur, kita diajarkan bagaimana memainkannya tanpa naskah.”
Seorang penyair dan pelukis, ia melakukan perjalanan ke Indonesia pada tahun 1931 dan menceritakan pengalamannya dalam kisahnya berjudul Un Barbare en Asie.
“Lukisan yang sedang ia kerjakan saat jantungnya berhenti berdetak, adalah sebuah lanskap Jawa, atau lebih tepatnya, sebuah kesan dari sana.”
Menikah dengan penari Jawa, Ratna Mohini, yang akan memainkan peran penting dalam kehidupan seninya, fotografer Prancis yang mendukung gerakan dekolonisasi ini memotret Indonesia merdeka.
“Lewat lensa Henri, dunia melihat Indonesia merekah dalam kemerdekaannya (…) Saya senang dapat memperkenalkan budaya saya, menjadi duta bagi Indonesia yang tengah bergerak maju.”
Seorang penulis dan jurnalis Prancis yang melakukan perjalanan ke Indonesia pada 1950, pengalaman yang menginspirasi bukunya Boroboudour, voyage à Bali, Java et autres îles.
“Di Indonesia, ia mendapati keindahan setiap kali bersua dengannya.”
Ahli filologi dan epigrafi spesialis Indonesia, yang mendirikan pusat Ecole française d’Extrême-Orient (EFEO) di Jakarta pada tahun 1952.
“Saya selalu berupaya untuk mendekatkan kedua bangsa kita.”
Penjelajah dan oseanografer terkenal yang meneliti kekayaan ekosistem laut Indonesia selama ekspedisinya di kepulauan Nusantara pada akhir tahun 1980-an.
“Apa yang bisa kita pelajari dari yang lain?”
Sebagai vulkanolog dan pembuat film, Haroun Tazieff memimpin beberapa ekspedisi ilmiah di Indonesia pada tahun 1950-an, merekam letusan gunung berapi Anak Krakatau, Sumbing, dan Merapi.
“— Indonesia, apa yang terlintas dalam pikiranmu?
— Sabuk api! Tidak diragukan lagi, hal yang paling menarik untuk dipelajari oleh seorang vulkanolog.”
© 2020 All Right Reserved
INSTITUT FRANÇAIS INDONÉSIE – IFI
Jalan M.H. Thamrin No. 20 Jakarta Pusat 10350
+6221 23 55 79 00
info@ifi-id.com
Jalan M.H. Thamrin No. 20 Jakarta Pusat 10350
+6221 23 55 79 00
info@ifi-id.com
© 2020 All Right Reserved
INSTITUT FRANÇAIS D’INDONÉSIE – IFI
| Cookie | Duration | Description |
|---|---|---|
| cookielawinfo-checkbox-analytics | 11 months | This cookie is set by GDPR Cookie Consent plugin. The cookie is used to store the user consent for the cookies in the category "Analytics". |
| cookielawinfo-checkbox-functional | 11 months | The cookie is set by GDPR cookie consent to record the user consent for the cookies in the category "Functional". |
| cookielawinfo-checkbox-necessary | 11 months | This cookie is set by GDPR Cookie Consent plugin. The cookies is used to store the user consent for the cookies in the category "Necessary". |
| cookielawinfo-checkbox-others | 11 months | This cookie is set by GDPR Cookie Consent plugin. The cookie is used to store the user consent for the cookies in the category "Other. |
| cookielawinfo-checkbox-performance | 11 months | This cookie is set by GDPR Cookie Consent plugin. The cookie is used to store the user consent for the cookies in the category "Performance". |
| viewed_cookie_policy | 11 months | The cookie is set by the GDPR Cookie Consent plugin and is used to store whether or not user has consented to the use of cookies. It does not store any personal data. |
Arthur Rimbaud dianggap sebagai salah satu penyair terbesar abad ke-19. Sejak remaja, ia sudah menjadi penulis yang produktif, tetapi tiba-tiba memutuskan untuk berhenti menulis pada tahun 1875, saat usianya baru 21 tahun. Ia ingin berkeliling dunia dan tertarik dengan Indonesia. Tanpa sumber daya, ia bergabung dengan tentara kolonial Belanda. Karena tidak memiliki niat untuk berperang, ia membelot begitu tiba di Indonesia pada bulan Juli 1876, setelah menerima gajinya. Ia muncul kembali di Prancis, di rumah ibunya, pada bulan November tahun yang sama. Perjalanannya di Pulau Jawa masih diselimuti misteri, tetapi perjalanan besar pertamanya ini meyakinkannya akan satu hal: tempatnya bukan lagi di Eropa. Kehidupan yang sesungguhnya ada di tempat lain.
Sebagai komposer avant-garde, Claude Debussy mendedikasikan sebagian besar karyanya untuk piano, yang merupakan salah satu karya musik Prancis yang paling luas. Musiknya sangat dipengaruhi oleh suara gamelan Jawa yang dia temukan, bersama dengan pematung Camille Claudel, selama Pameran Dunia Paris pada tahun 1889 (pameran yang menjadi tempat dibangunnya Menara Eiffel). Pertemuan ini menandai titik balik dalam pendekatan musiknya: ia mengadopsi unsur-unsur seperti tangga nada pentatonik, tekstur suara yang berlapis, dan temporalitas yang mengambang, yang memengaruhi karya-karya besar seperti Pagodes, bagian pertama dari Estampes (1903). Karyanya, hasil dari dialog antarbudaya yang halus, mengintegrasikan unsur-unsur estetika Timur ke dalam bahasa musik Barat dan akan diadopsi oleh banyak musisi.
Antonin Artaud adalah seorang ahli teori teater, aktor, dan penulis yang karyanya memengaruhi generasi budaya Prancis pada akhir 1960-an, yang mengklaim diri mereka sebagai pengikut pemikiran revolusionernya. Karyanya sangat dipengaruhi oleh budaya Timur. Tari dan teater Bali yang ditemukan Antonin Artaud pada awal tahun 1930-an memainkan peran penting dalam pengembangan teorinya tentang “teater kekejaman”, sebuah pendekatan yang bertujuan untuk menimbulkan kejutan emosional pada penonton, dengan menggunakan gerakan, suara, dan visual yang kuat. Konsep teatrikalitas ini bertolak belakang dengan konvensi teater tradisional Eropa.
Henri Michaux, penulis dan pelukis, adalah seorang pencerita perjalanan yang hebat, terpesona oleh filsafat Timur, keadaan kesadaran yang berubah, dan seni seperti gamelan atau tarian ritual. Pada tahun 1931, ia pergi ke Indonesia sebagai bagian dari perjalanan yang lebih luas melintasi Asia. Perjalanan ini, yang ia ceritakan dalam bukunya Un barbare en Asie, juga membawanya ke India, Cina, Ceylon, Malaysia, dan Jepang. Di Indonesia, ia mengamati budaya lokal, terutama spiritualitas dan seni mereka, serta mempertanyakan perbedaan antara budaya Asia dan Eropa. Buku perjalanan ini merupakan campuran antara deskripsi puitis dan refleksi pribadi tentang kondisi manusia dan keberadaan.
Sebagai salah satu pendiri agensi Magnum, Henri Cartier-Bresson adalah pelopor fotografi jalanan, dengan foto-foto ikonik yang mengabadikan momen-momen politik penting abad ke-20. Pada tahun 1937, ia bertemu dengan istrinya, Ratna Mohini, seorang penari Jawa yang sangat terkenal di kalangan seniman Paris. Antara tahun 1946 dan 1950, Cartier-Bresson memotret Indonesia, terutama Bali, dan menghasilkan foto-foto ikonik, seperti foto seorang penari yang sedang mempersiapkan pertunjukan Legong di Sanur pada tahun 1949 atau pemandangan kehidupan sehari-hari di Ubud pada tahun 1950. Sebagai anggota gerakan solidaritas untuk Indonesia bersama intelektual dan seniman Prancis lainnya, ia menentang kolonialisme. Foto-fotonya tentang Indonesia yang baru merdeka, yang diambil di Jakarta pada tahun 1949, dipamerkan di seluruh dunia.
Roger Vailland, penulis (pemenang Prix Interallié 1945 untuk Drôle de jeu dan Prix Goncourt 1957 untuk La loi), jurnalis, kritikus film, dan penulis skenario, terkenal karena kisah-kisah perjalanannya. Ia mengunjungi Indonesia pada tahun 1950, menjelajahi Jawa, Bali, dan Sumatra, serta memberikan gambran yang detail dan nuansa tentang negara Indonesia yang masih muda, penduduknya, dan sejarahnya. Perjalanan ini menghasilkan sebuah buku berjudul Boroboudour, voyage à Bali, Java et autres îles (Borobudur, perjalanan ke Bali, Jawa, dan pulau-pulau lainnya) di mana ia menggambarkan potret Indonesia melalui masa lalu dan aspirasinya. Buku ini, yang kaya akan pengamatan budaya dan sosial, juga merupakan refleksi tentang transisi Indonesia menuju kemerdekaan dan keragaman lanskap serta penduduknya.
Louis-Charles Damais, spesialis Indonesia, tiba di negara ini pada tahun 1937. Di sana, ia melakukan penelitian tentang budaya dan bahasa Jawa, terutama gamelan. Ia juga bertemu calon istrinya, Raden Roro Soejatoen, pustakawan di Société royale des arts et des sciences de Batavia. Pada tahun 1952, Damais mendirikan kantor Ecole française d’Extrême-Orient (EFEO) atau Sekolah Prancis untuk Timur Jauh di Jakarta, yang hingga saat ini masih melakukan penelitian penting di bidang arkeologi, epigrafi, sejarah kuno, filologi, dan sastra. Reputasinya sebagai cendekiawan dengan cepat menyebar. Ia memainkan peran penting di Eropa dalam memperluas pengetahuan tentang Indonesia, dengan publikasi tentang puisi atau tokoh-tokoh budaya utama seperti Kartini, ikon feminis Indonesia.
Jacques-Yves Cousteau, penjelajah kelautan Prancis terkenal, pembuat film dokumenter Le Monde du Silence (pemenang Palme d’Or 1956 di Festival Film Cannes), melakukan beberapa ekspedisi ke Indonesia pada akhir 1980-an, terutama ke Sumatra, Jawa, dan Kalimantan. Dengan La Calypso, kapal legendarisnya, ia mempelajari dan merekam banyak terumbu karang, hutan bakau, dan kehidupan laut di kepulauan tersebut. Ia juga bertemu dengan suku Mentawai di Pulau Siberut, lepas pantai Sumatra, salah satu dari sedikit populasi pemburu-pengumpul yang tersisa. Ekspedisi-ekspedisi ini membantu meningkatkan kesadaran dunia akan pentingnya pelestarian lautan dan ekosistemnya.
Haroun Tazieff, ahli vulkanologi dan sineas Prancis, memimpin beberapa ekspedisi ilmiah ke Indonesia pada tahun 1950-an, di mana ia merekam letusan gunung berapi Anak Krakatau, Sumbing, dan Merapi, sering mendekati kawah untuk mengambil gambar yang belum pernah ada sebelumnya. Ia kemudian membuat film dokumenter berjudul Les Rendez-vous du diable, yang meraih kesuksesan global. Film dan tulisan Tazieff, yang diproduksi terutama untuk UNESCO dan CNRS, memainkan peran penting dalam menyebarluaskan ilmu vulkanologi, sehingga membantu meningkatkan pemahaman tentang letusan gunung berapi dan dampaknya.