.

KAMPANYE 16 HARI ANTI KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN

1 dari 3 perempuan mengalami kekerasan di sepanjang hidup mereka, terlepas dari status sosial, negara, maupun usia mereka. Di seluruh bagian dunia, kekerasan terhadap perempuan dan anak, baik kekerasan fisik, verbal, psikologis, dan perlakuan-perlakuan tidak adil, terlalu sering dimaklumi dan sering diabaikan begitu saja.

Kampanye 16 Hari melawan kekerasan terhadap perempuan merupakan inisiatif dari masyarakat sipil. Kampanye tahunan ini bertujuan untuk mencegah dan menghentikan kekerasan berbasis gender. Kegiatan ini dimulai dari tanggal 25 November, Hari Internasional untuk Menghentikan Kekerasan terhadap Perempuan, dan diakhiri pada tanggal 10 November, Hari Hak Asasi Manusia.

Melalui warna oranye, simbol dari perlawanan ini, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendukung inisiatif ini melalui seruan gerakan internasional.

Institut Français Indonesia (IFI) berkomitmen penuh dalam kampanye ini. Pesan dari kampanye ini disebarkan di mana pun oleh diplomasi feminis Prancis yang selalu berjuang untuk membebaskan anak dan perempuan di masa depan dari kekerasan dan perbudakan dengan mengingat moto Negara Prancis “Kebebasan, Keadilan, Persaudaraan”.

Di dunia yang terus berubah dengan cepat, di mana digitalisasi juga bergerak cepat dan di mana pandemi mengubah cara kita berinteraksi, kekerasan berbasis gender pun bertransformasi. Menghadapi situasi tersebut, kampanye tahun ini akan mengangkat tema pelecehan dan kekerasan daring, sebuah fenomena yang terus berkembang.

Karena hak-hak perempuan merupakan hak asasi manusia, maka sangat penting untuk mendukung kesetaraan dan martabat setiap perempuan menuju dunia yang lebih aman, adil, dan baik untuk semua.

Dengan tagar #16days, #OrangeTheWorld dan #OrangeYourLife, mari dukung perjuangan internasional ini dengan menyampaikan pesan Anda tentang kesetaraan bagi semua dan penghapusan kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan.

Jadilah bagian dari acara ini, ikuti dan bagikan kampanye kesadaran ini melalui media sosial!

Lokakarya

Lokakarya 1 : Fighting cyber harassment in the Workplace
Melawan Kekerasan Dunia Maya di Tempat Kerja
Zoom | 27 November 2020 | 15.00 WIB

Pembicara:
Fiana Dwiyanti, head of social change at Never Okay Project
Ratri Wuryandari, Head of Sustainability for East Asia & Japan/Diversity & Inclusion Lead for Indonesia, Schneider Electric Indonesia
Moderator: Chrisant Raisha Heidy S.

Kita menghabiskan sebagian besar waktu kita untuk bekerja. Dunia kerja, baik fisik maupun yang semakin hari semakin bergerak ke dunia digital, merupakan ruang di mana bentuk-bentuk kekerasan terhadap perempuan dapat ditemukan. Baik itu pelecehan, kekerasan verbal atau fisik, penyiksaan di tempat kerja, seperti halnya ruang publik, lingkungan kerja adalah salah satu area fundamental dalam melawan kekerasan berbasis gender.

Tahun ini, Institut Francais Indonesia (IFI), bekerja sama dengan Never Okay Project, mengadakan lokakarya tentang pelecehan offline dan online dalam dunia kerja. Berikut permasalahan yang akan diangkat: Bagaimana perusahan menemukan kasus pelecehan yang terjadi? Bagaimana cara melaporkannya? Bagaimana mendampingi korban? Sanksi apa yang diberikan terhadap tindakan pelecehan tersebut?

Sesi akan dilanjutkan dengan testimoni dari Schneider Electric tentang pentingnya menciptakan lingkungan kerja inklusif dan mengedepankan keberagaman, yang sejak bertahun-tahun aktif dalam mendorong pengembangan perempuan di dunia kerja.

Bagi kamu yang ingin tahu lebih dalam, segera daftarkan dirimu melalui link berikut: bit.ly/16DaysActivism-Workshop1

Lokakarya 2 : Cyber violence, real life victims : psychological & legal support
Kekerasan berbasis gender online, kehidupan korban sesungguhnya : dukungan secara hukum dan psikologis
Zoom | 28 Novembre | 14.00 WIB

Pembicara:
Cantyo A Dannisworo, Yayasan Pulih
Siti Mazuma, LBH Apik
An Nisaa Yovani, Samahita Bandung
Moderator :
Riana A Ibrahim, jurnalis

Bagi banyak korban kekerasan, termasuk kekerasan berbasis gender online, sering muncul rasa ketakutan, trauma, dan perasaan tidak berdaya. Namun, ada solusi yang memungkinkan untuk memberikan tanggapan hukum terhadap tindakan pelecehan, dan juga untuk mendukung dan mendampingi korban secara psikologis dalam proses pemulihan.

Lokakarya ini diadakan sebagai tanggapan atas kurangnya pemahan terhadap sarana aksi dan reaksi. LBH APIK dan Yayasan Pulih adalah dua asosiasi yang bergerak di bidang dukungan hukum dan psikologis bagi korban kekerasan gender.

Sesi selanjutnya akan diisi oleh Yona, co-director Samahita Bandung yang akan membagi ceritanya sebagai pendukung perlawanan kekerasan berbasis gender. Kemudian lokakarya ini ditutup dengan sesi tanya jawab.

Bagi kamu yang ingin ikut dalam lokakarya ini, segera daftarkan dirimu melalui link berikut: bit.ly/16DaysActivism-Workshop2

Lokakarya 3 : #protect and #sanction : Law in the Cyber Spaces
Lindungi dan beri sanksi : menegaskan hak seseorang dalam lingkungan digital
Zoom | 5 Desember | 14.00 WIB

Pembicara: Tuani Sondang Rejeki Marpaung, Pengacara LBH Apik
Register link : bit.ly/16DaysActivism-Workshop3

Lokakarya ini ditujukan untuk publik yang terinformasi, baik itu aktivis, jurnalis, influencer, dan siapa pun yang terlibat dan secara teratur menangani korban pelecehan online. ini akan dibagi menjadi 2 sesi dan ditekankan pada pemberian informasi, pendidikan dan pelatihan dalam penekanannya akan diberikan pada informasi, pendidikan dan pelatihan sebagai tanggapan yang efektif terhadap kekerasan online.

Sesi pertama akan memberikan informasi terkait hukum, mengenai peraturan saat ini, pelaku tanggapan hukum, dan kemungkinan hukuman yang akan diberikan kepada pelaku pelecehan di dunia maya.

Bagi kamu yang tidak ingin melewati lokakarya ini, segera daftarkan dirimu melalui link berikut: bit.ly/16DaysActivism-Workshop3

Pelatihan Pendampingan Pertama untuk para korban KBG & KBGO
Pembicara: Ika Putri Dewi, Psikolog – Yayasan Pulih
Register link: bit.ly/16DaysActivism-Training

Sesi kedua dari lokakarya ini berupa pelatihan yang lebih spesifik dengan jumlah peserta yang terbatas. Sesi ini akan menyoroti dan berfokus pada bagaimana perilaku yang tepat dan dapat dilakukan dalam mendukung dan mendampingi korban pelecehan online.

Bagikan:

WhatsApp
Facebook
Twitter