Penawaran Program Doktor dan Post-Doktoral CNES – 2023

CNES - PhD grants

Penawaran Program Doktor dan Post-Doktoral CNES telah dibuka hingga 15 Maret 2023 (Pukul 24.00 Waktu Paris). Setiap tahun, CNES mengalokasikan dana penelitian (disertasi dan post-doktoral) kepada mahasiswa Prancis dan luar Prancis pada bidang:

  • Ilmu Teknik (sistem orbit, sistem transportasi antariksa)
  • Ilmu Penggunaan Aset Antariksa (ilmu alam semesta, ilmu bumi, ilmu mikrogravitasi)
  • Ilmu Sosial dan Humaniora (hukum, sejarah, ekonomi, sosiologi, psikologi, dll.)

Informasi mengenai Penawaran Program Doktor dan Post-Doktoral beserta syarat dan ketentuan kandidat dapat dilihat pada tautan berikut : https://recrutement.cnes.fr/en/annonces (pilih PhD atau Post-doctorate pada menu Contracts). Penawaran ini terbuka bagi warga negara Indonesia. Prosedur aplikasi tetap sama, wawancara akan dilakukan melalui panggilan video atau telepon.

Pesta Sains di Bali: Melawan Polusi Plastik!

Pesta Sains di Bali

Setelah keberhasilannya di Bandung dan Jakarta, Pesta Sains kembali merayakan kesuksesannya di Bali pada tanggal 25 Januari 2023. Diselenggarakan oleh Institut Français Indonesia (IFI)Kedutaan Besar Prancis, berkolaborasi dengan Alliance Française Bali dan The SeaCleaners, Pesta Sains di Bali telah dihadiri oleh 80 peserta yang tidak hanya peduli terhadap persoalan polusi plastik di lautan, tetapi juga tertarik pada solusi-solusi perbaikannya.

Para peserta yang terutama terdiri dari para pelajar SMA Negeri 4 Denpasar serta mahasiswa Universitas Udayana, berkumpul di kawasan Pantai Mertasari di Sanur. Mereka mengikuti berbagai kegiatan dan permainan yang memancing mereka untuk memikirkan dampak polusi plastik, hubungannya dengan pemanasan global, solusi-solusi untuk mencegah sampah agar tidak berakhir di lautan, serta pilihan untuk mengganti penggunaan plastik di keseharian. Persoalan ini tidak bisa lagi tidak dihiraukan olehIndonesia. sebagai negara yang sangat bergantung pada kawasan pesisirnya.

Kesuksesan acara ini dapat tercapai berkat sinergi yang efektif dari para pihak yang terlibat:

  • Alliance Française Bali. Dengan tim yang terbiasa menyelenggarakan berbagai kegiatan budaya seiring dengan layanan kursus bahasa Prancis yang mereka tawarkan, Alliance Française Bali secara aktif berkontribusi pada penyelenggaraan Pesta Sains di Bali.
  • The SeaCleaners. Lembaga Swadaya Masyarakat Prancis yang baru-baru saja tiba di Indonesia ini, berkarya di atas kapal mereka yang bernama Mobula 8. The SeaCleaners, bekerja sama dengan Pemerintah Indonesia dan beberapa mitra lokal, memiliki misi untuk membersihkan kawasan-kawasan pesisir dan sungai-sungai di Bali dari sampah plastik. Pada perhelatan Pesta Sains di Bali, The SeaCleaners menawarkan berbagai materi edukasi yang kaya untuk meningkatkan kesadaran publik tentang persoalan ini serta menyajikan beberapa solusi. Pelajari lebih lanjut mengenai proyek mereka di Indonesia: Mobula Against Plastic Pollution (MAPP).
  • Asosiasi-asosiasi lainnya yang secara sukarela memperkaya interaksi di penyelenggaraan Pesta Sains di Bali, antara lain: Coral Triangle Center, Bye Bye Plastic Bags, Plastik Detox, dan Ocean Kita.

Penyelenggaraan kegiatan di Bali tersebut sekaligus menutup Pesta Sains di Indonesia edisi tahun 2022-2023 yang digelar oleh IFI – Kedutaan Besar Prancis di Indonesia. Tercatat sudah sebuah partisipasi yang menawarkan kepada publik kesempatan untuk bertemu sejumlah pakar ilmiah.

Dengan melebarkan sayap gerakan “IFI untuk Bumi” yang mengajak semua pihak bergotong royong untuk menyelesaikan berbagai persoalan lingkungan, berbagai aksi yang dilancarkan tidak hanya membuka akses sains untuk dimengerti banyak orang , namun jugadapat berguna bagi kita. Terima kasih kepada semua pihak yang telah terlibat menyukseskan acara ini!

Panggilan Pendaftaran: Program PhD IMCBio 2023 – Universitas Strasbourg

program beasiswa doktoral tahun 2023

Integrative Molecular and Cellular Biology (IMCBio) Graduate School – Universitas Strasbourg, meluncurkan panggilan pendaftaran internasional untuk program beasiswa doktoral tahun 2023.

Tenggat waktu pendaftaran daring: 1 Maret 2023 (pukul 12.00 CET)

Program interdisiplin ini menawarkan kepada para kandidat terpilih kontrak program doktoral berdurasi tiga tahun (dimulai tanggal 1 Oktober 2023), akses penggunaan fasilitas riset serta sesi-sesi pelatihan tingkat tinggi. Panggilan ini terbuka untuk kandidat internasional yang memiliki ijazah Master atau yang akan mendapatkannya pada tahun 2023. Program ini akan diselenggarakan dalam bahasa Inggris.

IMCBio Graduate School terdiri dari 5 lembaga penelitian: IGBMC, IBMC, IBMP, GMGM dan ILVD. Kelima lembaga penelitian ini mencakup seluruh bidang riset biologi seluler dan molekuler di berbagai level.

Dapatkan informasi lengkap termasuk mengenai berbagai subjek doktoral yang tersedia serta pendaftaran daring langsung di website IMCBio Graduate School: https://imcbio-phdprogram.unistra.fr/.

Para kandidat yang lolos tahap praseleksi akan dihubungi untuk melakukan wawancara daring mulai bulan April 2023.

Sekolah Musim Dingin IRASEC – Ilmu Sosial dan Humaniora

Apakah Anda mahasiswa S2 (Master) atau S3 (Doctorant) di bidang ilmu sosial dan humaniora?

Bergabunglah di Sekolah Musim Dingin Urban Theories Across Boarders (UTAB) yang akan berlangsung pada tanggal 5-17 Desember 2022 di Thailand dan Indonesia: di Chiang Mai (5-9 Desember) dan di Yogyakarta (12-17 Desember). Kegiatan ini diselenggarakan oleh Institut de Recherche sur l’Asie du Sud-est Contemporaine (IRASEC), bekerja sama dengan Universitas Trisakti, Universitas Chiang Mai, dan École Doctorale Paris-Est Ville, Transports et Territoires.

Sekolah internasional ini memberikan peluang kepada Anda untuk bertemu dengan peneliti-peneliti lain, melakukan studi di lapangan atau mendapatkan saran-saran berharga bila Anda berniat melanjutkan kuliah atau riset Anda di Prancis, terutama untuk program S3 dan beasiswa. Program sekolah musim dingin ini memungkinkan lahirnya pandangan kolaboratif mengenai permasalahan urban di Asia Tenggara, ditilik dari kacamata ilmu-ilmu sosial.

Manfaatkan kesempatan ini dan jangan ragu untuk mengirimkan pertanyaan-pertanyaan serta surat lamaran Anda via surel ke winterschool2022@irasec.com dengan melampirkan:

  • CV
  • Surat motivasi dalam bahasa Inggris
  • Deskripsi tentang proyek penelitian Anda (700-1.000 kata)
  • Nama dan surel dua dosen atau peneliti sebagai pemberi referensi
  • Salinan ijazah S2 atau transkrip nilai bila belum memiliki ijazah

Untuk informasi lebih lengkap, kunjungi halaman Facebook kegiatan dan lihat dokumen presentasi:

Dokumen presentasiUnduh di sini

Tenggat pendaftaran: 15 Agustus 2022

Booster untuk Tingkatkan Kerjasama ilmiah di Jawa Timur

Harapan besar perguruan tinggi di Indonesia untuk memperkuat kerjasama ilmiah dengan Prancis.

Apa yang tersisa dari kerja sama ilmiah Prancis-Indonesia setelah masa pandemi yang panjang ini? Keinginan sepuluh kali lipat untuk mengembangkan kerjasama dan memulai kolaborasi yang ambisius. Hal ini terlihat dari kunjungan Thierry GOUBIER, Atase Kerja Sama Sains & Teknologi baru untuk Indonesia, dalam kunjungannya ke beberapa universitas utama dan lembaga penelitian di Jawa Timur.

Bagi Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Prancis adalah mitra utama, seperti yang diutarakan oleh Bapak Rektor Prof. Dr. Ir. Mochamad Ashari, M.Eng. Hampir 20% pengajar-penelitinya merupakan lulusan Prancis. Pertukaran ini tidak pernah terputus; Sebanyak 14 mahasiswa bidang Teknik dari ITS berangkat menempuh studi ke Prancis semester ini. Harapan untuk tahun 2022 adalah agar dapat memobilisasi pendanaan untuk meningkatkan angka ini secara signifikan. Kelebihan ITS dalam hal inovasi dan R&D (Riset & Pengembangan) juga menjadikan ITS sebagai aktor utama yang istimewa untuk kerjasama terintegrasi di tingkat Eropa. Kunjungan ke Laboratorium Mekanika Batuan dan Tanah, Pusat Teknologi Informasi dan Robotika, serta Pusat Inovasi Kelautan, semakin menegaskan peluang tersebut.

Bagi Wakil Rektor Bidang Internasionalisasi, Digitalisasi dan Informasi Universitas Airlangga, Bapak M. Miftahussurur, dr., M.Kes., Sp.PD-KGEH., Ph.D., hubungan dengan Prancis bersifat “strategis”. Diinisiasi pada awal tahun 2011, kerjasama dengan Prancis masih perlu dikembangkan, khususnya di bidang ilmu Humaniora, terutama untuk kebutuhan baru : bidang hukum dan hubungan internasional. UNAIR diakui keunggulannya di bidang kesehatan : pertama kali mengidentifikasi varian Delta dan Omicron di Indonesia dan kini mengembangkan vaksin pertama Indonesia untuk melawan Covid, yang sedang dalam tahapan uji klinis. UNAIR juga memiliki 5 rumah sakit terafiliasi, ditambah satu rumah sakit kapal, yang bekerja sama dengan penduduk di pulau-pulau terpencil. Oleh karena itu, ada potensi yang besar untuk kerjasama dengan Prancis di bidang kesehatan dan praktik rumah sakit.

Proyek kerjasama baru juga akan diluncurkan dengan Universitas Brawijaya, satu-satunya universitas di Jawa Timur yang menawarkan gelar sarjana jurusan Bahasa dan Budaya Prancis. Universitas ini juga menjadi pusat ujian bahasa Prancis DELF-DALF tahun ini. Delegasi IFI juga bertukar pikiran dengan Wakil Rektor bidang Perencanaan & Kerjasama Prof. Dr. Ir. M. Sasmito Djati, MS., IPU dengan tujuan untuk mengembangkan mobilitas mahasiswa ke Prancis, termasuk untuk fakultas Pertanian, Kedokteran, Ilmu Komputer serta Ekonomi dan Bisnis. Dengan 70.000 mahasiswa, Universitas Brawijaya merupakan salah satu institusi terbesar di tingkat nasional dan telah mendidik mahasiswa dari seluruh wilayah Indonesia. Ini adalah lingkungan yang ideal untuk penyebaran dan pertukaran bahasa dan budaya Prancis.

Panggilan Proyek Penelitian Science et Impact – Maret 2022

Sesi Maret 2022: Tenggat pendaftaran 25 Februari 2022

Dalam rangka penguatan kerja sama sains dan teknologi antara Prancis dan Indonesia, Kedutaan Besar Prancis di Indonesia dan Timor Leste meluncurkan kembali program “Science et Impact”. Program ini melengkapi program-program yang telah ada atau yang sedang dipersiapkan, sehingga menjadi sebuah perangkat lengkap kerja sama sains dan teknologi.

Kedutaan Besar Prancis di Indonesia bermaksud menyediakan sebuah pendanaan yang fleksibel, reaktif, dan mudah untuk mendukung kerja sama sains dan teknologi. Tujuan program ini adalah mendukung para aktor Prancis untuk terus melanjutkan kerja sama mereka dengan Indonesia dan dengan Timor Leste, serta menjawab beragam kebutuhan seperti konferensi sains, sidang disertasi, magang, seminar, survei/angket, terjemahan, dll. Hibah ini bermaksud untuk membantu para pelaku sains dalam memperkuat atau menginisiasi kerja sama yang terjalin antara institusi Prancis dan institusi di Indonesia atau di Timor Leste.

Sebuah realisasi yang berdampak dari setiap proyek yang didanai diharapkan dapat mengilustrasikan impak dari sains dan secara khusus dari kerja sama antara Prancis – Indonesia atau Prancis – Timor Leste. Tidak ada batasan tema untuk program ini.

Dana yang disediakan untuk setiap proyek maksimal 10.000 euro; pendanaan rata-rata sejak Oktober 2016 adalah sekitar 4.000 euro per proyek.

Bantuan dana ini berupa subsidi yang disalurkan kepada institusi berbadan hukum di Prancis. Sebelum dana ditransfer, penerima wajib membuat surat pernyataan yang menyatakan bahwa pengirim dibebaskan dari biaya transfer. Tidak diperlukan Surat Perjanjian antara Kedutaan Besar Prancis dan lembaga yang bersangkutan karena pendanaan ini bersifat sepihak.

Untuk pendaftaran silahkan isi formulir online di bawah ini:


Formulir Science et Impact Maret 2022

Perhatian

  • Satu formulir per proyek yang akan diterima.
  • Sekali terkirim, formulir tidak dapat diubah atau dibatalkan.

Untuk informasi selengkapnya, silahkan mengunduh Panggilan Proyek Penelitian Science et Impact Maret 2022

Untuk pertanyaan lebih lanjut, Anda dapat menghubungi Kantor Kerja Sama Sains dan Teknologi melalui surel projet@ifi-id.com.

One Ocean Science

Laut memainkan peran yang penting dalam upaya pencegahan perubahan iklim. Kenapa? Apa saja tantangan dan solusinya?

Pada 25 Oktober 2021, komunitas internasional di bidang ilmu kelautan berusaha menjawab seluruh pertanyaan Anda dengan menyelenggarakan acara digital : #OneOceanScience. Program ini membawakan suara para ilmuwan dari seluruh dunia guna menunjukkan bahwa studi tentang kelautan merupakan alat untuk mengetahui cara atau upaya dalam mengatasi perubahan iklim dan dampaknya.

Program global ini diprakarsai oleh Lembaga Penelitian Prancis untuk Ekploitasi Laut (IFREMER) bersama dengan IRD, CNRS dan juga LIPI RCO.

Temukan banyak video dan informasi seputar kampanye ini di oneoceanscience.com mulai dari 25 Oktober 2021!

Cuplikan video tersedia pada tautan ini.

Panggilan Proyek Penelitian “Science et Impact” September 2021

Sesi September: Tenggat pendaftaran 15 September 2021

Dalam rangka penguatan kerja sama sains dan teknologi antara Prancis dan Indonesia, Kedutaan Besar Prancis di Indonesia meluncurkan kembali program “Science et Impact”. Program ini melengkapi program-program yang telah ada atau yang sedang dipersiapkan, sehingga menjadi sebuah perangkat lengkap kerja sama sains dan teknologi.

Kedutaan Besar Prancis di Indonesia bermaksud menyediakan sebuah pendanaan yang fleksibel, reaktif, dan mudah untuk mendukung kerja sama sains dan teknologi. Tujuan prorgam ini adalah mendukung para aktor Prancis untuk terus melanjutkan kerja sama mereka dengan Indonesia dan menjawab beragam kebutuhan seperti konferensi sains, sidang disertasi, magang, seminar, survei/angket, terjemahan, dll.

Sebuah realisasi yang berdampak dari setiap proyek yang akan didanai diharapkan dapat mengilustrasikan impak dari sains dan secara khusus dari kerja sama Prancis – Indonesia. Tidak ada batasan tema untuk program ini.

Dana yang disediakan untuk setiap proyek maksimal 10.000 euro; pendanaan rata-rata sejak Oktober 2016 adalah sekitar 4.000 euro per proyek.

Bantuan dana ini berupa subsidi yang disalurkan kepada institusi berbadan hukum di Prancis. Sebelum dana ditransfer, penerima wajib membuat surat pernyataan yang menyatakan bahwa pengirim dibebaskan dari biaya transfer. Tidak diperlukan Surat Perjanjian antara Kedutaan Besar Prancis dan lembaga yang bersangkutan karena pendanaan ini bersifat sepihak.

Untuk pendaftaran silahkan isi formulir online di bawah ini:

Formulir Science et Impact September 2021

Perhatian

  • Satu formulir per proyek yang akan diterima.
  • Sekali terkirim, formulir tidak dapat diubah atau dibatalkan.

Untuk informasi selengkapnya, silahkan mengunduh Panggilan Proyek Penelitian Science et Impact Sept 2021
dan untuk pertanyaan, anda dapat menghubungi Kantor Kerja Sama Sains dan Teknologi melalui surel projet@ifi-id.com

Bagaimana Virus Korona Membangkitkan Kecerdasan Kolektif Dunia

Ditulis oleh Marc Santolini, salah satu Pendiri dan Direktur Riset Just One Giant Lab, Universitas Paris

Di seluruh penjuru dunia, para ahli epidemiologi, praktisi, insinyur, dan masih banyak lagi, tanpa kenal lelah mendayagunakan keberlimpahan data epidemi virus korona untuk membuat model kemajuannya, memprediksi dampak dari intervensi yang mungkin dilakukan, serta mengembangkan berbagai solusi untuk menyiasati kekurangan peralatan medis.

Mereka membuat berbagai model dan kode terbuka yang bisa dan boleh dipergunakan oleh laboratorium lain.

Dunia riset dan inovasi nampaknya sedang tenggelam dalam hiruk-pikuk kolaborasi dan produksi pengetahuan bersama yang daya tularnya sama hebatnya dengan virus korona.

Mungkinkah ini yang disebut dengan “kecerdasan kolektif”, konsep terkenal yang digadang-gadang bisa memecahkan masalah-masalah pokok planet kita?

 


Sains, sebuah jaringan yang dibangun di pundak para raksasa

 

Pada tahun 1675, Newton telah menuliskannya: “Jika jarak pandangku bisa lebih jauh, itu karena aku berdiri di pundak para raksasa.”


Sejak saat itu, pengakuan terhadap konsep kecerdasan kolektif tersebut telah menjadi standar dalam praktik penelitian ilmiah. Dalam dunia sains dan ilmu teknik saat ini, 90% terbitan ilmiah ditulis secara berkelompok.


Tiga dasawarsa terakhir, kemunculan internet dan kemudia media sosial telah mengacaukan batasan-batasan tradisional tentang kecerdasan kolektif: mulai dari masyarakat “ilmuwan” yang eksklusif, tidak transparannya sistem peninjauan oleh rekan sejawat, hingga jurnal ilmiah yang hanya bisa diakses secara berbayar.


Dunia penelitian akademik mengalami kemudahan teknologi dan keterbukaan informasi yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang memudahkan para pelaku dari latar belakang yang sedemikian beragam berinteraksi secara langsung dan merata. Kini, kita menyaksikan pesatnya peningkatan jumlah jurnal ilmiah yang dapat diakses secara terbuka, serta situs-situs arsip artikel ilmiah.


Di luar sistem akademik, berbagai komunitas non lembaga juga bermunculan. Para peretas, peretasbio, bahkan makers secara mandiri mengorganisasi diri mereka dalam jaringan dan berpartisipasi dalam ikhtiar produksi pengetahuan bersama. “Tanah subur” inilah yang melahirkan respons yang belum pernah ada sebelumnya ketika kita menghadapi krisis akibat Covid-19.

 

 

Covid-19 membangkitkan kecerdasan kolektif

 

Pada awal epidemi, kita dapat menyaksikan bagaimana penelitian “tradisional” mengalami percepatan dan berkenan membuka hasil penelitiannya kepada publik. Berbagai jurnal bergengsi seperti Science, Nature, bahkan The Lancet yang biasanya memberlakukan akses berbayar untuk artikel-artikel ilmiah mereka, kini memberikan akses cuma-cuma kepada publik yang ingin membaca terbitan mereka tentang virus korona dan Covid-19.


Data-data mengenai perkembangan epidemi ini diperbaharui setiap hari. Data yang disajikan Universitas John Hopkins, misalnya, adalah buah dari kerja terbuka dan kolaboratif yang telah diguna ulang sebanyak hampir 9 ribu kali di platform kolaborasi GitHub oleh berbagai proyek penelitian pihak ketiga.


Berbagai hasil analisis dipublikasi secepat-cepatnya di sejumlah server prapublikasi yang dapat diakses bebas atau bahkan di situs-situs web laboratorium. Algoritma dan visualisasi interaktif diunggah di GitHub, sedangkan video-video edukasi dengan bahasa yang mudah dipahami diunggah di Youtube.


Angkanya sungguh mencengangkan. Hingga hari ini ada lebih dari 45 ribu artikel akademik mengenai Covid-19 yang telah dipublikasi.


Baru-baru ini, sejumlah inisiatif masyarakat non lembaga yang terdiri dari para pelaku dengan latar belakang berbeda mulai bermunculan; mereka menggunakan berbagai platform daring. Misalnya, sebuah komunitas ahli biologi, insinyur, dan pengembang terbentuk di platform Just One Giant Lab (JOGL). Mereka mengembangkan berbagai alat berbiaya murah dan bersumber terbuka untuk mengatasi virus korona. Platform yang kami rancang bersama Léo Blondel (Harvard) dan Thomas Landrain (La Paillasse, PILI) sejak tiga tahun terakhir ini, bertujuan untuk menjadi sebuah pusat riset virtual, terbuka, dan terdistribusi di seluruh dunia.


Platform Just One Giant Lab memungkinkan berbagai komunitas untuk mengatur kinerja mereka secara mandiri guna memberikan solusi yang inovatif untuk berbagai permasalahan mendesak yang membutuhkan kompetensi interdisipliner dan pengetahuan lapangan. Platform ini berperan sebagai fasilitator yang mempermudah koordinasi dengan cara menghubungkan kebutuhan dengan sumber dayanya di tengah masyarakat, dan mengorganisasi program-program penelitian serta tantangannya.


Khususnya, penggunaan sistem rekomendasi yang memungkinkan terjadinya pemilahan informasi agar para kontributor dapat mengikuti jalannya aktivitas dan mengetahui kebutuhan-kebutuhan terpenting komunitasnya – dengan melenturkan mekanisme kolaborasi yang mempermudah kinerja kecerdasan kolektif. 


Saat proyek Covid-19 pertama lahir empat minggu yang lalu – berupa tes diagnosis bersumber terbuka dan berbiaya rendah –, ada kesibukan yang nyata di platform ini. Jumlah kontribusi meningkat setiap menitnya: ratusan interaksi, inisiasi proyek, diskusi, dsb. Sampai-sampai server yang kami gunakan tidak kuat menampungnya! Hanya dalam waktu satu bulan ada lebih dari 60 ribu pengunjung yang berasal dari 183 negara; 3 ribu di antaranya adalah kontributor aktif yang menelurkan 90 proyek, mulai dari desain masker pelindung hingga prototipe ventilator berbiaya rendah.


Komunitas masif ini dengan cepatnya mengatur diri secara mandiri untuk bekerja dalam sub-subkelompok yang para anggotanya memiliki bermacam kompetensi dan membentuk semestanya sendiri: data scientist dari perusahaan-perusahaan besar, antropolog, insinyur, dan ahli biologi, semuanya bahu-membahu bekerja di ruang kerja virtual ini.


Anggota paling aktif yang menjadi koordinator komunitas ini adalah seorang siswa SMA berusia 17 tahun dari Seattle! Inisiatif ini kini telah menjadi sebuah program penelitian seutuhnya, bernama OpenCOVID19, dengan pendanaan sebesar 100 ribu euro dari Axa Research Fund yang diperuntukkan bagi proyek-proyek yang dikembangkan sesuai rekomendasi komunitas, bekerja sama dengan AP-HP untuk mempermudah evaluasi dan validasi desain-desain peralatan kesehatan, serta berbagai hal pokok lainnya: diagnostik, pencegahan, perawatan, dan bahkan analisis data serta pemodelan.




Peta klaster kompetensi para partisipan platform JOGL pada proyek Covid-19 dan interaksi mereka.

Marc Santolini, JOGL, CRI, penulis artikel.

 

Pengorganisasian mandiri komunitas-komunitas tersebut telah menjadi hak prerogatif dunia sumber terbuka (open-source) dan induk dari berbagai proyek masif, seperti Linux. Model kerja mereka kini kian terlihat perannya dalam penyelesaian masalah-masalah global dan multidisiplin, yaitu dengan mendayagunakan keragaman kompetensi untuk menyelesaikan berbagai masalah kompleks.

 

 

Apakah yang dimaksud dengan kecerdasan kolektif?

 

Bila kita bisa mengukur kecerdasan individu melalui serangkaian tes kecerdasan yang dengannya kita dapat menentukan nilai IQ seseorang, mengapa kita tidak bisa mengukur kecerdasan sebuah kelompok melalui tes kecerdasan kolektif?


Pada tahun 2010 sejumlah peneliti menunjukkan keberadaan “faktor kunci” kecerdasan kolektif yang bisa memprediksi kinerja suatu kelompok dalam menyelesaikan beragam tugas.


Agar suatu kelompok dapat memaksimalkan kecerdasan kolektifnya, kelompok tersebut tidak harus berisikan orang-orang dengan IQ tinggi. Terpenting adalah kepekaan sosial para anggotanya. Artinya, kemampuan mereka untuk berinteraksi secara efektif dan berkomunikasi secara sehat, atau bahkan keragaman dalam komposisi para anggotanya, terutama proporsi perempuan dalam kelompok mereka.


Dengan kata lain, sebuah kelompok yang cerdas bukanlah kelompok yang terdiri dari individu-individu cerdas, tetapi kelompok yang berisikan individu-individu beragam yang tahu caranya berinteraksi dengan benar. Dan kami, para pendiri JOGL, menyimpulkan: “Sepertinya lebih mudah untuk meningkatkan kecerdasan kolektif sebuah kelompok ketimbang kecerdasan individu. Pertanyaan selanjutnya adalah: dapatkah kita meningkatkan kecerdasan kolektif tersebut, misalnya, dengan membuat sebuah alat kolaborasi daring?”


Itulah visi kami saat membuat platform JOGL, yaitu dapat mengukur perkembangan komunitas dan progres berbagai proyek kerja dalam waktu nyata, yang memungkinkan terbentuknya koordinasi yang lebih baik untuk pelaksanaan berbagai program, salah satunya tentu saja Covid-19.


Data-data ini juga menawarkan tolok ukur kuantitatif “tata laksana yang baik” yang memfasilitasi kecerdasan kolektif dan mendorong kemajuan penelitian-penelitian mendasar mengenai seluruh kolaborasi yang kami lakukan dalam tim penelitian saya di Pusat Penelitian Interdisipliner Paris. Bahkan, dengan menggunakan alat-alat ilmu jaringan, kami dapat mempelajari bagaimana dinamika kolaboratif ini mendukung kemajuan pengetahuan.

 

 

Antusiasme sesaat atau pergerakan berkelanjutan?

 

Bagaimana revolusi ini dapat bertahan? Bila ada pelajaran yang bisa kita ambil dari “hackaton”, acara kolaborasi pengembangan proyek perangkat lunak yang menggunakan prinsip kecerdasan kolektif untuk melahirkan berbagai proyek hanya dalam satu atau dua hari, kesulitannya adalah bagaimana caranya agar proyek-proyek tersebut tetap berkelanjutan setelah kemeriahan acara tersebut selesai.


Meskipun terlalu cepat bila kita menyimpulkan hal ini sekarang – dalam kasus OpenCOVID19 –, ada beberapa cara untuk melanggengkan masa depan gerakan kolaborasi masif seperti ini.


Sebuah kesamaan dari komunitas-komunitas yang cepat kilat pertumbuhannya adalah mereka rentan bingung! Siapa yang harus dihubungi untuk menyelesaikan masalah ini dan itu, atau siapa yang bisa menjawab pertanyaan ini dan itu? Solusinya adalah merumuskan “skema minat” yang bisa memandu para partisipan menuju klaster yang sesuai dengan bakat mereka, sehingga mereka bisa bekerja maksimal untuk perkembangan suatu proyek. Dalam istilah lain: sistem rekomendasi, algoritma yang sama yang sukses dipakai oleh berbagai media sosial, seperti Twitter, Instagram, dan Facebook, sistem yang menjadi cikal bakal komunitas-komunitas tersebut.


Metode tersebut – yang dibuat berdasarkan prinsip-prinsip ilmu manajemen kelompok dan ilmu jaringan – bekerja dengan cara melacak jejak-jejak digital para anggota komunitas (interaksi, diskusi, proyek yang telah direalisasikan, kompetensi) untuk mendapatkan gambaran dalam arus aktivitas: siapa orang yang harus dihubungi, proyek mendesak mana yang perlu dibantu, atau bahkan tugas apa yang paling masuk akal untuk dilakukan selanjutnya.


Di jantung struktur JOGL, algoritma seperti itu juga memungkinkan terjadinya pertemuan-pertemuan acak yang secara tak terduga justru bermanfaat untuk pengembangan sebuah proyek.


Pengembangan algoritma rekomendasi yang mempermudah terbentuknya kolaborasi-kolaborasi masif tersebut membutuhkan kontribusi berbagai disiplin ilmu, mulai dari informatika, matematika, etika hingga ilmu sosial. Pada akhirnya, masa depan kecerdasan kolektif bertumpu pada dirinya sendiri. Sebab, hanya kecerdasan kolektiflah yang bisa menentukan masa depannya sendiri.


Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh The Conversation France. Klik di sini untuk membaca versi aslinya.