Sains dalam 3 Menit: Kilas Balik Final Kompetisi MT180 Indonesia 2025

Jumat, 15 Agustus 2025, Institut français d’Indonésie (IFI) menyelenggarakan final nasional kompetisi Ma Thèse en 180 secondes (MT180).

Lima mahasiswa doktor dan lulusan doktor muda yang fasih berbahasa Prancis, secara bergantian naik ke atas panggung untuk menghadapi sebuah tantangan besar. Di atas panggung, mereka mempresentasikan penelitian disertasi dengan bahasa yang jelas, mudah dicerna dan menarik, hanya dalam waktu 180 detik. Tantangan yang menggabungkan penyampaian ilmu pengetahuan secara sederhana dan keterampilan berbicara ini, telah memukau penonton dan para juri yang terdiri dari para ahli di bidang penelitian, komunikasi sains dan Bahasa Prancis.

Para Pemenang Tahun Ini

Juara 1 
Jakty Kusuma (Université de Montpellier & AgroParisTech
dengan presentasi bertajuk “ Gen dan Bajak Laut: Jelajah Molekuler di Balik Perang Pala bersama Pierre Poivre” 
berhasil meraih pendanaan hingga 1 500 € untuk mengikuti konferensi ilmiah internasional.

Juara 2 
Soleh Fajar Junjunan (INSA Centre Val de Loire & BRIN
dengan presentasi bertajuk “Bagaimana cara memadamkan kebakaran mesin dengan cepat dan efektif?” 
berhasil meraih pendanaan hingga 1 000 € untuk mengikuti konferensi ilmiah internasional.

Juara 3  
Acintya Ratna Priwati (Université Paris Cité & Universitas Gadjah Mada
dengan presentasi bertajuk “Menjadi orang Indonesia atau Prancis: bagaimana kita memandang masa lalu dan masa depan kita bersama?” 
berhasil meraih pendanaan hingga 500 € untuk mengikuti konferensi ilmiah internasional.

Adapun dua finalis lainnya yakni Harry Octavianus Sofian (Université Paris Nanterre & BRIN) dengan presentasi berjudul “Menelusuri asal-usul artefak logam dan manik-manik kaca di bagian selatan Sumatra” dan Bayu Suseno (IPB University) dengan presentasi berjudul “Memprediksi panen padi dari luar angkasa… bahkan saat langit mendung”. Keduanya juga memikat penonton dengan kualitas dan keunikan presentasi mereka.

Sebuah Acara yang Kaya akan Pertukaran Ide

Selain presentasi finalis, penonton juga menyimak pengalaman yang dibagikan oleh pelatih para finalis, Kirana Hernanda, serta presentasi kesempatan studi ke Prancis yang disampaikan oleh Campus France Indonesia. Tak hanya itu, sebuah kuis interaktif turut memeriahkan suasana yang hangat sekaligus menguji pengetahuan penonton.

Undangan khusus dan anggota juri pada edisi ini, Dr. Riza Putranto (lulusan doktor bidang biologi molekuler dari Université de Montpellier dan komunikator sains yang aktif di media sosial) berhasil membuka pandangan unik tentang persiapan kandidat dalam upaya menyampaikan ilmu pengetahuan kepada publik.

Sains untuk Semua

Diselenggarakan di Indonesia oleh IFI sejak tahun 2016, kompetisi MT180 bertujuan untuk mendekatkan penelitian dengan Masyarakat umum dan mempromosikan kemampuan komunikasi dan penelitian para mahasiswa doktor dan doktor muda. Selain tantangan untuk menceritakan hasil penelitian selama 3-4 tahun secara jelas dalam waktu 3 menit dan dalam bahasa Prancis, MT180 Indonesia mencerminkan kedinamisan kerja sama ilmiah dan akademik antara Prancis dan Indonesia.

Untuk informasi lebih lanjut terkait panggilan proyek penelitian dan kesempatan beasiswa penelitian, silakan kunjungi tautan berikut.

Simak kembali final 2025 !

Ringkasan Presentasi Finalis “Ma Thèse en 180 secondes” (MT180) Indonesia 2025

Harry Octavianus Sofian

Nama saya Harry Sofian, saya seorang arkeolog.
Disertasi saya tentang sejarah perdagangan logam dan manik-manik kaca di selatan Sumatra sungai Musi dan Batanghari, serta pegunungan Bukit Barisan. Lanskap geografis Musi dan Batanghari unik karena terdapat desa-desa pesisir kuno, pusat-pusat Hindu dan Buddha. Namun, di pegunungan Bukit Barisan terdapat tradisi megalitik di mana penduduk menggunakan batu-batu besar untuk upacara keagamaan.

Penelitian saya bertujuan untuk mengeksplorasi pertukaran benda-benda mineral dan teknologi antara budaya megalitik dan Hindu-Buddha. Saya menganalisis sekitar tiga puluh logam dan dua ratus manik-manik kaca. Hasilnya menunjukkan bahwa logam-logam tersebut merupakan produk lokal Sumatra. Namun, manik-manik kaca diimpor dari India, Mesopotamia, dan Mesir.

Kesimpulannya, jelas bahwa terdapat perdagangan antar kawasan yang luas Hal ini telah terjadi sejak 2000 tahun yang lalu di Asia Tenggara. Artinya, manusia telah bergantung pada sumber daya mineral sejak lama. Dan sekarang, apakah kita bisa hidup tanpa logam atau manik-manik kaca?
Andalah yang dapat menjawabnya.
Terima kasih banyak atas perhatian Anda.

Bayu Suseno

Halo semuanya.
Nama saya Bayu dan saya orang Indonesia.
Bagaimana menjadi orang Indonesia ? Mudah, makan nasi setiap hari. Makan tanpa nasi bukan
benar-benar makan bagi kami ! Sampai dengan 2025, beras tetap menjadi makanan pokok di Indonesia.

Pemerintah melakukan banyak program untuk menjamin ketersediaan beras dan meningkatkan
kesejahteraan petani. Pemerintah memantau sawah-sawah menggunakan survei lapangan. Metode ini presisi namun mahal untuk dilakukan pada wilayah yang luas seperti Indonesia. Apakah ada alternatif lain ? Ya, satelit ! Satelit bisa mengamati lahan pertanian di mana saja secara teratur dan bahkan gratis. Tapi ada sebuah masalah : Awan ! Di Indonesia, pada musim penghujan terdapat banyak awan yang bisa menghalangi pandangan satelit.

Lalu apa yang bisa dilakukan ? Apakah kita membutuhkan bantuan Rara, seorang pawang hujan untuk mengusir awan seperti saat MotoGP di Mandalika tahun 2022 ?
Tentu saja TIDAK !
Dalam penelitian saya, saya menemukan sebuah metode yang lebih masuk akal : MRTS-Boosting. Metode ini menggunakan data satelit untuk memantau sawah-sawah dengan lebih presisi meskipun pada saat musim penghujan.

Sebagai Kesimpulan, dengan MRTS-Boosting, pemerintah bisa memantau sawah-sawah dengan lebih presisi namun murah, dan …. Tanpa perlu memanggil Rara !
Terimakasih banyak atas perhatian Anda !

Soleh Fajar Junjunan

Halo semuanya!

Bayangkan sebuah truk besar berisi pasir Merapi, atau bus penuh penumpang, sedang melaju di jalan tol. Dan boom! Tiba-tiba, asap keluar dari kap mesin.

Itu api!
Panik!
Kebakaran ini sangat berbahaya bagi semua orang di dalam atau di luar kendaraan.

Sejak lama, untuk memadamkan api jenis ini, terutama pada kendaraan militer, orang-orang menggunakan gas: Halon. Masalahnya, gas ini merusak lapisan ozon. Jadi, bagaimana cara menemukan solusi yang efektif dan ramah lingkungan? Di sinilah disertasi saya berperan.

Saya mempelajari sistem yang disebut water mist. Sederhananya, ini adalah air yang diubah menjadi ribuan tetesan kecil, hampir seperti kabut. Tetesan ini memiliki kekuatan super: memadamkan api dengan menyerap panas dan mengurangi oksigen di sekitar api.

Selain itu, itu air… jadi bagus untuk lingkungan!

Untuk menguji semua ini, saya membuat ulang kebakaran nyata pada mesin kendaraan besar, tentu saja dengan aman! Kemudian saya menyemprotkan kabut air untuk melihat bagaimana
reaksinya berdasarkan beberapa parameter: tekanan air, penambahan aditif, termasuk
pengaruh ventilasi.

Hasilnya? Sangat baik!
Kabut air berhasil memadamkan api yang disebabkan oleh bensin atau oli, asalkan tekanan airnya sesuai. Aditif juga dapat meningkatkan efektivitasnya, jadi layak untuk dieksplorasi.

Singkatnya, disertasi saya mengusulkan solusi otomatis, efektif, ramah lingkungan, dan lebih aman untuk memadamkan kebakaran pada kendaraan besar. Berkat teknologi ini, truk, bus, dan bahkan kendaraan militer di masa depan akan dapat melindungi diri dari kebakaran dan melindungi penumpang… juga planet ini.

Terima kasih banyak atas perhatiannya!

Acintya Ratna Priwati

Acintya memiliki dua orang sahabat, Julia dari Indonesia dan Julie dari Prancis. Sebuah pertanyaan sederhana melintas di pikirannya, apa arti menjadi orang Indonesia atau orang Prancis? Apakah terkait tempat lahir, keluarga, maupun bahasa?

Di negara Barat seperti Prancis, pertanyaan ini sering diajukan, namun jarang di Indonesia. Untuk menjawabnya, ia menggali pertanyaan kepada lebih dari 1800 orang Indonesia dan lebih dari 700 orang Prancis. Pertanyaan yang diajukan meliputi arti menjadi orang Indonesia atau orang Prancis, peristiwa negara yang dianggap paling berkesan, dan pandangan mereka tentang masa depan negara.

Hasil menunjukkan bahwa orang Indonesia banyak membicarakan mengenai keluarga, asal usul, dan rasa bangga pada masa lalu negara, serta lebih positif mengenai masa depan negara. Jika diilustrasikan, ada “garis” yang naik dari masa lalu ke masa depan. Sementara orang Prancis menunjukkan “garis” yang sedikit menurun. Mereka lebih focus pada nilai-nilai, hukum, dan cenderung lebih khawatir mengenai masa depan
negaranya.

Kesimpulannya, cara kita memandang masa lalu dan masa depan negara dipengaruhi oleh budaya. Di Indonesia, kehidupan personal dan sosial bercampur (kecenderungan kolektivis) sementara di Prancis keduanya dipisahkan (kecenderungan individualis). Setiap negara memiliki latar belakang budayanya masing-masing, dan dengan mengenalinya, dapat membantu kita untuk memahami satu sama lain dengan lebih
baik.

Jakty Kusuma

Dulu, di pulau-pulau jauh Maluku, ada pohon kecil yang tenang namanya pala. Si pala ini nggak nyangka bakal jadi pusat dari kisah soal kekuasaan dan perdagangan yang heboh. Buah pala dulu termasuk rempah paling mahal: dipakai untuk obat, dan tentu saja buat bumbu supaya masakan makin harum.

Karena itu, Eropa berdatangan ke Maluku. Tujuan mereka jelas: kuasai perdagangan pala. Orang Belanda, lewat VOC-nya, menganggap pala itu seperti “debu emas”. Mereka mau monopoli total. Semua serba dikontrol supaya harga dan suplai tetap milik mereka.

Lalu muncul satu tokoh unik: Pierre Poivre, orang Prancis, sekaligus misionaris, tukang kebun, dan sedikit nekat macam pelaut bajak laut. Tujuan dia: memecah monopoli Belanda. Caranya? Nyuri (eh, menyelundupkan) biji pala, simpan di kantong kain, dan bawa jauh-jauh, dari Indonesia sampai Réunion. Intinya: dia bawa pala keluar dari cengkraman VOC.

Dalam tesis ini aku pakai alat molekuler untuk melacak asal usul pala. Hasilnya? Semua pala yang sekarang tersebar di dunia, dari Karibia sampai Madagaskar, secara genetik ternyata berasal dari Maluku Selatan. Jadi, hipotesisnya benar: sumber utama penyebaran pala global itu memang dari situ. Dan ya, bukti genetiknya cocok banget sama cerita sejarah, yang mana Pierre Poivre memang dapat bijinya dari Maluku Selatan.

Antara petualangan dan ilmu, kisah ini menghargai lelaki yang, dengan tas kain di pundak dan sedikit keberanian, berhasil mengubah nasib sebuah pohon… dan mungkin sedikit mengubah jalannya sejarah perdagangan rempah.

Jadi… bangga atau nyesel? 😉
Saya Jakty — terima kasih atas perhatiannya

Jangan Lewatkan Final Kompetisi “Ma Thèse en 180 secondes” (MT180) – Indonesia 2025

Lima mahasiswa doktor dan lulusan doktor muda akan beradu untuk memukau penonton dan juri dalam waktu masing-masing tiga menit.

Ayo datang untuk menjelajahi sains dengan cara baru pada Jumat, 15 Agustus 2025, Pukul 17.00-19.00 WIB di Auditorium Institut français d’Indonésie Jakarta (Thamrin). Final nasional kompetisi “Ma Thèse en 180 Secondes” (Disertasiku dalam 180 Detik) akan mempertemukan lima mahasiswa doktor dan doktor muda Indonesia yang berbakat untuk sebuah tantangan unik, yakni mempresentasikan penelitian mereka di depan publik dalam Bahasa Prancis dalam waktu tiga menit dengan jelas, penuh semangat dan dengan sentuhan humor.

Kompetisi ini dilahirkan di Australia (Three Minute Thesis) dan diadaptasi ke dalam dunia frankofon oleh Acfas pada tahun 2012. Format MT180 menonjolkan  kemampuan menyampaikanilmu pengetahuan secara sederhana dan keterampilan berbicara di depan umum, serupa dengan “TED Talks”. Diselenggarakan sejak tahun 2016 oleh Institut français d’Indonésie, acara ini menyoroti para peneliti muda dan memperkuat hubungan antara Prancis dan Indonesia.

Inilah para finalis tahun 2025 dan topik penelitiannya (disusun sesuai urutan tampil):

  1. Harry Octavianus Sofian (Université Paris Nanterre & BRIN)
    Menelusuri asal-usul artefak logam dan manik-manik kaca di bagian selatan Sumatra
  2. Bayu Suseno (IPB University)
    Memprediksi panen padi dari luar angkasa… bahkan saat langit mendung
  3. Soleh Fajar Junjunan (INSA Centre Val de Loire & BRIN)
    Bagaimana cara memadamkan kebakaran mesin dengan cepat dan efektif?
  4. Acintya Ratna Priwati (Université Paris Cité & Universitas Gadjah Mada)
    Menjadi orang Indonesia atau Prancis: bagaimana kita memandang masa lalu dan masa depan kita bersama?
  5. Jakty Kusuma (Université de Montpellier & AgroParisTech)
    Gen dan Bajak Laut: Jelajah Molekuler di Balik Perang Pala bersama Pierre Poivre

Setelah presentasi, tim juri yang terdiri dari para ahli di bidang sains dan Bahasa Prancis akan melakukan penilaian. Sembari menunggu penilaian juri, sebuah program interaktif akan menghibur para hadirin: kesan pesan dari pelatih peserta MT180, presentasi dari Campus France, dan kuis bersama penonton. Acara malam ini akan ditutup dengan penyerahan hadiah dan resepsi dengan suguhan ringan.

Hari, tanggal: Jumat, 15 Agustus 2025
Waktu:  Pukul 17.00-19.00 WIB (tersedia suguhan ringan)
Tempat: Auditorium IFI Thamrin, Jakarta
Gratis dengan pendaftaran melalui tautan ini https://bit.ly/MT180-ID-2025
Acara diselenggarakan dalam Bahasa Prancis, dengan terjemahan sebagian dalam Bahasa Indonesia.

Mission (im)possible – Ayo Mahasiswa Doktor, Daftarkan Diri Anda pada Kompetisi “Ma Thèse en 180 secondes” (MT180) Indonesia 2025! 

Apakah Anda adalah peneliti muda yang siap menjalankan misi? Ini saatnya beraksi! 

Kompetisi Disertasiku dalam 180 Detik (Ma Thèse en 180 secondes – MT180) kembali hadir untuk edisi yang ke-8 di Indonesia. Apabila Anda menyanggupi, misi Anda adalah mempresentasikan topik disertasi dalam 180 detik, dalam Bahasa Prancis, dengan hanya menggunakan satu slide presentasi, dan meyakinkan publik yang awam. 

Mengapa harus mencoba misi ini? 

  • Untuk memperkenalkan dan menjelaskan penelitian Anda kepada masyarakat umum 
  • Untuk mempertajam kemampuan Anda dalam berkomunikasi secara lisan, sekaligus mempopulerkan riset
  • Untuk bergabung dalam jaringan peneliti muda Indonesia frankofon yang aktif 
  • Dan untuk merasakan pengalaman unik… di bawah tekanan! 

Keuntungan yang diperoleh: 

  • Pelatihan profesional untuk mempopulerkan riset, berkomunikasi secara verbal maupun non-verbal, serta menulis naskah
  • Acara final akan diselenggarakan di Jakarta, pada 15 Agustus 2025 dan sertifikat partisipasi tersedia untuk peserta
  • Pemenang akan meraih beasiswa perjalanan (hingga 1 500 €)* untuk mengikuti konferensi ilmiah internasional
  • Untuk informasi lebih lanjut, silakan pelajari peraturan kompetisi di bawah ini


Lihat Peraturan Kompetisi MT180 Indonesia 2025

Ketentuan untuk berpartisipasi : 

  • Berkewarganegaraan Indonesia
  • Terdaftar sebagai mahasiswa doktor pada tahun ajaran 2024/2025; atau telah menyelesaikan disertasi Anda di antara tahun 2023 dan 2024
  • Mampu mempresentasikan disertasi Anda dalam bahasa Prancis (tersedia pelatihan untuk membantu Anda!)
  • Belum pernah menjadi finalis nasional di kompetisi-kompetisi MT 180 sebelumnya
  • Bersedia hadir secara fisik di Jakarta pada 15 Agustus 2025 untuk mengikuti acara final kompetisi
  • Menginformasikan keikutsertaan Anda kepada pembimbing disertasi Anda
  • Mengisi formulir pendaftaran selambatnya 4 Juli 2025, Pukul 23.59 WIB 


Formulir Pendaftaran MT180 Indonesia 2025

Ambillah tantangan ini! 

Sebagai inspirasi, mari saksikan lagi Final Kompetisi MT 180 edisi 2024 dan simak bagaimana para mahasiswa doktor memikat hati penonton. 

https://www.youtube.com/watch?v=yNgecRb7p_Q

*Beasiswa diberikan setelah divalidasi oleh pihak IFI. 

Saksikan Final Kompetisi MT180 Indonesia 2024 secara live !

Tanggal : Jumat, 27 September 2024

Pukul : 15.00 – 17.00 WIB

Tautan zoom : https://bit.ly/FinaleMT180_2024

Anda tertarik dengan penemuan inovatif? Jangan lewatkan edisi ketujuh Final Kompetisi Ma Thèse en 180 secondes (MT 180) atau Disertasiku dalam 180 Detik Indonesia tahun 2024! Kompetisi yang mendebarkan ini memberikan kesempatan kepada para mahasiswa doktor dan peneliti muda untuk mempresentasikan hasil penelitian mereka dalam bahasa Prancis hanya dalam waktu 180 detik, dengan jelas, ringkas dan berdampak.

Apa itu Disertasiku dalam 180 Detik ?

Kompetisi ini merupakan lompatan nyata bagi talenta muda dalam bidang penelitian, yang memungkinkan para peneliti untuk memperkenalkan proyek penelitian mereka kepada masyarakat luas. Para peserta harus menyakinkan juri dan publik dengan presentasi yang dinamis dan menarik, hanya dalam 3 menit dan hanya menggunakan satu visual !

Mengapa harus menyaksikan Final ini?

  • Temukan penelitian-penelitian yang inovatif: Menghadiri presentasi yang penuh semangat dengan topik-topik yang variatif, mulai dari kemajuan di bidang kesehatan sampai inovasi teknologi termasuk juga ilmu sosiologi dan ekonomi.
  • Dukung peneliti: Beri dukungan bagi talenta lokal dan apresiasi kemampuan mereka dalam mempopulerkan sains dengan bahasa yang mudah dimengerti publik awam.
  • Berinteraksi secara langsung: Lemparkan pertanyaan seputar keingintahuan Anda dan bertukar informasi dengan para peneliti selama sesi diskusi atau melalui kolom chat secara daring selama acara berlangsung.

Bagaimana cara berpartisipasi ?

Bergabung melalui zoom pada tanggal 27 September jam 15.00 WIB untuk mengikuti acara secara live dan dukung peneliti favorit Anda. Jangan lupa untuk membagikan informasi seputar acara ini kepada rekan dan teman-teman Anda!


Tautan Zoom

Susunan acara :

  • 15.00 – 16.00 : Kompetisi : Berlangsungnya presentasi dari 7 kandidat (dalam bahasa Prancis)
  • 16.00 – 16.15 : Presentasi dari Campus France : Studi di Prancis, apa yang perlu Anda ketahui ? (dalam bahasa Inggris)
  • 16.15 – 16.30 : Diskusi bersama kandidat : Tanya jawab seputar penelitian dan pengalaman mereka di Prancis (dalam bahasa Inggris)
  • 16.30 – 17.00 : Pengumuman pemenang dan penyerahan hadiah (dalam bahasa Prancis)

Kami menanti kehadiran Anda sebanyak-banyaknya dalam perayaan penelitian saintifik tersebut. Jangan lewatkan kesempatan unik untuk mengenal langsung dengan calon peneliti besar, pengalaman riset mereka di Prancis dan proyek penelitian mereka yang bisa menginspirasi Anda!

Buat bersinar Disertasi Anda dalam waktu 3 Menit dalam Kompetisi MT 180 Indonesia!

Anda ingin memperkenalkan penelitian disertasi Anda kepada masyarakat luas? Edisi ketujuh Ma Thèse en 180 secondes (MT 180) atau Disertasiku dalam 180 Detik kembali digelar tahun ini di Indonesia! Kompetisi MT 180 mengajak para mahasiswa doktor untuk memperkenalkan penelitian mereka dengan cara yang menarik dan mudah dipahami dalam Bahasa Prancis kepada publik yang beragam dan awam.

Kenapa harus mengikuti kompetisi ini?

Dengan berpartisipasi dalam kompetisi MT 180, Anda berkesempatan untuk:

  • Memperkenalkan disertasi Anda di depan orang banyak;
  • Mengembangkan kompetensi komunikasi publik;
  • Berinteraksi dengan mahasiwa doktor lainnya dan memperluas jejaring akademik Anda.

Hadiah dan kesempatan menang

Para pemenang akan memperoleh beasiswa perjalanan* dan berkesempatan mengikuti konferensi internasional. Hal tersebut merupakan peluang besar berkelas dunia! Jangan lewatkan kesempatan untuk mempopulerkan riset doktoral Anda dalam 3 menit di Final yang akan diselenggarakan pada 27 September 2024 di Jakarta. Anda akan mendapatkan berbagai pelatihan komunikasi baik lisan maupun tertulis secara gratis, untuk mendampingi dan mempersiapkan diri Anda sebelum acara final!

Bagaimana mendaftar?

Pendaftaran untuk tahun 2024 telah dibuka! Adapun persyaratannya sebagai berikut:

  • Berkewarganegaraan Indonesia ;
  • Mampu mempresentasikan disertasi Anda dalam bahasa Prancis pada acara final;
  • Terdaftar sebagai mahasiswa doktor tahun akademis 2023/2024 atau 2024/2025; atau telah menyelesaikan disertasi Anda diantara tahun 2022 dan 2023 ;
  • Belum pernah menjadi finalis nasional di kompetisi-kompetisi MT 180 sebelumnya;
  • Menginformasikan keikutsertaan Anda kepada pembimbing disertasi Anda;
  • Bersedia hadir di acara final (27/09/2024) – Kami sangat mengharapkan kehadiran Anda secara fisik di Jakarta, dibandingkan secara luring. Dengan demikian kesempatan Anda lolos seleksi lebih besar.
  • Mengisi formulir ini sebelum 30 Agustus 2024, Pukul 23:59 WIB.

Persiapkan diri Anda !

 

Daftarkan diri Anda sesegera mungkin dan persiapkan presentasi 180 detik secara jelas, singkat, dan meyakinkan dengan hanya menggunakan satu slide presentasi. Untuk mengetahui peraturan kompetisi, klik di sini.

Butuh inspirasi? Saksikan siaran ulang Final Kompetisi MT 180 edisi 2021 untuk mengetahui lebih jauh. 

https://youtu.be/1qF4CUzMzDA?si=jMoJ0GUTSLlaZRSR

 

Jangan lewatkan kesempatan unik ini untuk mempopulerkan riset Anda di depan masyarakat luas dan mengembangkan kompetensi berharga untuk masa depan professional Anda. Daftarkan dirimu sekarang juga!

 

*(nilai beasiswa hingga €2000 dengan validasi IFI)