Berbagai kegiatan dapat diikuti : . Kursus gratis bahasa Prancis . Pasar Sehat Sagan . Bazar Buku . Mengenal studi di Prancis bersama Campus France . Mengenal kursus dan sertifikasi . Icip-icip kudapan khas Prancis . Mengenal mediatek IFI Yogyakarta . Kuis pengetahuan Prancis . Dongeng kejutan . Film animasi « Petit vampire » . Sanggar melukis di totebag . Sanggar yoga
Untuk mendaftar kelas pengenalan dan sanggar klik di sini.
Mari kunjungi Institut français Yogyakarta dan rasakan kegiatan-kegiatan dengan orang-orang terdekat Anda.
Venez fêter la musique avec nous le samedi 21 juin !
Organisée dans le monde entier à la même date, la “Fête de la Musique” (World Music Day) vise à encourager la pratique de la musique, notamment chez les jeunes.
De très nombreux concerts gratuits de musiciens amateurs ou professionnels, tous genres confondus, sont organisés ce jour-là dans des salles de spectacles, dans les cafés-concerts mais aussi dans la rue !
C’est également l’occasion pour de jeunes musiciens amateurs de se faire connaître du grand public.
Pour cette édition 2025 à Yogyakarta, 9 concerts de groupes de musique locaux sont programmés le samedi 21 juin de 16h à 22h à l’Institut français (Jl. Sagan No.3).
L’accès aux concerts sera gratuit, ouvert à tou.te.s sans inscription.
PROGRAMME
16.00: Cat and String (Pop, Classic) Cat and String adalah duet klasik yang menghadirkan nuansa romansa Korea melalui alunan Violin dan petikan gitar klasik. Kami tidak bernyanyi, tapi hati kalian akan.
16.30: Pangkale (Folk) Pangkale merupakan project solo Hendrik Adi Purwa yang mengemas musik dengan genre folk dengan nuansa etnik dan terbentuk akhir tahun 2024. Nama pangkale diambil dari bahasa daerah di Pagaralam, Sumatera Selatan yang memiliki arti langkah awal. Pangkale menghadirkan karya lagu tentang kehidupan, harapan dan cinta yang dibalut dengan lirik sederhana. Saat ini Pangkale sedang menggarap album pertama. @hendrik.pangkale
17.20: Crossmate (Punk Rock) Crossmate adalah band asal Yogyakarta yang mengusung semangat punk rock dengan sentuhan alternative scene ala era ’90-an. Terinspirasi dari Nirvana, namun tetap menjaga identitas sendiri, musik Crossmate memadukan nuansa grunge, pop punk, hingga hardcore secara orisinal dan jujur. Crossmate kini tengah bersiap meluncurkan mini album Just Wait and Take A Good See (2025). @crossmate_ofc
18.10: Taut (Indie pop) Kugiran alternatif asal Yogyakarta, Taut, kolektif musik trio Maliq Adam (gitar), Nerpati Palagan (vokal), dan Aji Prasetyo (drum). Taut telah merilis nomor Bapak (2020), Disini, Percaya (2021), Api dalam Hati (Live Session) (2021), SIASAT (2022) dan Seatap ft. BELINDA (2024), dan Nyala Hidup (2025). Taut selalu menjadikan pengalaman manusia akan cinta sebagai bahan baku pengkaryaan mereka. Taut mengusung konsep musik yang sederhana, memberikan nuansa yang dalam dan selaras.
Mari bertaut rasa! @tautmusik
19.00: Agony (Alternative rock)
Agony merupakan band dari Jogjakarta yang terbentuk sejak tahun 2008 yang beraliran Japanese rock. Kami mengawali karir sebagai GS event Jepang di berbagai kota di Indonesia sejak tahun 2009-2018. Dengan terpilihnya karya kami berjudul ‘The Colour’ sebagai salah satu finalist pada event Asia Versus di NHK TV Japan & MNC TV, kami mengalami puncak karir sebagai band indie Jejepangan yang sudah memiliki karya berupa single, mini album, dan music video. @agony.band
19.00: SSSALT (Electronic/Disco/Synthpop)
SSSALT adalah trio dinamis yang menghadirkan karya terbaik dari ketukan elektronik, synth yang gemerlap, dan alunan disko yang tak tertahankan ke lantai dansa. Menggabungkan energi synthpop yang menular dengan denyut disko yang semarak, musik mereka menawarkan perjalanan yang segar dan penuh nostalgia melalui suara-suara tahun 80-an dengan sentuhan modern. SSSALT menjadi pembuka tur Bottlesmoker di Yogyakarta pada tahun 2022. @sssaltmusic
19.50: VIDAS (Latin Pop Fusion)
VIDAS Musica adalah band Latin Fusion yang berasal dari Yogyakarta, dibentuk pada bulan April 2025. Dengan akronim (Vibrant, Inspiring, Dynamic, Authentic, Soulful) VIDAS memadukan irama Latin dengan melodi & lirik yang mudah didengar, harmoni jazz, montuno, bakat flamenco, dan brass yang penuh perasaan untuk menghadirkan pertunjukan yang unik dan energik. VIDAS, yang berarti “HIDUP” dalam bahasa Spanyol & Portugis, mencerminkan kisah hidup yang umum dalam musik mereka. @vidas.musica
20.40: Dindy Indryanto (Folk, Balada, Alternatif)
Dindy Indryanto atau yang akrab disapa Dindy, adalah seorang solois dan penulis lagu asal Indonesia. Dikenal dengan karya-karya emosional yang menyentuh sisi terdalam jiwa, Dindy menciptakan lagu-lagu yang lahir dari pengalaman pribadi, refleksi kehidupan, dan perenungan panjang terhadap dunia di sekitarnya. Musiknya berkembang secara organik menuju genre deep indie folk, yang kaya akan nuansa keheningan, kontemplasi, dan keintiman spiritual. @ruangmalam
21.30: Vero.BK and The Tumbleboys
Vero.BK and The Tumbleboys adalah band Country/Rockabilly beranggotakan 4 orang dari Yogyakarta, Indonesia, yang dibentuk pada bulan April 2021. Band ini beranggotakan Vero.BK (vokal), Titus Dennis (gitar), Alex Wily (drum), dan Bagus Rizky (kontrabas). Sebuah album mini dirilis pada tahun 2023, dengan lebih banyak musik yang terus dibuat dengan gaya yang mentah dan energik. @verobk.thetumbleboys
Mari rayakan musik bersama kami pada 21 Juni mendatang!
Festival ini diselenggarakan di tanggal yang sama, “Fête de la Musique” (World Music Day) ditujukan untuk mendukung praktik musik, terutama bagi anak muda.
Berbagai konser gratis yang dimainkan oleh musisi amatir maupun profesional, seluruh aliran musik berpadu, diselenggarakan pada tanggal tersebut, di ruang-ruang pertunjukan, di cafe maupun di jalanan.
Festival ini juga merupakan kesempatan bagi para musisi amatir untuk dapat dikenal oleh khalayak umum.
Pada edisi 2025 kali ini di Yogyakarta, 9 konser dari 9 grup band lokal akan diselenggarakan pada Sabtu, 21 Juni antara pukul 16.00 – 22.00 di Institut français (Jl. Sagan No.3).
Konser ini gratis, terbuka untuk umum dan tanpa pendaftaran.
JADWAL KONSER
16.00: Cat and String (Pop, Classic) Cat and String adalah duet klasik yang menghadirkan nuansa romansa Korea melalui alunan Violin dan petikan gitar klasik. Kami tidak bernyanyi, tapi hati kalian akan.
16.30: Pangkale (Folk) Pangkale merupakan project solo Hendrik Adi Purwa yang mengemas musik dengan genre folk dengan nuansa etnik dan terbentuk akhir tahun 2024. Nama pangkale diambil dari bahasa daerah di Pagaralam, Sumatera Selatan yang memiliki arti langkah awal. Pangkale menghadirkan karya lagu tentang kehidupan, harapan dan cinta yang dibalut dengan lirik sederhana. Saat ini Pangkale sedang menggarap album pertama. @hendrik.pangkale
17.20: Crossmate (Punk Rock) Crossmate adalah band asal Yogyakarta yang mengusung semangat punk rock dengan sentuhan alternative scene ala era ’90-an. Terinspirasi dari Nirvana, namun tetap menjaga identitas sendiri, musik Crossmate memadukan nuansa grunge, pop punk, hingga hardcore secara orisinal dan jujur. Crossmate kini tengah bersiap meluncurkan mini album Just Wait and Take A Good See (2025). @crossmate_ofc
18.10: Taut (Indie pop) Kugiran alternatif asal Yogyakarta, Taut, kolektif musik trio Maliq Adam (gitar), Nerpati Palagan (vokal), dan Aji Prasetyo (drum). Taut telah merilis nomor Bapak (2020), Disini, Percaya (2021), Api dalam Hati (Live Session) (2021), SIASAT (2022) dan Seatap ft. BELINDA (2024), dan Nyala Hidup (2025). Taut selalu menjadikan pengalaman manusia akan cinta sebagai bahan baku pengkaryaan mereka. Taut mengusung konsep musik yang sederhana, memberikan nuansa yang dalam dan selaras. Mari bertaut rasa! @tautmusik
19.00: Agony (Alternative rock) Agony merupakan band dari Jogjakarta yang terbentuk sejak tahun 2008 yang beraliran Japanese rock. Kami mengawali karir sebagai GS event Jepang di berbagai kota di Indonesia sejak tahun 2009-2018. Dengan terpilihnya karya kami berjudul ‘The Colour’ sebagai salah satu finalist pada event Asia Versus di NHK TV Japan & MNC TV, kami mengalami puncak karir sebagai band indie Jejepangan yang sudah memiliki karya berupa single, mini album, dan music video. @agony.band
19.00: SSSALT (Electronic/Disco/Synthpop) SSSALT adalah trio dinamis yang menghadirkan karya terbaik dari ketukan elektronik, synth yang gemerlap, dan alunan disko yang tak tertahankan ke lantai dansa. Menggabungkan energi synthpop yang menular dengan denyut disko yang semarak, musik mereka menawarkan perjalanan yang segar dan penuh nostalgia melalui suara-suara tahun 80-an dengan sentuhan modern. SSSALT menjadi pembuka tur Bottlesmoker di Yogyakarta pada tahun 2022. @sssaltmusic
19.50: VIDAS (Latin Pop Fusion) VIDAS Musica adalah band Latin Fusion yang berasal dari Yogyakarta, dibentuk pada bulan April 2025. Dengan akronim (Vibrant, Inspiring, Dynamic, Authentic, Soulful) VIDAS memadukan irama Latin dengan melodi & lirik yang mudah didengar, harmoni jazz, montuno, bakat flamenco, dan brass yang penuh perasaan untuk menghadirkan pertunjukan yang unik dan energik. VIDAS, yang berarti “HIDUP” dalam bahasa Spanyol & Portugis, mencerminkan kisah hidup yang umum dalam musik mereka. @vidas.musica
20.40: Dindy Indryanto (Folk, Balada, Alternatif) Dindy Indryanto atau yang akrab disapa Dindy, adalah seorang solois dan penulis lagu asal Indonesia. Dikenal dengan karya-karya emosional yang menyentuh sisi terdalam jiwa, Dindy menciptakan lagu-lagu yang lahir dari pengalaman pribadi, refleksi kehidupan, dan perenungan panjang terhadap dunia di sekitarnya. Musiknya berkembang secara organik menuju genre deep indie folk, yang kaya akan nuansa keheningan, kontemplasi, dan keintiman spiritual. @ruangmalam
21.30: Vero.BK and The Tumbleboys Vero.BK and The Tumbleboys adalah band Country/Rockabilly beranggotakan 4 orang dari Yogyakarta, Indonesia, yang dibentuk pada bulan April 2021. Band ini beranggotakan Vero.BK (vokal), Titus Dennis (gitar), Alex Wily (drum), dan Bagus Rizky (kontrabas). Sebuah album mini dirilis pada tahun 2023, dengan lebih banyak musik yang terus dibuat dengan gaya yang mentah dan energik. @verobk.thetumbleboys
Le festival du film de l’Union Européenne “Europe on Screen” (EoS) est de retour, pour sa 25e édition, du vendredi 13 au dimanche 22 juin dans 7 villes d’Indonésie !
Organisé pour la première fois en 1990, le festival “Europe on Screen” (EoS) est le plus ancien festival international du film d’Indonésie. Il propose au public indonésien de découvrir chaque année une sélection des meilleurs films des différents pays européens.
Partenaire exclusif du festival EoS à Yogyakarta, l’Institut français (Jl. Sagan No.3) accueillera 18 projections, gratuites et ouvertes à tou.te.s sans inscription :
à 16h30 et 19h du lundi au vendredi
à 14h, 16h30 et 19h les samedi et dimanche
Le samedi 14 juin, l’Institut français Yogyakarta aura le grand plaisir d’accueillir, en présentiel, le réalisateur irlandais Brian Durnin pour une séance de questions-réponses à l’issue de la projection de son film “Spilt Milk” à 16h30.
Tous les films projetés sont en version originale et sous-titrés en anglais.
L’accès aux projections est gratuit, ouvert à tou.te.s, sans inscription.
Festival film Uni Eropa “Europe on Screen” (EoS) kembali hadir! Di edisi ke-25 kali ini, EoS akan ditayangkan pada Jumat – Minggu, 13 – 22 Juni di 7 kota di seluruh Indonesia!
Diinisiasi dengan edisi pertamanya pada 1990, festival “Europe On Screen” menjadi festival film internasional tertua yang masih aktif di Indonesia! Setiap tahunnya, EoS menyuguhi khalayak di Indonesia dengan pilihan film-film terbaik dari berbagai negara di Eropa.
Sebagai rekan eksklusif festival EoS di Yogyakarta, Institut français (Jl. Sagan No. 3) akan menyelenggarakan 18 pemutaran film, gratis dan terbuka untuk umum tanpa pendaftaran:
pukul 16.30 dan 19.00 di hari Senin – Jumat
pukul 14.00, 16.30, dan 19.00 di hari Sabtu dan Minggu
Pada hari Sabtu, 14 Juni, Institut français Yogyakarta berkesempatan menyambut kedatangan sutradara dari Irlandia Brian Durnin secara langsung pada sesi tanya jawab seusai penayangan filmnya yang berjudul “Spilt Milk” pukul 16.30.
Seluruh film akan ditayangkan dalam versi original dengan takarir bahasa Inggris.
Akses untuk menonton film ini gratis, terbuka untuk umum tanpa pendaftaran.
A l’occasion de la Fête de la Musique 2025 (World Music Day), célébrée dans le monde entier chaque 21 juin, l’Institut français Yogyakarta accueillera une série de concerts de groupes de Yogyakarta dans ses locaux. Pour cela, l’Institut français lance un grand appel à candidatures destiné à tous les musiciens de Yogyakarta.
Vous faites partie d’un groupe de musiciens ? Vous souhaitez vous produire sur scène en public le samedi 21 juin prochain ? Alors répondez à notre appel à candidatures pour intégrer le programme de la Fête de la Musique 2025 en remplissant ce formulaire (ouvert jusqu’au mardi 30 mai à 23h59).
Qu’est-ce que la “Fête de la Musique” (World Music Day) ?
Depuis 1982, la Fête de la Musique est célébrée le 21 juin de chaque année dans toute la France et dans plus de 120 pays à travers le monde. Instaurée par le Ministère français de la Culture, cette célébration populaire vise à promouvoir la pratique musicale auprès du grand public. Chaque 21 juin, de très nombreux concerts gratuits, de tout genre musical, sont organisés dans les rues, dans les bars et dans les salles de spectacles réunissant aussi bien des musiciens professionnels qu’amateurs. C’est une occasion unique pour de jeunes groupes de musiciens de se faire connaître du grand public !
Comment va se dérouler la Fête de la Musique 2025 à Yogyakarta ?
A l’occasion de l’édition 2025 de la Fête de la Musique, l’Institut français Yogyakarta propose à des groupes de musiciens de jouer dans son auditorium le samedi 21 juin 2025.
Qui peut participer ?
Tout groupe de musiciens (minimum 2 membres), quel que soit le genre musical et quelle que soit la langue d’expression;
Le groupe doit pouvoir proposer un programme musical de 30 à 45 minutes minimum, 100% en live (le format karaoké n’est pas accepté);
Le groupe devra se présenter au préalable à une audition, destinée à sélectionner les groupes, le samedi 24 mai 2025 à partir de 14h à l’Institut français Yogyakarta (Jl. Sagan No.3).
Comment participer ?
Remplissez le formulaire en cliquant ici et partagez une vidéo de votre groupe interprétant un morceau de 3 minutes minimum au plus tard le mardi 20 mai 2025 à 23h59;
Si votre groupe est présélectionné, vous serez invités à vous présenter à une audition le samedi 24 mai 2025 à partir de 14h à l’Institut français Yogyakarta (Jl. Sagan No.3);
La participation de votre groupe à l’audition et, si votre groupe est sélectionné, à la Fête de la Musique est gratuite.
Comment va se dérouler l’audition du 24 mai ?
Une fois le formulaire d’inscription complété, vous recevrez un message par WhatsApp le mercredi 21 mai vous indiquant votre horaire de convocation pour l’audition du samedi 24 mai à l’Institut français.
A l’heure de convocation, votre groupe sera invité à jouer sur la scène de l’auditorium de l’Institut français devant un jury composé de musiciens professionnels (1 morceau soit 3 à 5 minutes environ).
L’Institut français fournit la scène, le matériel de sonorisation, une batterie mais pas d’autres instruments de musique (vous devrez donc apporter les vôtres)
Le matériel de sonorisation suivant sera mis à votre disposition :
Mixer : Soundcraft FX16ii, 16 manual channel;
Stereo set with 2 speaker actif Yamaha DZR 15 with 2 sub-actif DZS 18;
4 microphones Shure SM 58 with cables, 3 microphones Shure 57 with cable;
3 microphones Shure SM 58 wireless (include 3 table stand mic for conference, and 3 long stand mic);
15 extensions cables of XLR multiples length;
“Multi box” on scene with 16 entries, possibility of 6 returns scene;
2 speakers monitor JBL EON 615 with standing speaker;
Le programme musical proposé par votre groupe doit être adapté aux conditions matérielles offertes pour l’audition.
Vous serez informé du résultat de l’audition (sélectionné / non-sélectionné) au plus tard le mardi 27 mai.
Si votre groupe est sélectionné, vous serez invités à vous produire sur scène le samedi 21 juin 2025 à l’Institut français Yogyakarta.
L’audition donnera lieu à un enregistrement vidéo. Cet enregistrement est à l’usage exclusif de l’Institut français et des membres du jury. Ces enregistrements ne seront pas publiés et ne seront pas conservés au-delà du 21 juin 2025.
Comment va se dérouler la Fête de la Musique à Yogyakarta le 21 juin ?
L’Institut français Yogyakarta vous informera de l’horaire exact de votre concert au plus tard le vendredi 6 juin 2025.
L’Institut français Yogyakarta vous informera des conditions techniques et matérielles dont vous disposerez pour votre concert au plus tard le 6 juin 2025.
La participation à la Fête de la Musique ne donnera lieu à aucune rémunération ni indemnisation de quelque sorte que ce soit (déplacement, location de matériel, etc.), ni de la part de l’Institut français ni de la part de l’établissement partenaire.
L’Institut français Yogyakarta offrira le dîner (lunch box) à tous les musiciens programmés lors de la Fête de la Musique le 21 juin 2025.
Pour toute question relative à la Fête de la Musique, n’hésitez pas à nous contacter par WhatsApp au +62 818-0422-5573.
Dalam rangka Fête de la Musique 2025 (World Music Day) yang dirayakan di seluruh dunia setiap tanggal 21 Juni, Institut français Yogyakarta akan menyelenggarakan rangkaian konser. Maka dari itu, kami membuka pendaftaran yang ditujukan bagi seluruh kandidat musisi di Yogyakarta.
Anda tergabung pada salah satu grup musik? Anda ingin manggung di tempat umum pada Sabtu, 21 Juni mendatang? Ayo daftar dan mengisi formulir ini (sebelum Selasa, 20 Mei 2025 pukul 23.59) untuk berpartisipasi di program acara Fête de la Musique 2025!
Apakah itu “Fête de la Musique” (World Music Day)?
Sejak 1982, Fête de la Musique dirayakan pada 21 Juni tiap tahunnya di seluruh Prancis dan lebih dari 120 negara di seluruh dunia. Didirikan oleh Kementerian Budaya Prancis, perayaan populer ini bertujuan untuk mengenalkan praktik musik ke khalayak umum. Tiap tanggal 21 Juni, berbagai konser gratis, semua genre musik berpadu, diselenggarakan di jalan-jalan, di bar-bar dan di ruang-ruang pertunjukan yang menyatukan para musisi profesional maupun amatir. Hari itu merupakan kesempatan khusus bagi para grup musik agar dapat dikenali masyarakat umum!
Fête de la Musique 2025 di Yogyakarta, bagaimana acaranya ?
Dalam rangka edisi 2025 Fête de la Musique, Institut français Yogyakarta menawarkan kepada para grup musik untuk pentas di Auditorium kami pada 21 Juni 2025 mendatang.
Siapa yang dapat berpartisipasi?
Semua grup musik (minimal 2 anggota), apapun jenis musik dan bahasa ekspresinya;
Grup musik harus tampil selama 30 – 45 menit, 100% secara langsung (format karaoke tidak diterima);
Grup musik harus melewati proses audisi, yang ditujukan untuk menyeleksi grup musik pada Sabtu, 24 Mei mulai pukul 14.00 di Institut français Yogyakarta (Jl. Sagan No. 3).
Bagaimana cara berpartisipasi?
Mengisi formulir dengan mengakses tautan ini dan mengirimkan sebuah video musik minimal 3 menit sebelum Selasa, 20 Mei 2025 pukul 23.59;
JIka grup Anda terpilih, maka Anda akan diundang untuk melakukan audisi pada Sabtu, 24 Mei 2025 mulai pukul 14.00 di Institut français Yogyakarta (Jl. Sagan No.3);
Partisipasi grup musik Anda dalam audisi jika grup Anda terpilih pada acara Fête de la Musique adalah gratis.
Bagaimana proses audisi pada Sabtu, 24 Mei?
Ketika Anda sudah mengisi formulir, Anda akan menerima pesan WA pada Rabu, 21 Mei yang menginformasikan pukul berapa Anda akan dipanggil pada audisi yang dijadwalkan pada Sabtu, 24 Mei di Institut français Yogyakarta.
Sesuai jadwal, grup Anda akan diminta untuk pentas di panggung auditorium Institut français di depan para juri yang terdiri dari musisi profesional (1 lagu berdurasi kira – kira 3 – 5 menit)
Institut français menyediakan panggung, sound, drum, namun tidak menyediakan instrumen musik lainnya (silahkan membawa instrumen Anda sendiri)
Peralatan sound yang dapat Anda gunakan:
Mixer : Soundcraft FX16ii, 16 manual channel;
Stereo set with 2 speaker actif Yamaha DZR 15 with 2 sub-actif DZS 18;
4 microphones Shure SM 58 with cables, 3 microphones Shure 57 with cable;
3 microphones Shure SM 58 wireless (include 3 table stand mic for conference, and 3 long stand mic);
15 extensions cables of XLR multiples length;
“Multi box” on scene with 16 entries, possibility of 6 returns scene;
2 speakers monitor JBL EON 615 with standing speaker;
Musik yang akan dimainkan oleh grup Anda harus disesuaikan dengan ketersediaan alat yang dapat dipakai saat audisi.
Anda akan diinformasikan mengenai hasil audisi (terpilih/tidak terpilih) paling lambat Selasa, 27 Mei.
JIka grup Anda terpilih, maka grup Anda akan pentas pada Sabtu, 21 Juni 2025 di Institut français.
Proses audisi akan direkam, penggunaan video hanya diperuntukkan secara eksklusif untuk institut français dan anggota juri. Hasil rekaman tidak akan dipublikasikan dan tidak akan disimpan setelah tanggal 21 Juni 2025.
Bagaimana acara Fête de la Musique di Yogyakarta pada 21 Juni?
Institut français Yogyakarta akan menginformasikan jam pentas paling lambat Jumat, 6 Juni 2025.
Institut français Yogyakarta akan menginformasikan kondisi teknis dan material yang dapat Anda gunakan saat konser paling lambat 6 Juni 2025.
Partisipasi Anda pada acara Fête de la Musique tidak akan dibayar atau diberi kompensasi apapun (transport, sewa alat,dll.) baik dari pihak Institut français Yogyakarta.
Institut français Yogyakarta akan memberikan box makan malam untuk para musisi yang pentas pada acara Fête de la Musique pada 21 Juni 2025.
Segenap pertanyaan yang berkaitan dengan Fête de la Musique, dapat ditanyakan melalui WhatsApp di nomor +62 818-0422-5573.
A l’occasion de la Semaine de la francophonie 2025, l’Institut français Yogyakarta, en partenariat avec les Ambassades des pays francophones en Indonésie, organise de nombreux concours et animations culturelles autour de la langue française du lundi 17 au samedi 22 mars 2025 !
Le lundi 17 mars à 19h, la troupe française compagnie “DE FAKTO” vous invite à découvrir “C’est la Vida !“, un spectacle familial et joyeux où la danse, le rire et les émotions s’entrelacent avec le Hip-Hop et les arts du mime et du geste.
Rejoignez-nous à la médiathèque de l’Institut français Yogyakarta le mercredi 19 mars pour le Café littéraire consacré aux romans « Beyrouth-sur-Seine » de l’écrivain libanais Sabyl Ghoussoub, « Vol à vif » de l’écrivain malgache Johary Ravaloson et « Pedro Páramo » de l’écrivain mexicain Juan Rulfo.
Les discussions autour de ces trois romans seront co-animées, en indonésien, par Ari Bagus Panuntun et Arifah Arum Candra, professeurs au département de littérature française d’UGM, et Victor Hugo Hidalgo, musicien mexicain.
Entrée gratuite, sans inscription.
Beyrouth-sur-Seine (Sabyl Ghoussoub)
Beyrouth-sur-Seine est un travail de réflexion sur les thèmes de la famille, de la migration et de l’impact durable des origines. Ce récit raconte l’histoire des parents du narrateur qui ont quitté le Liban pour Paris mais n’ont pas pu revenir en raison du déclenchement de la guerre civile dans leur pays d’origine. Le livre présente une histoire poignante sur la façon dont ils s’adaptent à la vie inconnue de Paris, tandis que leurs frères au Liban sont ravagés par les épreuves de la guerre. Alors que le conflit envahit leur vie à Paris, les liens de la famille avec le Liban se transforment, notamment à travers de longues discussions dans les groupes WhatsApp, transformant la patrie en un point de rencontre familial symbolique. Écrit par Sabyl Ghoussoub et salué pour son style pointu et poétique mêlé d’humour émotionnel, ce livre est une exploration de l’identité et des liens familiaux au milieu du déplacement.
Vol à vif (Johary Ravaloson) La tradition du peuple Baar dans la savane de Madagascar le dit avec insistance : un jeune homme ne peut demander en mariage la fille de ses rêves que s’il réussit à ramener à son futur beau-père une vache zébu volée à un autre troupeau. Pour les communautés traditionnelles d’éleveurs de zébus, il n’y a rien de plus significatif au monde que de posséder un troupeau de bovins et de l’élever. Ainsi, un groupe de jeunes hommes ont conspiré pour planifier le vol du zébu. La poursuite par les soldats entraîne des conséquences inattendues : une trahison, une tragédie qui tue de nombreux membres de la bande et révèle l’enfance de l’un d’entre eux, qui s’avère intimement liée à l’histoire des coutumes ancestrales, aux prédictions mystiques sur le destin, aux changements politiques du pays vers une république, à la corruption du nouveau pays, à l’amour interdit et à la vengeance.
Pedro Paramo (Juan Rulfo) “Pedro Paramo” raconte l’histoire d’un homme nommé Juan Preciado qui recherche son père, Pedro Páramo, dans la ville de Comala. Juan Preciado fait ce voyage pour tenir sa dernière promesse envers sa mère.
Jeudi 20 mars, rejoignez-nous à l’auditorium de l’IFI Yogyakarta pour découvrir la richesse et la diversité du cinéma des pays francophones lors d’une “soirée cinéma francophone”
A 16 heures, l’IFI projettera le documentaire mexicain “Tan Cerca de las nubes” du réalisateur Manuel Cañibe (documentaire, 2023, 95 mins, en espagnol sous-titré en anglais).
Synopsis
Au début des années 1970, la première coupe du monde de football féminin a eu lieu, et avec elle, l’histoire de la première équipe de football mexicaine composée exclusivement de femmes d’environ 15 ans. “Nous aurions fait encore plus de choses, mais nous avons toujours la satisfaction d’avoir représenté notre Mexique avec toute la combativité, tout le courage et toute l’émancipation des femmes.” (Lourdes De la Rosa, ancienne joueuse de football, à propos du soutien reçu et des limites imposées par les autorités)
A 19h00, IFI projettera “Les enfants perdus“ de la réalisatrice belge Michèle Jacob (comédie dramatique, 2024, 97 mins, en français sous-titré en anglais).
Synopsis
Audrey, 10 ans, sa soeur et ses deux frères, s’apprêtent à passer des vacances dans une maison isolée dans la forêt. Quand ils réalisent que leur père a disparu, ils s’organisent pour survivre et cherchent le moyen de rentrer chez eux. Mais la forêt les empêche de partir et la maison s’en prend à Audrey. Pour sauver sa fratrie, Audrey va devoir combattre ses cauchemars et comprendre leurs significations.
Le samedi 22 mars, de 10h00 à 12h00, l’Institut français Yogyakarta accueillera sur sa terrasse une foire aux livres où vous pourrez trouver des livres et des magazines français d’occasion à petits prix.
Le samedi 22 mars, de 10h00 à 12h00, l’Institut français Yogyakarta accueillera un atelier lecture de contes pour les enfants dans sa médiathèque.
Le livre de contes intitulé “Les super-héros à la rescousse” sera lu en français et en indonésien par Ria et Romane qui enseignent le français à l’Institut français Yogyakarta et par Lita d’Ayo Dongeng Indonesia.
Le samedi 22 mars à 13h00, venez tester vos connaissances sur la culture des pays francophones en répondant aux questions du « quiz francophonie » à l’Auditorium de l’Institut français Yogyakarta !
Toutes les questions seront posées en indonésien.
Pour participer, vous devrez être équipés d’un smartphone.
Sabtu, 22 Maret, pukul 13h30, mari saksikan penampilan para mahasiswa dari Jurusan Prancis universitas UGM dan UNY, pada acara “lomba teater frankofon antar universitas”, di Auditorium Institut français Yogyakarta.
Para mahasiswa akan memerankan naskah teater berjudul “Le bourgeois gentilhomme” karya Molière
Le samedi 22 mars, à 15h00, venez aux spectacles préparés et présentés par les élèves des groupes enfants et adolescents de l’Institut français Yogyakarta.
Vous aimez chanter (en français ou en indonésien) ? Alors rejoignez-nous le samedi 22 mars à 16h00, à l’IFI Yogyakarta, pour le Karaoké franco-indonésien avec une sélection de tubes français et indonésiens.
Le samedi 22 mars, de 16h à 20h, venez découvrir les produits d’exposants francophones de Yogyakarta à l’occasion du Marché francophone, organisé sur la terrasse du café de l’IFI (Kaf Le Solé).
Entrée gratuite, sans inscription.
La Semaine de la francophonie à Yogyakarta est organisée en partenariat avec :
Institut français Yogyakarta menyelenggarakan Pekan Frankofoni yang bekerja sama dengan Kedutaan dari negara-negara frankofon dan juga Kedutaan Besar Meksiko di Indonesia dengan berbagai lomba dan acara budaya tentang bahasa Prancis dari Senin sampai Sabtu, 17-22 Maret 2025!
Dalam rangka Pekan Frankofoni 2025, grup tari asal Prancis “Cie De Fakto” akan mengadakan tur ke Indonesia dan mempersembahkan 4 kali pentas yang berjudul “C’est la vida !” yang memadukan tarian, mime, hip-hop dan lagu prancis dengan harmonis!
Senin, 17 Maret 2025 pukul 19.00, grup tari “Cie De Fakto” akan tampil di IFI Yogyakarta (Jl. Sagan No.3), gratis dan terbuka untuk umum dengan registrasi: https://bit.ly/CestLaVida
Dalam pertunjukan “C’est la vida !” sepasang kekasih bercerita kepada kita, masa-masa indah dalam hidup mereka dengan lembut dan ceria, diiringi lagu-lagu Prancis dari penyanyi seperti Charles Trenet, Charles Aznavour, Edith Piaf…
Kedua penari, David Walther dan Liesbeth Kiebooms, menginterpretasikan ulang dengan jenaka, stereotip-stereotip dari lagu-lagu lama yang menjadi warisan Prancis dan Spanyol.
Di luar penampilan lucunya, pertunjukan ini secara cerdas menyampaikan pesan cinta dan toleransi.
Pertunjukan ini terbuka untuk umum, mulai dari usia 6 tahun dan berdurasi 55 menit.
Divisi
Pengarah Artistik: Aurélien Kairo Koreografi: Aurélien Kairo Sutradara: Patrice Thibaud Penampilan artistik: Karla Pollux Kostum dan aksesoris: Corinne Lachkar Penari: David Walther dan Liesbeth Kiebooms Kreasi Pencahayaan: Éric Valentin Komposisi Hip-hop Elektro: Stéphane Lavallée
Tentang grup tari “Cie De Fakto”
Didirikan di Lyon pada tahun 2002 atas inisiatif Aurélien Kairo, “Cie De Fakto” memiliki lebih dari 17 kreasi. Mereka semua berasal dari budaya hip hop dan seni pantomim dan gerak tubuh.
Sejak awal berdirinya, “Cie De Fakto” telah melakukan pentas khusus baik dengan kaum muda maupun tua melalui acara-acara seperti parade Biennale Lyon Dance.
Pekan Frankofoni di Yogyakarta diadakan bekerja sama dengan: Batik Enom, Chocolate Monggo, Danone-Aqua, Gramedia Pustaka Utama, Kafe Le Solé, Kedutaan Besar Prancis di Indonesia, Timor Leste dan ASEAN, Kedutaan Besar Belgia di Indonesia, Kedutaan Besar Meksiko di Indonesia, L’Occitane en Provence, L’Oréal Indonesia, Mediterranea Restaurant by Kamil, Penerbit Erlangga, TV5 Monde.
Mari bergabung bersama kami di Mediatek Institut français Yogyakarta pada acara Café littéraire fankofon hari Rabu, 19 Maret yang akan membahas novel “Beyrouth-sur-Seine” karya penulis Lebanon, Sabyl Ghoussoub ; “Vol à vif” karya penulis Madagaskar, Johary Ravaloson ; dan “Pedro Páramo” karya penulis Meksiko, Juan Rulfo.
Diskusi mengenai ketiga novel ini akan dibawakan dalam bahasa Indonesia oleh Ari Bagus Panuntun dan Arifah Arum Candra, dosen jurusan Bahasa dan Sastra Prancis UGM serta Victor Hugo Hidalgo, pemusik dari Meksiko.
Gratis tanpa pendaftaran.
Beyrouth-sur-Seine (Sabyl Ghoussoub) Beyrouth-sur-Seine adalah karya reflektif yang bertema keluarga, migrasi, dan dampak abadi asal-usul seseorang. Narasi ini membahas kisah orang tua narator yang pindah dari Lebanon ke Paris namun tidak dapat kembali karena pecahnya perang saudara di tanah air mereka. Buku ini menyajikan kisah pedih tentang bagaimana mereka menyesuaikan diri dengan kehidupan Paris yang asing, sementara saudara-saudara mereka di Lebanon dilanda cobaan perang. Saat konflik merasuki kehidupan mereka di Paris, ikatan keluarga dengan Lebanon bertransformasi, terutama melalui diskusi ekstensif di grup WhatsApp, mengubah tanah air menjadi titik pertemuan keluarga yang simbolis. Ditulis oleh Sabyl Ghoussoub dan dipuji karena gayanya yang tajam dan puitis dibumbui humor emosional, buku ini merupakan eksplorasi identitas dan ikatan kekeluargaan di tengah pengungsian.
Vol à vif (Johary Ravaloson) Tradisi orang Baar di padang sabana Madagaskar menyatakan dengan tegas: seorang pemuda baru bisa meminang gadis idamannya bila berhasil membawakan sapi zebu curian dari kawanan lain untuk calon ayah mertuanya. Bagi masyarakat tradisional penggembala zebu, memang tak ada yang lebih berarti di dunia ini selain memiliki kawanan ternak dan membesarkannya. Maka, sekelompok pemuda berkomplot merencanakan pencurian zebu. Pengejaran oleh pasukan tentara membawa dampak yang tak terduga: pengkhianatan, tragedi yang menewaskan banyak anggota komplotan, dan menguak masa kecil salah seorang dari mereka, yang ternyata terhubung secara pelik dengan sejarah adat leluhur, ramalan-ramalan mistis tentang takdir, perubahan politik negeri menuju republik, korupsi negara baru, cinta terlarang, dan balas dendam.
Pedro Paramo (Juan Rulfo) Bercerita tentang seorang pria bernama Juan Preciado yang mencari ayahnya, Pedro Páramo, di kota Comala. Juan Preciado melakukan perjalanan ini untuk memenuhi janji terakhirnya kepada ibunya.
Kamis, 20 Maret, di Auditorium IFI Yogyakarta, mari saksikan kekayaan dan keragaman sinema dari negara frankofon dalam pemutaran film yang dibagi dalam dua sesi.
Pukul 16.00, IFI akan memutarkan film dokumenter Meksiko berjudul “Tan Cerca de las nubes” karya sutradara Manuel Cañibe (film dokumenter, 2023, 95 mins, berbahasa Spanyol dengan subtitel Bahasa Inggris).
Sinopsis: Pada tahun 1971, pemain tim nasional sepak bola wanita muda Meksiko memenuhi Stadion Azteca di Meksiko dengan 115.000 penonton untuk bertanding di final kejuaraan dunia sepak bola wanita kedua. Dokumenter ini mengungkap kembali kisah mereka yang luar biasa namun terlupakan.
Pada pukul 19.00, IFI akan menayangkan film fiksi Belgia berjudul “Les enfants perdus” karya sutradara Michèle Jacob (drama komedi, 2024, 97 mins, berbahasa Prancis dengan subtitel Bahasa Inggris).
Sinopsis: Audrey dan ketiga saudaranya ditinggalkan di sebuah rumah tua tempat mereka seharusnya menghabiskan liburan musim panas bersama ayah mereka, sebelum dia tiba-tiba menghilang di malam hari.
Sabtu, 22 Maret, pukul 10.00 – 12.00 Institut français Yogyakarta mengadakan Bazar Buku tempat kamu bisa menemukan buku-buku dan majalah Prancis dengan harga yang terjangkau.
Sabtu, 22 Maret, pukul 10.00 – 12.00 Institut français Yogyakarta mengadakan Dongeng Kejutan untuk anak-anak di Mediatek.
Dongeng yang akan dibacakan berjudul “Les super-héros à la rescousse” (atau Pahlawan Super Sang Penyelamat) yang akan dibawakan oleh Kak Ria, Kak Romane pengajar bahasa Prancis di Institut français Yogyakarta dan Kak Lita dari Ayo Dongeng Indonesia.
Sabtu, 22 Maret, pukul 13.00, uji pengetahuanmu tentang budaya negara-negara frankofon dengan menjawab pertanyaan terkait “kuis frankofoni” di Auditorium Institut français Yogyakarta!
Sabtu, 22 Maret, pukul 13.30, mari saksikan penampilan para mahasiswa dari Jurusan Prancis universitas UGM dan UNY, pada acara “lomba teater frankofon antar universitas”, di Auditorium Institut français Yogyakarta.
Para mahasiswa akan memerankan naskah teater berjudul “Le bourgeois gentilhomme” karya Molière.
Sabtu, 22 Maret, pukul 16.00, untuk kalian yang suka bernyanyi mari bergabung di Karaoke lagu Indonesia-Prancis dengan pilihan lagu-lagu hits Prancis dan Indonesia di Auditorium IFI Yogyakarta.
Sabtu, 22 Maret, pukul 16.00-20.00, para pengunjung bisa menikmati Pasar Frankofon yang mempertemukan para pengisi stand yang masing- masing memiliki kekhasan dari negara frankofon.
Bebas masuk tanpa pendaftaran.
Pekan Frankofoni di Yogyakarta terselenggara berkat kerja sama dengan:
Du 22 novembre au 6 décembre 2024, le Festival Sinema Prancis est de retour pour une 26ème édition !
L’Institut français d’Indonésie, en partenariat avec KlikFilm et Cinema XXI, organisera la 26ème édition du Festival Sinema Prancis (FSP) du 22 novembre au 6 décembre 2024 dans 13 villes de l’archipel indonésien.
Comme chaque année depuis sa création en 1996, le FSP propose au public indonésien un large échantillon de ce qu’offre le cinéma français, en termes de diversité et d’excellence.
Le thème central de cette 26ème édition, “Regards de femmes”, mettra à l’honneur des réalisatrices françaises et francophones qui portent, à travers leurs œuvres, un regard unique sur des histoires de femmes, leurs parcours, leurs luttes et leurs aspirations. Les cinéphiles seront également heureux de retrouver une rétrospective Claude Sautet, le peintre des passions humaines du cinéma français.
2 superproductions, adaptées de romans du célèbre écrivain Alexandre Dumas, seront proposées en ouverture et fermeture du festival. Tout d’abord, Le Comte de Monte-Cristo sera projeté dans 7 salles du réseau Cinema XXI le vendredi 22 novembre. Puis, Les Trois Mousquetaires : Milady, clôturera le festival le vendredi 6 décembre.
Et pour ceux qui n’auraient pas accès aux salles, notre partenaire KlikFilm met à disposition gratuitement une sélection de 10 films du 30 novembre au 6 décembre, permettant à chacun de participer à cette fête du cinéma, où qu’il se trouve.
Que vous soyez en salle ou en ligne, nous vous souhaitons un festival riche en découvertes, en émerveillement et en partage d’émotions !