KONSER ENSEMBLE MULTILATERALE

Jumat, 19 Mei 2017

Grand Ballroom – Sheraton Surabaya 
Jl. Embong Malang 25 – 31 Surabaya

Gratis. Tanpa reservasi


KONSER

Jumat, 19 Mei 2017

19.30 | Pintu dibuka : 18.30
Grand Ballroom – Sheraton Surabaya Hotel & Towers
Jl. Embong Malang 25 – 31 Surabaya
Gratis

Konser Bedah Karya

Kamis, 18 Mei 2017 | 18.00
Wisma Musik Melodia
Jl. Ngagel Jaya 12 – 14 Surabaya
Gratis
Masterclass
piano | violin | viola | cello | flute | klarinet

Sabtu, 20 Mei 2017 | 10.30 – 16.00
Prodi Seni Musik – Jurusan Sendratasik FBS
UNESA Kampus Lidah, Jl. Lidah Wetan Surabaya


Semua acara gratis. Tanpa reservasi.

INFO
Pertemuan Musik (Surabaya) : 0817 5174 696
IFI Surabaya: 031 – 5035 035




ENSEMBLE MULTILATERALE

Dibentuk pada tahun 2005, Ensemble Multilatérale dipimpin oleh Yann Robin sebagai direktur artistik dan Leo Warynski sebagai direktur musikal yang juga merupakan komponis dan penginterpretasi musik kontemporer. Ensemble Multilatérale menyuguhkan karya-karya besar abad ke-20 dan karya-karya baru komponis generasi masa kini. Ansambel musik kamar ini telah menelurkan sekitar 50 karya dari Regis Campo, Lucas Fagin, Matteo Franceschini, Pedro Garcia Velasquez, David Hudry, Clara Ianotta Michael Jarell, Jacques Lenot, Matthew Lima, Grégoire lorieux, Martin Matalon, Sebastian Rivas, Yann Robin, Colin Roche, Gilles Schoemacher, Marco Suarez Cifuentes, Januibe Tejera.

Ensemble Multilatérale kerap diundang di berbagai festival kenamaan di Prancis (Musica Strasbourg, ManiFeste, Présences, dsb..) dan menggelar tur di luar negeri (Italia 2009-2010, Spanyol 2010, Jerman 2014, Asia Tenggara 2016). Ensemble Multilatérale dilibatkan dalam produksi bersama di Akademi Komposisi Inaudita di Barga (Italia) pada tahun 2014 dan 2015. Ansambel ini juga dilibatkan dalam pagelaran opera kamar dan pertunjukan-pertunjukan musik dan sastra.

Pada tahun ini, tepatnya bulan Mei 2017, Ensemble Multilatérale akan menggelar turnya di Asia Tenggara. Jakarta, Surabaya, dan Yogyakarta adalah tiga kota besar yang akan disinggahi oleh mereka di Indonesia.

Ensemble Multilatérale mendapatkan bantuan untuk ansambel-ansambel terdaftar dari Kementerian Kebudayaan dan Komunikasi Prancis – Drac Ile-de-France, SACEM, dan SPEDIDAM untuk setiap kegiatannya. Ensemble Multilatérale didukung oleh Institut Français dan Kota Paris untuk konser ini. Ensemble Multilatérale adalah anggota dari Federasi Ansambel Vokal dan Instrumental Spesialis (FEVIS) dan jaringan Future Composés.
PROGRAM

“Temu Musik Franko-Indonesia” adalah buah kolaborasi antara IFI dan Pertemuan Musik. Ensemble Multilatérale akan memainkan karya musik kontemporer Prancis dan Indonesia dalam rangka tur mereka di tiga kota di Indonesia: Jakarta, Surabaya, Yogyakarta.

Dua komponis muda yang terpilih melalui kompetisi komposisi musik kontemporer, akan mengarang komposisi baru yang akan dimainkan oleh Ensemble Multilatérale sebagai program konser dan tur mereka. Pada tur mereka, ensembel ini akan menyuguhkan komposisi terdahulu contohnya karya Slamet Abdul Syukur, komponis-komponis Prancis, dan komposisi yang dibuatkan khusus untuk Ensemble Multilatérale oleh dua komponis terpilih.


REPERTOAR

Francesco Filidei, Funerall (2006 – 11’)
6 musisi + 6 meja

Raphaël Cendo, Rokh 1 (2011 – 2012 – 18’)
Bass Flute, violin, selo, piano

Bruno Mantovani, D’un rêve parti (1999 – 12’)
Flute, klarinet, piano, violin, viola, dan selo

Slamet Abdul Sjukur, The Source, Where the Sound Returns (1999- 12’)
Klarinet, selo, dan piano

Slamet Abdul Sjukur, SVARA  (1999- 13′)
Piano

Matius Shan-Boone, komposisi untuk Institut Français d’Indonésie (IFI)
Flute, piano, viola, dan selo

Muh Arham Aryadi, komposisi untuk Institut Français d’Indonésie (IFI)
Klarinet, violin, viola dan selo

 
Ensemble Multilatérale:

Flute| Matteo Cesari
Klarinet| Bogdan Sydorenko
Piano| Lise Baudouin
Violin| Alexandra Greffin-Klein
Viola| Dominica Eyckmans
Cello| Pablo Tognan
Dirigen| Léo Warynski

 

 

 

Share: 

 

BONEKA RAKSASA LES GRANDES PERSONNES JUMPAI WARGA SURABAYA

Minggu, 16 Juli 2017

Monumen Bambu Runcing 
Jalan Panglima Sudirman, Surabaya

Gratis

Akhir pekan ini jangan lewatkan kehadiran kelompok teater Prancis, Les Grandes Personnes pada Surabaya Cross Culture Festival 2017 dengan penampilan mereka yang lain dari pada yang lain.

Boneka-boneka raksasa ramah ini akan menghibur Anda dan keluarga pada hari Minggu pagi di Monumen Bambu Runcing, lalu sore harinya di Country Heritage Resort Hotel, jalan Nginden Intan Utara No. 7.

Acara gratis, untuk semua usia.

8:00 – Monumen Bambu Runcing Surabaya, Jalan Panglima Sudirman, Surabaya

15:30 –Country Heritage Resort Hotel,Nginden Intan Utara 7, Surabaya 60118

 

BONEKA RAKSASA LES GRANDES PERSONNES JUMPAI WARGA SURABAYA

Minggu, 16 Juli 2017

Monumen Bambu Runcing 
Jalan Panglima Sudirman, Surabaya

Gratis

Akhir pekan ini jangan lewatkan kehadiran kelompok teater Prancis, Les Grandes Personnes pada Surabaya Cross Culture Festival 2017 dengan penampilan mereka yang lain dari pada yang lain.

Boneka-boneka raksasa ramah ini akan menghibur Anda dan keluarga pada hari Minggu pagi di Monumen Bambu Runcing, lalu sore harinya di Country Heritage Resort Hotel, jalan Nginden Intan Utara No. 7.

Acara gratis, untuk semua usia.

8:00 – Monumen Bambu Runcing Surabaya, Jalan Panglima Sudirman, Surabaya

15:30 –Country Heritage Resort Hotel,Nginden Intan Utara 7, Surabaya 60118

 

PEMBUKAAN WARUNG PRANCIS POLITEKNIK NEGERI MALANG

Pada hari Senin, 21 Oktober 2013 telah diresmikan Warung Prancis Malang yang bertempat di gedung International Office Politeknik Negeri Malang (POLINEMA). Peresmian ini menandai berdirinya pusat informasi mengenai bahasa, kebudayaan dan pendidikan Prancis di Malang.

Acara yang berlangsung selama setengah hari itu dihadiri oleh Bapak Tundung Subali Padma, Ir., MT. selaku direktur POLINEMA, Bapak Doddy Maulana sebagai penanggung jawab Warung Prancis POLINEMA, Bapak Mohammad Zenurianto sebagai Pembantu Direktur IV Bidang Kerjasama dan Pengembangan, Bapak Akhmad Suryadi BS.MT. selaku Kepala Kantor International Office dan para mahasiswa/i POLINEMA.

Dimulai dengan pidato pembukaan serta penyerahan plakat dan kenang-kenangan yang berlangsung di Gedung Rektorat, rombongan Institut Français Indonesia (IFI) Surabaya yang terdiri dari Mathieu Dumesnil selaku Direktur IFI Surabaya, Dina Mardiana sebagai penanggung jawab Campus France Surabaya, dan Riaz Ibrahim sebagai guru magang, diarahkan ke Warung Prancis yang untuk sementara ditempatkan di lobby gedung International Office. Nantinya lokasi Warung Prancis akan dipindahkan ke gedung perpustakaan yang akan selesai dibangun pada awal tahun 2014. Setelah pengguntingan pita, rombongan kembali menuju ke gedung rektorat untuk mengikuti sesi presentasi studi ke Prancis yang diberikan oleh penanggung jawab Campus France Surabaya.

Setelah mengikuti keseluruhan rangkaian acara, tercatat ada 30 orang mahasiswa/i yang telah mendaftar untuk mengikuti program French Club sebagai salah satu rencana kegiatan rutin mingguan Warung Prancis Malang, dan hingga saat berita ini diturunkan sudah bertambah menjadi 40 orang. Selain itu banyak dari mereka yang antusias menanyakan tentang beasiwa studi ke Prancis. Bapak Doddy Maulana juga menunjukkan semangatnya untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan lainnya untuk meramaikan Warung Prancis Malang, seperti kegiatan budaya, kursus bahasa Prancis, dan presentasi tentang studi di Prancis. Diharapkan Warung Prancis Malang akan menjadi daya tarik Prancis tidak hanya bagi para mahasiswa/i, namun juga pengunjung umum yang berdomisili di Malang.

PEMBUKAAN WARUNG PRANCIS POLITEKNIK NEGERI MALANG

Pada hari Senin, 21 Oktober 2013 telah diresmikan Warung Prancis Malang yang bertempat di gedung International Office Politeknik Negeri Malang (POLINEMA). Peresmian ini menandai berdirinya pusat informasi mengenai bahasa, kebudayaan dan pendidikan Prancis di Malang.

Acara yang berlangsung selama setengah hari itu dihadiri oleh Bapak Tundung Subali Padma, Ir., MT. selaku direktur POLINEMA, Bapak Doddy Maulana sebagai penanggung jawab Warung Prancis POLINEMA, Bapak Mohammad Zenurianto sebagai Pembantu Direktur IV Bidang Kerjasama dan Pengembangan, Bapak Akhmad Suryadi BS.MT. selaku Kepala Kantor International Office dan para mahasiswa/i POLINEMA.

Dimulai dengan pidato pembukaan serta penyerahan plakat dan kenang-kenangan yang berlangsung di Gedung Rektorat, rombongan Institut Français Indonesia (IFI) Surabaya yang terdiri dari Mathieu Dumesnil selaku Direktur IFI Surabaya, Dina Mardiana sebagai penanggung jawab Campus France Surabaya, dan Riaz Ibrahim sebagai guru magang, diarahkan ke Warung Prancis yang untuk sementara ditempatkan di lobby gedung International Office. Nantinya lokasi Warung Prancis akan dipindahkan ke gedung perpustakaan yang akan selesai dibangun pada awal tahun 2014. Setelah pengguntingan pita, rombongan kembali menuju ke gedung rektorat untuk mengikuti sesi presentasi studi ke Prancis yang diberikan oleh penanggung jawab Campus France Surabaya.

Setelah mengikuti keseluruhan rangkaian acara, tercatat ada 30 orang mahasiswa/i yang telah mendaftar untuk mengikuti program French Club sebagai salah satu rencana kegiatan rutin mingguan Warung Prancis Malang, dan hingga saat berita ini diturunkan sudah bertambah menjadi 40 orang. Selain itu banyak dari mereka yang antusias menanyakan tentang beasiwa studi ke Prancis. Bapak Doddy Maulana juga menunjukkan semangatnya untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan lainnya untuk meramaikan Warung Prancis Malang, seperti kegiatan budaya, kursus bahasa Prancis, dan presentasi tentang studi di Prancis. Diharapkan Warung Prancis Malang akan menjadi daya tarik Prancis tidak hanya bagi para mahasiswa/i, namun juga pengunjung umum yang berdomisili di Malang.

FÊTE DE LA SCIENCE (PESTA SAINS) – EDISI PERTAMA DI INDONESIA

Surabaya 1-18 September 2014

Budaya Sains – Pameran, seminar, workshop

« Fête de la Science » (« Pesta Sains ») Surabaya adalah :
Pameran interaktif dari Universcience : PAMERAN GEMPA & TSUNAMI (Galeri AJBS)
o    5 pemandu yang dilatih oleh ahli dari Palais de la Découverte – Universcience
o    26 jam  kunjungan grup didampingi pemandu
o    26 sekolah
o    770 siswa yang menyaksikan pameran dalam kunjungan grup

Pameran poster/foto dari CNRS dan IRD di 8 institusi partner:
o    5 universitas (Surabaya, Malang, Jombang, Makassar)
o    3 SMA


Workshop dan seminar di sekolah serta universitas di Surabaya, Malang dan Makassar

o    Workshop « La Main à la Pâte » dan diskusi
        – 2 pemandu yang dilatih  
    – 11 sekolah yang dikunjungi  
    – Lebih dari 2200 total siswa/siswi peserta

o    Seminar bencana alam dan strategi  rekonstruksi pasca bencana  
    – 3 pembicara (1 Prancis)
    – 3 universitas besar berpartisipasi (UNAIR, ITS, POLINEMA)
    – 260 peserta (mahasiswa berpartisipasi)

o    Seminar « Merawat Bumi, Menyelamatkan Manusia »
    – 2 pembicara
    – Universitas Hasanuddin Makassar
     – 30 peserta

« Fête de la Science » (« Pesta Sains ») Surabaya adalah juga :
•    2 presentasi Campus France mengenai studi bidang sains di Prancis
•    Pemutaran film di Auditorium IFI Surabaya :
       o 4 films dokumenter
       o 75  total penonton.

FÊTE DE LA SCIENCE (PESTA SAINS) – EDISI PERTAMA DI INDONESIA

Surabaya 1-18 September 2014

Budaya Sains – Pameran, seminar, workshop

« Fête de la Science » (« Pesta Sains ») Surabaya adalah :
Pameran interaktif dari Universcience : PAMERAN GEMPA & TSUNAMI (Galeri AJBS)
o    5 pemandu yang dilatih oleh ahli dari Palais de la Découverte – Universcience
o    26 jam  kunjungan grup didampingi pemandu
o    26 sekolah
o    770 siswa yang menyaksikan pameran dalam kunjungan grup

Pameran poster/foto dari CNRS dan IRD di 8 institusi partner:
o    5 universitas (Surabaya, Malang, Jombang, Makassar)
o    3 SMA


Workshop dan seminar di sekolah serta universitas di Surabaya, Malang dan Makassar

o    Workshop « La Main à la Pâte » dan diskusi
        – 2 pemandu yang dilatih  
    – 11 sekolah yang dikunjungi  
    – Lebih dari 2200 total siswa/siswi peserta

o    Seminar bencana alam dan strategi  rekonstruksi pasca bencana  
    – 3 pembicara (1 Prancis)
    – 3 universitas besar berpartisipasi (UNAIR, ITS, POLINEMA)
    – 260 peserta (mahasiswa berpartisipasi)

o    Seminar « Merawat Bumi, Menyelamatkan Manusia »
    – 2 pembicara
    – Universitas Hasanuddin Makassar
     – 30 peserta

« Fête de la Science » (« Pesta Sains ») Surabaya adalah juga :
•    2 presentasi Campus France mengenai studi bidang sains di Prancis
•    Pemutaran film di Auditorium IFI Surabaya :
       o 4 films dokumenter
       o 75  total penonton.

OLEH-OLEH DARI PRANCIS AKHIR 2014


Résidence en France des artistes surabayanais Agus Koecink et  Jenny Lee pour la création de l’espace Asie au Museum du Rouen


Le 10 décembre 2014, l’artiste Agus Koecink venait présenter son projet de résidence au Muséum de Rouen, devant un public d’artistes novices et confirmés, à l’auditorium de l’IFI Surabaya. Le plasticien, récemment rentré de son séjour en France, a mis en lumière les travaux réalisés par lui et sa compagne, Jenny Lee, artiste-sculptrice, dans le cadre de cette collaboration de longue date avec le musée.


Agus et le Muséum de Rouen, une histoire de longue date

Agus « Koecink » Soekamto est un artiste-plasticien surabayanais, connu et reconnu pour ses œuvres singulières, au style contemporain mais résolument empreint des traditions indonésiennes. En 2010, il fut sélectionné par le Service culturel de l’ambassade de France à Jakarta pour participer au programme de bourse intitulé « Mobilité des acteurs culturels indonésiens », parmi d’autres artistes originaires des différents coins de l’archipel. C’est à ce moment-là que la collaboration entre Agus et le Musée d’Histoire naturelle de la ville de Rouen débute.

En 2010, le Muséum de Rouen a un projet : créer un espace dédié à l’Asie en son sein. Sébastien Minchin, directeur du Muséum, souhaite en effet impliquer des artistes asiatiques contemporains qui ont un attachement fort à leurs cultures. Et pour ce faire, c’est tout naturellement vers Agus et Jenny qu’il se tourne. Après une première prise de contact fructueuse et à l’issue ce cette première résidence d’un mois au sein du Muséum en 2010, les premières pièces de l’édifice sont posées : Agus crée le concept et dessine les plans de la future salle Asie. Le projet se met en route…

Un an plus tard, en 2011, Agus et Jenny sont de nouveau invités par le Muséum de Rouen, pour poursuivre la collaboration sur l’espace Asie. La résidence est soutenue par le CCCL de Surabaya (actuel IFI Surabaya), partenaire du couple d’artistes surabayanais depuis des années déjà. Sélection des objets d’arts, d’histoires et de cultures asiatiques, amélioration des plans de l’espace, rencontres avec le public français, ateliers dans les écoles et universités… Agus & Jenny s’impliquent à 100% dans le projet du musée, et partagent également leur amour pour l’art et permettent au public de découvrir des aspects méconnus ou inconnus de la culture indonésienne.

A chaque retour en Indonésie, les deux artistes organisent à Surabaya des expositions « Oleh² dari Prancis », inspirées de la culture et du style de vie, du dynamisme français, afin, cette fois-ci, de partager leurs expérience des arts en France avec le public indonésien.


Et en 2014…

… tout s’accélère ! Agus et Jenny sont de nouveau invités à effectuer une résidence au sein du Muséum de Rouen. Cette dernière a lieu à l’automne. Entre temps, les plans de la salle ont été finalisés, les objets qui y seront exposés ont été soigneusement sélectionnés et il ne reste plus qu’à peaufiner les derniers arrangements (décorations, peintures murales, etc.). Pour l’espace consacré à l’Indonésie, les deux artistes ont choisi de mettre l’accent sur deux éléments clés de la culture indonésienne : le wayang (marionnette traditionnelle) et le batik (technique d’impression à la cire sur textile), tous deux reconnus comme patrimoine culturel immatériel de l’UNESCO. Agus et Jenny s’installent à Rouen du 15 septembre au 18 octobre 2014, oeuvrent activement à la finalisation du projet, et animent également 5 ateliers à destinations d’un public varié : techniques du batik pour les étudiants des Beaux-arts, peinture appliquée au wayang avec les écoles maternelles, dessin appliqué au wayang avec les écoles élémentaires, création de bijou en batik pour les femmes en réinsertion sociale, ainsi que discussions et rencontres avec des étudiants spécialisés dans le patrimoine et sa conservation.

Durant les Journées Européennes du Patrimoine, et à l’occasion de la journée portes- ouvertes du Muséum de Rouen le 20 septembre dernier, Agus a réalisé une performance mettant en scène le wayang et mettant en lumière la culture et les traditions indonésiennes.


Nouvel espace, nouveaux acteurs

Le vernissage de l’Espace Asie au sein du Muséum de Rouen a lieu le 17 octobre 2014. Immense succès ! La salle est inaugurée en présence des responsables du musée, des deux artistes surabayanais, des media, du public et de nombreux invités. Parmi ces derniers, on note la présence d’un représentant de l’ambassade de la République d’Indonésie à Paris, M. Hari Ashariyadi (Premier Conseiller).

Depuis 2014 en effet, l’ambassade indonésienne a pris part au projet, et a récemment fait don au muséum d’objets traditionnels indonésiens : un noken (sac en fibre de bois classé au patrimoine culturel immatériel de l’UNESCO), une jupe traditionnelle, une marionnette (wayang), un arc et ses flèches ainsi qu’une protection de bras en bois (utilisée par les guerriers de Papouasie occidentale). Ces objets  prendront place dans les vitrines de la galerie, aux cotés des objets déjà en exposition.

La collaboration culturelle franco-indonésienne s’enrichit donc d’un nouveau partenariat solide, qui augure ainsi les meilleurs auspices pour l’année de l’Indonésie en France en 2017.

OLEH-OLEH DARI PRANCIS AKHIR 2014


Residensi Seniman Surabaya di Prancis:
Agus Koecink dan Jenny Lee Mendesain Ruang Asia di Museum Rouen

Sepuluh Desember 2014 lalu, seniman Agus Koecink mempresentasikan project residensi seni di Museum Rouen – Prancis, di hadapan seniman muda dan senior, di Auditorium IFI Surabaya. Sang perupa, yang baru kembali dari Prancis, memaparkan mengenai karya yang dibuat olehnya dan sang istri Jenny Lee, seniman keramik, dalam rangka kolaborasi setelah sekian lamanya dengan museum tersebut.

Agus dan Museum Rouen, Proses yang Cukup Lama  

Agus « Koecink » Soekamto, dikenal dan diakui berkat karya-karyanya yang khas, dengan gaya kontemporer namun membawa jejak tradisi Indonesia. Pada tahun 2010, Agus Koecink terpilih oleh Kantor Kebudayaan Kedutaan Besar Prancis di Jakarta untuk mengikuti program  beasiswa seni bernama « Mobilité des acteurs culturels indonésiens », di antara sejumlah seniman dari berbagai wilayah nusantara. Saat itulah, kolaborasi antara Agus dan Museum Nasional Sejarah Alam di kota Rouen tersebut dimulai.

Di tahun 2010 pula, Museum Rouen memiliki project membuat ruangan khusus untuk koleksi dari Asia. Sébastien Minchin, Direktur Museum, berkeinginan untuk melibatkan seniman Asia kontemporer yang memiliki keterikatan kuat dengan budaya Asia, sehingga dipilihlah Agus dan Jenny.  Setelah kontak terkait residensi pertama mereka di museum tersebut pada 2010 berjalan lancar dan, tahap dasar project diletakkan: Agus membuat konsep dan desain denah calon ruang Asia dan  project pun dilaksakan.

Setahun kemudian, pada 2011, Agus dan Jenny kembali ke Museum Rouen, melanjutkan kolaborasi untuk ruangan Asia. Residensi ini didukung oleh CCCL Surabaya (sekarang IFI Surabaya), mitra dari pasangan seniman asal Surabaya ini sejak bertahun-tahun.

Seleksi benda-benda seni, sejarah dan budaya dari Asia, perbaikan denah ruangan, pertemuan dengan publik Prancis, lokakarya bagi para pelajar dan mahasiswa… Agus dan Jenny mencurahkan 100% waktu mereka pada project museum, juga berbagi kecintaan mereka akan seni serta membuka kesempatan bagi publik untuk menambah wawasan mengenai aspek tak dikenal atau belum diketahui dari budaya Indonesia.

Setiap kali kembali ke Indonesia, kedua seniman menyelenggarakan pameran seni visual « Oleh-Oleh dari Prancis », terinspirasi dari budaya, gaya hidup dan dinamika Prancis, membagi pengalaman seni mereka dengan publik Indonesia.

Pada Tahun 2014 ….

Semuanya bergerak lebih cepat. Agus dan Jenny diundang kembali untuk melakukan residensi di Museum Rouen. Kali ini pada musim gugur. Saat itu, denah ruangan telah diselesaikan, benda-benda yang akan ditampilkan telah dipilih secara hati-hati, hanya tinggal penyelesaian pengaturan terakhir (dekorasi, lukisan mural, dll). Untuk bagian ruangan bagi koleksi dari Indonesia, pasangan seniman ini memilih untuk menekankan pada 2 elemen penting budaya Indonesia, yaitu  wayang dan batik yang keduanya diakui sebagai Warisan Dunia Tak  Benda oleh UNESCO.

Agus dan Jenny tinggal di Rouen mulai tanggal 15 September hingga 18 Oktober 2014, bekerja aktif menyelesaikan project Ruang Asia, selain itu, mereka juga memandu 5 lokakarya untuk publik: teknik membatik untuk mahasiswa jurusan seni rupa, mewarnai dan menggambar wayang untuk pelajar Taman Kanak – Kanak dan Sekolah Dasar, membuat perhiasan dari batik untuk para perempuan, juga diskusi bersama mahasiswa bidang warisan kebudayaan/heritage dan konservasi budaya.

Dalam rangka ‘Hari Pusaka Budaya Eropa’ dan ‘Open House Museum Rouen’ tanggal 20 September lalu, Agus melakukan performance art dengan menampilkan wayang dan Budaya serta tradisi Indonesia.

Ruang Baru, Pelaku Baru  

Peresmian Ruang Asia di Museum Rouen diselenggarakan pada 17 Oktober 2014. Sebuah sukses besar! Ruangan diresmikan dengan kehadiran para pimpinan museum Rouen, 2 seniman Surabaya, media, publik dan undangan. Acara dihadiri pula oleh Deputy Chief Of Mission Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Paris, Bapak Hari Ashariyadi.

Sejak 2014, KBRI turut mendukung project ini, dan baru-baru ini pihak KBRI memberikan cinderamata sebagai koleksi Museum Rouen berupa sebuah noken (tas dari serat kayu khas Papua yang menjadi Warisan Dunia Tak Benda UNESCO), sebuah rok adat,  wayang, busur  dan panah, serta pelindung lengan dari kayu (digunakan dalam perang di Papua Barat) yang dipamerkan di ruang Galeri, di sebelah benda yang telah dipajang.

Kolaborasi budaya Prancis – Indonesia semakin kaya dengan kemitraan baru yang solid, yang menjanjikan  masa depan cerah pada “Tahun Indonesia” di Prancis pada 2017.

LOST IN FRENCHLATION #2

Jumat 20 Oktober 2017
The Consulate

Jl. Darmokali 10 Surabaya

Gratis

Dengan senang hati kami kabarkan kembalinya acara Lost in Frenchlation, bekerjasama dengan Screen Pills, yang memutar film “Je ne suis pas un salaud” karya sutradara Emmanuel Finkiel. Film thriller ini menampilkan Nicolas Duvauchelle dan Mélanie Thierry di kebun restoran The Consulate  yang menyuguhkan suasana outdoor yang belum pernah diadakan sebelumnya.
Yang ini sayang untuk dilewatkan !

“Je ne suis pas un salaud”
Sutradara : Emmanuel Finkiel
Thriller | Prancis subtitel Inggris

Jumat, 20 Oktober 2017
pukul 19:00
Kebun The Consulate
Jl. Darmokali No.10 Surabaya

Gratis

Tersedia camilan & minuman gratis (terbatas)

Acara didukung oleh :
The Consulate
Polaris
Vincent Maestro
Sing Your Mind

Info:
IFI Surabaya
Jl. Ratna 14 Komplek AJBS Surabaya
031 – 5035 035

facebook : IFI Surabaya
instagram : ifi_surabaya
twitter : @IFI-Sby