JOINT WORKING GROUP KERJA SAMA PRANCIS-INDONESIA KE-9 DI YOGYAKARTA DIHADIRI LEBIH DARI 220 PESERTA

3-4 mai 2017

Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

 

La prestigieuse Université Gadjah Mada (UGM) a accueilli les 3 et 4 mai derniers les 9èmes Assises de la Coopération universitaire et scientifique franco-indonésienne à Yogyakarta.

 

Evénement phare de la coopération entre les deux pays, les Assises sont co-organisées par l’Institut Français d’Indonésie (IFI), le Ministère indonésien de la Recherche, de la Technologie et de l’Enseignement supérieur (RISTEK DIKTI), et une université hôte, sous l’égide de l’Ambassade de France en Indonésie et de l’Ambassade d’Indonésie en France. Elles se tiennent tous les ans, alternativement en France et en Indonésie.

Monsieur Jean-Charles Berthonnet, Ambassadeur de France en Indonésie, prononce le discours d’ouverture des Assises

Plus de 220 participants se sont mobilisés pour cette 9ème édition, dont les représentants de 52 établissements français. La délégation indonésienne, forte d’environ 170 personnes, parmi lesquels de nombreux Recteurs, Vice-recteurs et doyens, représentait plus de 50 institutions, dont toutes les universités accréditées « A » par le ministère RISTEK DIKTI.

 

Comme chaque année, des tables-rondes thématiques ont été organisées afin d’établir les priorités en matière de recherche et de mettre en place de nouvelles coopérations. Pour cette 9ème édition, les travaux se sont concentrés sur 6 thématiques de travail : Sécurité Alimentaire et Agriculture, Santé et médecine, Energies, TIC, Sciences Humaines et Sociales, Sciences marines et maritimes. Les résultats de ces ateliers co-animés par un binôme d’universitaires français et indonésien, ont été présentés à l’ensemble des participants à la fin de ces deux journées de travail.


Monsieur Marc Piton (IFI), Monsieur Ali Ghufron Mukti (Ministère indonésien de la recherche, de la technologie et de l’enseignement supérieur), Monsieur Jean-Charles Berthonnet (Ambassadeur de France en Indonésie), et Monsieur Paripurna (UGM)

Ces rencontres ont été ponctuées d’un dîner de gala dans un restaurant attenant au palais de Sri Sultan Hamengkubuwono X, Sultan de Yogyakarta et gouverneur du territoire spécial de Yogyakarta le 3 mai, ainsi qu’un dîner au temple Prambanan, haut-lieu culturel indonésien et théâtre d’un spectacle dansé mettant en scène l’épopée traditionnelle indienne du Ramayana.

 

Le 10ème anniversaire des Assises sera célébré en 2018 en France. Deux universités se sont d’ores et déjà portées candidates pour l’accueil de cet événement, les  universités de Montpellier ou de Poitiers.


Monsieur Marc Piton, Conseiller de coopération et d’action culturelle – Directeur de l’IFI, à la cérémonie d’ouverture des Assises

JOINT WORKING GROUP KERJA SAMA PRANCIS-INDONESIA KE-9 DI YOGYAKARTA DIHADIRI LEBIH DARI 220 PESERTA

 

3-4 Mei 2017

Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

 

Universitas Gadjah Mada (UGM) yang prestisius menjadi tuan rumah Joint Working Group (JWG) Kerja Sama Universitas dan Ilmiah Prancis-Indonesia ke-9 di Yogyakarta tanggal 3 dan 4 Mei lalu.

 

JWG yang merupakan acara utama bagi kerja sama antarkedua negara ini diselenggarakan secara bersama-sama oleh Institut Prancis di Indonesia (IFI), Kementerian Riset Teknologi Dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (RISTEKDIKTI), serta satu universitas yang menjadi tuan rumah, di bawah naungan Kedutaan Besar Prancis di Indonesia dan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Prancis. JWG diselenggarakan setiap tahun, secara bergantian di Prancis dan di Indonesia.

Bapak Jean-Charles Berthonnet, Duta Besar Prancis untuk Indonesia, memberikan sambutan pembukaan JWG

Lebih dari 220 peserta berangkat ke edisi ke-9 acara ini, dan 52 di antaranya merupakan perwakilan dari institusi Prancis. Delegasi Indonesia, yang terdiri atas sekitar 170 orang dan di antaranya terdapat sejumlah Rektor, Wakil Rektor dan dekan, mewakili lebih dari 50 institusi, yang kesemuanya adalah universitas terakreditasi “A” oleh Kemristekdikti.

 

Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, sejumlah pertemuan tematik diselenggarakan untuk menetapkan prioritas dalam hal penelitian dan untuk membangun kerja sama baru. Untuk edisi ke-9 ini, pembahasan terfokus pada 6 tema kerja, yaitu ketahanan pangan dan pertanian, kesehatan dan medis, energi, teknologi informasi dan komunikasi, ilmu humaniora dan sosial, serta ilmu kelautan dan maritim. Hasil dari sejumlah workshop yang masing-masing dipimpin oleh pasangan moderator dari universitas Prancis dan Indonesia ini dipresentasikan di hadapan seluruh peserta pada penghujung dua hari kerja tersebut.


Bapak Marc Piton (IFI), Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, M.Sc., Ph.D. (RISTEKDIKTI), Bapak Jean-Charles Berthonnet (Duta Besar Prancis untuk Indonesia), dan Dr. Paripurna, S.H., M.Hum., LL.M. (UGM)

Acara ini dilengkapi dengan makan malam gala di restoran yang terdapat di lingkungan istana Sri Sultan Hamengkubuwono X, Sultan Yogyakarta dan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, pada tanggal 3 Mei, serta makan malam di Candi Prambanan, warisan budaya Indonesia, yang dilanjutkan dengan pertunjukan wayang orang yang menceritakan epik tradisional India, Ramayana.

 

JWG yang menginjak tahun ke-10 tahun 2018 akan diselenggarakan di Prancis. Saat ini sudah ada dua universitas yang menjadi kandidat tuan rumah acara tersebut, yaitu Universitas Montpellier atau Universitas Poitiers.


Bapak Marc Piton, Konselor Kerja Sama dan Kebudayaan – Direktur IFI, pada acara pembukaan JWG


A TWO DAY SYMPOSIUM ON GENOMICS AND BEYOND

Yogyakarta – Indonesia dan Prancis memiliki sejarah panjang kerjasama pendidikan tinggi di bidang ilmiah, dan di Yogyakarta kerjasama kedua negara terjalin melalui jejaring institusi UGM dan Institut Francais Indonesia (IFI). Institut Français adalah perpanjangan tangan Kedutaan Besar Prancis di Jakarta untuk memfasilitasi berbagai program kerja sama Indonesia-Prancis. Mengutip penjelasan Ibu Christine Moerman, Direktur IFI Yogyakarta, IFI berkecimpung dalam bidang kebudayaan; linguistik dan kerja sama ilmiah universitas. Program kerja samanya meliputi promosi pendidikan tinggi Prancis, program beasiswa antara lain Double Degree Indonesia Prancis (DDIP) dan Indo-Franco Joint Working Group, kerja sama universitas, kerja sama penelitian, join seminar-seminar tematik. Jejaring Indonesia-Prancis berhasil membangun sistem kolaborasi akademik baik dalam pengembangan kapasitas sumber daya manusia, program mobilitas pertukaran mahasiswa dan staf serta join riset. Sistem ini diperkuat dengan adanyaCampusFrance di  IFI yang bertugas untuk mempromosikan pendidikan tinggi Prancis di luar negeri dan menawarkan kepada siswa bimbingan untuk sukses menempuh pendidikan tinggi di Prancis.

 

Fakultas Kedokteran UGM berkesempatan menjadi tuan rumah “A Two Day Symposium on Genomic and beyond” tanggal 5-6 November 2014 sebagai bentuk kerja sama ilmiah Indonesia-Prancis dalam program pengembangan kapasitas sumber daya manusia.  Simposium dua hari ini menjembatani mahasiswa dan klinisi untuk lebih memahami Biologi Molekuler, sebagai bidang ilmu yang berkembang dari genetika molekuler, karena banyak penyakit dengan tingkat insidensi tinggi di Indonesia (malaria, HIV/AIDS, kanker, jantung koroner) memiliki aspek molekuler. Pemahaman aspek molekuler sangat membantu klinisi dalam penentuan diagnosis dan terapi yang pada akhirnya menjadi kontribusi penanggulangan masalah-masalah kesehatan nasional. Simposium yang didukungInstitut Français Indonesia menghadirkan narasumber dari Université de Poitiers, University Montpellier 2, Université de Rennes, dan University Lille Prancis. Sebanyak 130-an peserta dari UGM dan berbagai universitas di Indonesia lainnya (USU, UNHAS, YARSI, UNPAD, UNDIP, UNY, UMY) mengikuti simposium yang digelar oleh Program Pascasarjana S3 dan S2 Ilmu Kedokteran Dasar FK UGM.

 

Profesor Sofia Mubarika, salah satu penggagas simposium genomik menyampaikan dalam konferensi pers Kamis (6/11) bahwa saat ini pengobatan semakin bersifat individual berbasis genetik sehingga sangat penting bagi klinisi mendalami genomik. Dengan pendekatan individu (personalized medicine) diharapkan pengobatan penyakit degeneratif akan lebih tepat sasaran dengan minimal efek samping, ujarnya. Sebagai contoh penyakit kanker, tidak bisa diberi pengobatan yang sama untuk semua penderita kanker karena responnya bisa berbeda-beda. Apa lagi resistensi terhadap obat juga semakin tinggi. Dengan berbasis pada genomik, ujarnya, diharapkan akan diketahui  risiko suatu penyakit terkait pengaruh gaya hidup penderita seperti pola makan atau pola aktivitas sehari-hari.

 

Pentingnya pemahaman genomik juga ditegaskan oleh Vice President Universidé de Poiters Prancis Profesor Gérard Mauco yang berhasi menggandeng pakar genomics, epigenetics, proteomics dan molekuler dari institusi Prancis yaitu Profesor Roger Frutos, Profesor Veronique David, Profesor Alain Kitziz dan Dr. Stan Tomavo. “Pengobatan penyakit molekuler sebaiknya sesuai dengan jenis dan sumber penyakitnya untuk kemudian ditangani lewat analisis molekuler sehingga pengobatannya menjadi tepat dan menyembuhkan,” ujarnya.     \sari

sumber : http://fk.ugm.ac.id/2014/11/a-two-day-symposium-on-genomics-and-beyond/

A TWO DAY SYMPOSIUM ON GENOMICS AND BEYOND

Yogyakarta – Indonesia dan Prancis memiliki sejarah panjang kerjasama pendidikan tinggi di bidang ilmiah, dan di Yogyakarta kerjasama kedua negara terjalin melalui jejaring institusi UGM dan Institut Francais Indonesia (IFI). Institut Français adalah perpanjangan tangan Kedutaan Besar Prancis di Jakarta untuk memfasilitasi berbagai program kerja sama Indonesia-Prancis. Mengutip penjelasan Ibu Christine Moerman, Direktur IFI Yogyakarta, IFI berkecimpung dalam bidang kebudayaan; linguistik dan kerja sama ilmiah universitas. Program kerja samanya meliputi promosi pendidikan tinggi Prancis, program beasiswa antara lain Double Degree Indonesia Prancis (DDIP) dan Indo-Franco Joint Working Group, kerja sama universitas, kerja sama penelitian, join seminar-seminar tematik. Jejaring Indonesia-Prancis berhasil membangun sistem kolaborasi akademik baik dalam pengembangan kapasitas sumber daya manusia, program mobilitas pertukaran mahasiswa dan staf serta join riset. Sistem ini diperkuat dengan adanyaCampusFrance di  IFI yang bertugas untuk mempromosikan pendidikan tinggi Prancis di luar negeri dan menawarkan kepada siswa bimbingan untuk sukses menempuh pendidikan tinggi di Prancis.

 

Fakultas Kedokteran UGM berkesempatan menjadi tuan rumah “A Two Day Symposium on Genomic and beyond” tanggal 5-6 November 2014 sebagai bentuk kerja sama ilmiah Indonesia-Prancis dalam program pengembangan kapasitas sumber daya manusia.  Simposium dua hari ini menjembatani mahasiswa dan klinisi untuk lebih memahami Biologi Molekuler, sebagai bidang ilmu yang berkembang dari genetika molekuler, karena banyak penyakit dengan tingkat insidensi tinggi di Indonesia (malaria, HIV/AIDS, kanker, jantung koroner) memiliki aspek molekuler. Pemahaman aspek molekuler sangat membantu klinisi dalam penentuan diagnosis dan terapi yang pada akhirnya menjadi kontribusi penanggulangan masalah-masalah kesehatan nasional. Simposium yang didukungInstitut Français Indonesia menghadirkan narasumber dari Université de Poitiers, University Montpellier 2, Université de Rennes, dan University Lille Prancis. Sebanyak 130-an peserta dari UGM dan berbagai universitas di Indonesia lainnya (USU, UNHAS, YARSI, UNPAD, UNDIP, UNY, UMY) mengikuti simposium yang digelar oleh Program Pascasarjana S3 dan S2 Ilmu Kedokteran Dasar FK UGM.

 

Profesor Sofia Mubarika, salah satu penggagas simposium genomik menyampaikan dalam konferensi pers Kamis (6/11) bahwa saat ini pengobatan semakin bersifat individual berbasis genetik sehingga sangat penting bagi klinisi mendalami genomik. Dengan pendekatan individu (personalized medicine) diharapkan pengobatan penyakit degeneratif akan lebih tepat sasaran dengan minimal efek samping, ujarnya. Sebagai contoh penyakit kanker, tidak bisa diberi pengobatan yang sama untuk semua penderita kanker karena responnya bisa berbeda-beda. Apa lagi resistensi terhadap obat juga semakin tinggi. Dengan berbasis pada genomik, ujarnya, diharapkan akan diketahui  risiko suatu penyakit terkait pengaruh gaya hidup penderita seperti pola makan atau pola aktivitas sehari-hari.

 

Pentingnya pemahaman genomik juga ditegaskan oleh Vice President Universidé de Poiters Prancis Profesor Gérard Mauco yang berhasi menggandeng pakar genomics, epigenetics, proteomics dan molekuler dari institusi Prancis yaitu Profesor Roger Frutos, Profesor Veronique David, Profesor Alain Kitziz dan Dr. Stan Tomavo. “Pengobatan penyakit molekuler sebaiknya sesuai dengan jenis dan sumber penyakitnya untuk kemudian ditangani lewat analisis molekuler sehingga pengobatannya menjadi tepat dan menyembuhkan,” ujarnya.     \sari

sumber : http://fk.ugm.ac.id/2014/11/a-two-day-symposium-on-genomics-and-beyond/

PENDAFTARAN CHANSONS SANS FRONTIÈRES DIPERPANJANG HINGGA 19 JANUARI 2018

Chansons sans Frontières
CSF#12
Concours international d’écriture
d’un texte de chanson en français
 
Tema: Raconte-moi ton histoire
Chansons sans Frontières, adalah lomba bertaraf Internasional untuk menulis teks lagu dalam bahasa Perancis.
Lomba ini gratis, penuh kreasi dan mudah diakses, terbuka untuk semua kalangan dari segala umur dan semua negara.
“Raconte-moi ton histoire”, adalah tema penulisan edisi ke 12 ini, yang berkaitan dengan “Dis-moi dix mots sur tous les tons”.
Bercerita adalah mengisahkan petualangan, pengalaman, kejadian yang nyata atau imajiner, masa lalu atau masa kini yang terkadang bisa merupakan hal yang menakjubkan, indah atau mengerikan, yang tampak luar biasa atau berlebihan, untuk dikenang, atau untuk kesaksian, bercerita adalah berkata-kata.
 
Hadiah utama: Berlibur selama satu minggu di Prancis untuk 2 orang. Semua biaya ditanggung oleh panitia lomba
Hadiah kedua: 500 euro,
Penghargaan untuk anak muda/remaja: 300 euro
Penghargaan untuk peserta dengan bahasa Perancis sebagai bahasa ibu: 150 euro
Para pemenang akan dipublikasikan serta mendapatkan bingkisan.
 
Penutupan pendaftaran diperpanjang hingga 19 Januari 2018
 
Bagaimana cara untuk berpartisipasi?
– Tulis teks lagu dalam bahasa Prancis
– Seputar tema “Raconte-moi ton histoire” atau “Ceritakan kisahmu”
– Sambil berimprovisasi, jika Anda mau, dengan “Dis-moi dix mots sur tous les tons”
atau “Katakan sepuluh kata pada semua nada”
– Mendaftarkan diri di situs http://www.chansons-sans-frontieres.fr/
– dan kirim teks Anda paling lambat 19 Januari 2018
Info lebih lanjut seputar lomba silakan klik: https://www.chansons-sans-frontieres.fr/le-concours
 
Mari bercerita!
 
 

PENDAFTARAN CHANSONS SANS FRONTIÈRES DIPERPANJANG HINGGA 19 JANUARI 2018

Chansons sans Frontières
CSF#12
Concours international d’écriture
d’un texte de chanson en français
 
Tema: Raconte-moi ton histoire
Chansons sans Frontières, adalah lomba bertaraf Internasional untuk menulis teks lagu dalam bahasa Perancis.
Lomba ini gratis, penuh kreasi dan mudah diakses, terbuka untuk semua kalangan dari segala umur dan semua negara.
“Raconte-moi ton histoire”, adalah tema penulisan edisi ke 12 ini, yang berkaitan dengan “Dis-moi dix mots sur tous les tons”.
Bercerita adalah mengisahkan petualangan, pengalaman, kejadian yang nyata atau imajiner, masa lalu atau masa kini yang terkadang bisa merupakan hal yang menakjubkan, indah atau mengerikan, yang tampak luar biasa atau berlebihan, untuk dikenang, atau untuk kesaksian, bercerita adalah berkata-kata.
 
Hadiah utama: Berlibur selama satu minggu di Prancis untuk 2 orang. Semua biaya ditanggung oleh panitia lomba
Hadiah kedua: 500 euro,
Penghargaan untuk anak muda/remaja: 300 euro
Penghargaan untuk peserta dengan bahasa Perancis sebagai bahasa ibu: 150 euro
Para pemenang akan dipublikasikan serta mendapatkan bingkisan.
 
Penutupan pendaftaran diperpanjang hingga 19 Januari 2018
 
Bagaimana cara untuk berpartisipasi?
– Tulis teks lagu dalam bahasa Prancis
– Seputar tema “Raconte-moi ton histoire” atau “Ceritakan kisahmu”
– Sambil berimprovisasi, jika Anda mau, dengan “Dis-moi dix mots sur tous les tons”
atau “Katakan sepuluh kata pada semua nada”
– Mendaftarkan diri di situs http://www.chansons-sans-frontieres.fr/
– dan kirim teks Anda paling lambat 19 Januari 2018
Info lebih lanjut seputar lomba silakan klik: https://www.chansons-sans-frontieres.fr/le-concours
 
Mari bercerita!
 
 

LE MOIS DU DOCUMENTAIRE BULAN DOKUMENTER

23 – 24 November 2017

Auditorium IFI 
Jl Sagan 3- 55223 Yogyakarta- Indonésie 

Tél: + 62 (274) 54 74 09 Fax: + 62 (274) 56 21 40

IFI Yogyakarta tergabung dalam edisi ke 18 bulan film dokumenter yang digagas oleh asosisasi « Images en bibliothèques » dan Institut Français, diselenggarakan lebih dari 1200 daerah di Prancis dan 35 negara di seluruh dunia, selama bulan November 2017. Agenda yang bertajuk « retour a l’école » pada 23 – 24 November 2017 yang juga tergabung dalam edisi ke 16 Festival Film Dokumenter Yogyakarta yang diselenggarakan oleh FFD, rekanan dari Indonesia, pada tanggal 9 – 15 Desember 2017 mendatang. FFD akan mempersembahkan film-film silang pandang berkat pemutaran film Prancis, Jerman, Indonesia dan Asia Tenggara.
 
Retour à l’école
 
Berabad silam, nilai dan pengetahuan diteruskan melalui beragam wujud. Ia dinarasikan melalui dongeng, mitos, hingga nyanyian. Saat ini, sekolah merupakan bentuk yang paling umum bagaimana gagasan nilai dan pengetahuan dipindahkan dari generasi ke generasi, dengan bentuk yang formal dan terinstitusionalisasi. Sayangnya, wujud pendidikan formal memiliki kecenderungan yang didaktis. Gambaran mengenai apa yang harus dilakukan anak muda maupun masa depan yang ideal seringkali berupa narasi tunggal. Alih-alih mengeksplorasi kreativitas dan hasrat anak-anak muda, sekolah seringkali memuat bias kepentingan orang dewasa. Mereka diwajibkan pandai dalam mata pelajaran, ahli dalam olahraga, hingga, patuh pada ideologi negara. 
 
Dalam penyelenggaraan Le Mois du Film Documentaire (Bulan Dokumenter Prancis) 2017 ini, film-film yang disajikan berusaha mengeksplorasi bagaimana anak-anak muda di dalam ruang sekolah berusaha mendobrak dan menyiasati kelindan batas-batas sosial budaya yang ada di dalamnya. Film Le Cour du Babel (Julia Bertuccelli, 2013) berusaha memotret dinamika anak-anak dalam memahami perbedaan di dalam keseharian, bagaimana interaksi mereka dalam memandang teman-teman yang berbeda ras, agama, dan etnis secara polos merupakan hal yang menarik untuk dipahami. . Sementara Comment J’ai les detestes les math (Olivier Peyon, 2013) berawal dari diskusi ruang kelas menuju fenomena global bagaimana matematika bisa begitu dibenci sebagai sebuah mata pelajaran. Sedikit beranjak dewasa, penggambaran gap antar generasi mulai terlihat di dalam dua film; yaitu Les Regles de Jeu (Claudine Bories & Patrice Chagnard, 2014) dan Chanta ton Bac d’abord (David Andre, 2013). Bagaimana tuntutan masyarakat dan keluarga berusaha dilawan oleh anak-anak muda di dalam proses sekolah menengah menuju perkuliahan, sekaligus transisi menuju kedewasaan.
 
 
Kamis, 23 November 2017 | Auditorium IFI-LIP | 16:00 WIB
Comment j’ai détesté le math/ How I Came to Hate Maths 
Oliver Peyon | 103 min | France | 2013 | PG 
 
Matematika identik dengan kebosanan, nyaris idak terelakan memperoleh nilai buruk dalam matematika, singkat kata, kita benci matematika ! Mungkin mudah untuk tertawa jika matematika tidak memiliki andil besar dalam peradaban. lewat perjalanan ke empat penjuru dunia, ditemani ahli matematika seperti Cédric Villani (peraih Fields medal 2010), Comment j’ai deteste le math menceritakan bagaimana matematika mengubah dunia.
Math Always bored you, you always thought that being useless at math was inevitable, in short, you always loathed math! we could have been happy to lough at them if mathematics hadn’t taken such an important place in our society. Through a journey to the four corners of the world in the company of the greatest mathematiciens, including Cédric Villani (2010 Fields Medal), Comment j’ai détesté les maths recounts how mathematics have changed our world for the better… and sometimes for the worst. 
 
Rumah Produksi : zadig Productions
Kontak               :  info.yogyakarta@ifi-id.com
 
 
Kamis, 23 November 2017 | Auditorium IFI-LIP | 19.00 WIB
Chante ton bac d’abord / We Did IT on A Song 
David André | 82 min | France | 2013 PG 
 
Mengisahkan liku perjalanan sekelompok remaja dari Boulogne-sur-Mer., sebuah kota di Prancis di tengah krisis keuangan. Di antara mimpi-mimpi dan kekecewaan, ditangkap lewat mata anak-anak muda berlatar belakang kelas menengah dan pekerja, diiringi lagu-lagu yang dalam harmoni membawa puisi, tawa, dan rasa, ke dalam realita. 
This film is telles the storry tale of a fgroup of friends from Boulogne-sur-Mer, a French town hit by the financial crisis. A year between dreams and disillusion, imagined by teenagers from a working or midle class background, with songs that regulary add poetry, laughter, and emotion to reality. 
 
Rumah produksi : brotherfilsm 
 
Jumat, 24 November 2017 | Auditorium IFI-LIP | 16.00 WIB
La Cour du Babel / Scholl of babel 
Julie Bertuccelli | 89 min | France | 2013 | PG 
 
Sekelompok siswa, usia 11 sampai 15 tahun, bertemu di kelas Bahasa Prancis. Bak teater kecil ; kepolosan, energi dan kontradiksi mereka dalam berekspresi, yang termotivasi keinginan untuk mengubah hidup, mempertanyakan nbanyak gagasan mengenai masa muda dan integrasi. 
They are college students, age 11 to 15, meeting in a same class to learn French, in this small theater, the innocence, the energy and the contradictions of these teenegers express themselves, who, motivated by the same desire to change their life, question many received ideas about youth and integration. 
 
Rumah produksi : Les Films du Poisson, Sampek Productions, Arte France Cinema
 
Jumat, 24 November 2017 | Auditorium IFI-LIP | 19.00 WIB
Les regles du jeu / The Rules of the Game 
Claudine Bories & Patrice Chagnard | 106 mjin | France | 2014 | PG 
 
Lolita tidak suka tersenyum, Kevin tidak tahu cara membawakan diri. Hamid tidak suka koki. Thierry berbicara bahasa jalanan. Mereka berusia dua puluh tahn , tidak memiliki ijazah dan mencari pekerjaan.
Selama 6 bulan, pelath dari agensi kerja akan mengajarkan mereka sikap dan tata bahasa yang dibutuhkan untuk mendapat perkerjaan. Melalui proses tersebut, film ini menguak absurditas “aturan main ” di lapangan 
Lolita dos not like to smile, Kevin does not know how to sell himself. Thierry speak wash, Hamid does not like chefs. They are twenty years old, have no diploma and are lookinh for work. For 6 months, the coaches of an employment agency will teach them the behavior and the language you need to get a job. Through this learning, the film reveals the absurdity of these new rules of  the games 

 

LE MOIS DU DOCUMENTAIRE BULAN DOKUMENTER

23 – 24 November 2017

Auditorium IFI 
Jl Sagan 3- 55223 Yogyakarta- Indonésie 

Tél: + 62 (274) 54 74 09 Fax: + 62 (274) 56 21 40

IFI Yogyakarta tergabung dalam edisi ke 18 bulan film dokumenter yang digagas oleh asosisasi « Images en bibliothèques » dan Institut Français, diselenggarakan lebih dari 1200 daerah di Prancis dan 35 negara di seluruh dunia, selama bulan November 2017. Agenda yang bertajuk « retour a l’école » pada 23 – 24 November 2017 yang juga tergabung dalam edisi ke 16 Festival Film Dokumenter Yogyakarta yang diselenggarakan oleh FFD, rekanan dari Indonesia, pada tanggal 9 – 15 Desember 2017 mendatang. FFD akan mempersembahkan film-film silang pandang berkat pemutaran film Prancis, Jerman, Indonesia dan Asia Tenggara.
 
Retour à l’école
 
Berabad silam, nilai dan pengetahuan diteruskan melalui beragam wujud. Ia dinarasikan melalui dongeng, mitos, hingga nyanyian. Saat ini, sekolah merupakan bentuk yang paling umum bagaimana gagasan nilai dan pengetahuan dipindahkan dari generasi ke generasi, dengan bentuk yang formal dan terinstitusionalisasi. Sayangnya, wujud pendidikan formal memiliki kecenderungan yang didaktis. Gambaran mengenai apa yang harus dilakukan anak muda maupun masa depan yang ideal seringkali berupa narasi tunggal. Alih-alih mengeksplorasi kreativitas dan hasrat anak-anak muda, sekolah seringkali memuat bias kepentingan orang dewasa. Mereka diwajibkan pandai dalam mata pelajaran, ahli dalam olahraga, hingga, patuh pada ideologi negara. 
 
Dalam penyelenggaraan Le Mois du Film Documentaire (Bulan Dokumenter Prancis) 2017 ini, film-film yang disajikan berusaha mengeksplorasi bagaimana anak-anak muda di dalam ruang sekolah berusaha mendobrak dan menyiasati kelindan batas-batas sosial budaya yang ada di dalamnya. Film Le Cour du Babel (Julia Bertuccelli, 2013) berusaha memotret dinamika anak-anak dalam memahami perbedaan di dalam keseharian, bagaimana interaksi mereka dalam memandang teman-teman yang berbeda ras, agama, dan etnis secara polos merupakan hal yang menarik untuk dipahami. . Sementara Comment J’ai les detestes les math (Olivier Peyon, 2013) berawal dari diskusi ruang kelas menuju fenomena global bagaimana matematika bisa begitu dibenci sebagai sebuah mata pelajaran. Sedikit beranjak dewasa, penggambaran gap antar generasi mulai terlihat di dalam dua film; yaitu Les Regles de Jeu (Claudine Bories & Patrice Chagnard, 2014) dan Chanta ton Bac d’abord (David Andre, 2013). Bagaimana tuntutan masyarakat dan keluarga berusaha dilawan oleh anak-anak muda di dalam proses sekolah menengah menuju perkuliahan, sekaligus transisi menuju kedewasaan.
 
 
Kamis, 23 November 2017 | Auditorium IFI-LIP | 16:00 WIB
Comment j’ai détesté le math/ How I Came to Hate Maths 
Oliver Peyon | 103 min | France | 2013 | PG 
 
Matematika identik dengan kebosanan, nyaris idak terelakan memperoleh nilai buruk dalam matematika, singkat kata, kita benci matematika ! Mungkin mudah untuk tertawa jika matematika tidak memiliki andil besar dalam peradaban. lewat perjalanan ke empat penjuru dunia, ditemani ahli matematika seperti Cédric Villani (peraih Fields medal 2010), Comment j’ai deteste le math menceritakan bagaimana matematika mengubah dunia.
Math Always bored you, you always thought that being useless at math was inevitable, in short, you always loathed math! we could have been happy to lough at them if mathematics hadn’t taken such an important place in our society. Through a journey to the four corners of the world in the company of the greatest mathematiciens, including Cédric Villani (2010 Fields Medal), Comment j’ai détesté les maths recounts how mathematics have changed our world for the better… and sometimes for the worst. 
 
Rumah Produksi : zadig Productions
Kontak               :  info.yogyakarta@ifi-id.com
 
 
Kamis, 23 November 2017 | Auditorium IFI-LIP | 19.00 WIB
Chante ton bac d’abord / We Did IT on A Song 
David André | 82 min | France | 2013 PG 
 
Mengisahkan liku perjalanan sekelompok remaja dari Boulogne-sur-Mer., sebuah kota di Prancis di tengah krisis keuangan. Di antara mimpi-mimpi dan kekecewaan, ditangkap lewat mata anak-anak muda berlatar belakang kelas menengah dan pekerja, diiringi lagu-lagu yang dalam harmoni membawa puisi, tawa, dan rasa, ke dalam realita. 
This film is telles the storry tale of a fgroup of friends from Boulogne-sur-Mer, a French town hit by the financial crisis. A year between dreams and disillusion, imagined by teenagers from a working or midle class background, with songs that regulary add poetry, laughter, and emotion to reality. 
 
Rumah produksi : brotherfilsm 
 
Jumat, 24 November 2017 | Auditorium IFI-LIP | 16.00 WIB
La Cour du Babel / Scholl of babel 
Julie Bertuccelli | 89 min | France | 2013 | PG 
 
Sekelompok siswa, usia 11 sampai 15 tahun, bertemu di kelas Bahasa Prancis. Bak teater kecil ; kepolosan, energi dan kontradiksi mereka dalam berekspresi, yang termotivasi keinginan untuk mengubah hidup, mempertanyakan nbanyak gagasan mengenai masa muda dan integrasi. 
They are college students, age 11 to 15, meeting in a same class to learn French, in this small theater, the innocence, the energy and the contradictions of these teenegers express themselves, who, motivated by the same desire to change their life, question many received ideas about youth and integration. 
 
Rumah produksi : Les Films du Poisson, Sampek Productions, Arte France Cinema
 
Jumat, 24 November 2017 | Auditorium IFI-LIP | 19.00 WIB
Les regles du jeu / The Rules of the Game 
Claudine Bories & Patrice Chagnard | 106 mjin | France | 2014 | PG 
 
Lolita tidak suka tersenyum, Kevin tidak tahu cara membawakan diri. Hamid tidak suka koki. Thierry berbicara bahasa jalanan. Mereka berusia dua puluh tahn , tidak memiliki ijazah dan mencari pekerjaan.
Selama 6 bulan, pelath dari agensi kerja akan mengajarkan mereka sikap dan tata bahasa yang dibutuhkan untuk mendapat perkerjaan. Melalui proses tersebut, film ini menguak absurditas “aturan main ” di lapangan 
Lolita dos not like to smile, Kevin does not know how to sell himself. Thierry speak wash, Hamid does not like chefs. They are twenty years old, have no diploma and are lookinh for work. For 6 months, the coaches of an employment agency will teach them the behavior and the language you need to get a job. Through this learning, the film reveals the absurdity of these new rules of  the games 

 

PEMUTARAN FILM SPESIAL FRANKOFONI

30 Maret 2017 jam 19.00

Auditorium IFI 
Jl Sagan 3- 55223 Yogyakarta- Indonésie 

Tél: + 62 (274) 54 74 09 Fax: + 62 (274) 56 21 40

Kamis, 30 Maret – 19.00
Le cancre – Jacques Prévert (short moovie)
Dir : Chenghua Yang
Prancis | 2014 |  3 min | Animasi | Versi Prancis, subtitel Inggris |  Warna 
Kamis, 30 Maret – 19.10
As I Open My Eyes | À peine j’ouvre les yeux
Dir : Leyla Bouzid
Prancis-Tunisia-Belgia-UAE | 2015 |  102 Min  | Drama | Versi Arab, subtitel Inggris | aya Medhaffer, Ghalia Benali, Montassar Ayari  | best film francophone 2016
Tunisia pada tahun 2010, beberapa bulan sebelum Revolusi Melati, setelah Sarah lulus SMU,  Orang tuanya berharap ia menjadi dokter, tetapi sebagai wanita muda, Sarah memilih untuk menjadi vokalis band rock Indie, dengan kisah cinta yang membuatnya bergetar. Tapi Hayet, Ibunya sangat mengkhawatirkan anaknya karena dia tahu larangan-larangan terhadap kaum perempuan di Tunisia.
Kamis, 30 Maret – 20.50
En sortant de l’ecole – Jacques Prévert (short moovie)
Dir : Lila Peuscet
Prancis| 2014 | 3 min | Animasi | Versi Prancis, subtitel Inggris |  Warna

PEMUTARAN FILM SPESIAL FRANKOFONI

30 Maret 2017 jam 19.00

Auditorium IFI 
Jl Sagan 3- 55223 Yogyakarta- Indonésie 

Tél: + 62 (274) 54 74 09 Fax: + 62 (274) 56 21 40

Kamis, 30 Maret – 19.00
Le cancre – Jacques Prévert (short moovie)
Dir : Chenghua Yang
Prancis | 2014 |  3 min | Animasi | Versi Prancis, subtitel Inggris |  Warna 
Kamis, 30 Maret – 19.10
As I Open My Eyes | À peine j’ouvre les yeux
Dir : Leyla Bouzid
Prancis-Tunisia-Belgia-UAE | 2015 |  102 Min  | Drama | Versi Arab, subtitel Inggris | aya Medhaffer, Ghalia Benali, Montassar Ayari  | best film francophone 2016
Tunisia pada tahun 2010, beberapa bulan sebelum Revolusi Melati, setelah Sarah lulus SMU,  Orang tuanya berharap ia menjadi dokter, tetapi sebagai wanita muda, Sarah memilih untuk menjadi vokalis band rock Indie, dengan kisah cinta yang membuatnya bergetar. Tapi Hayet, Ibunya sangat mengkhawatirkan anaknya karena dia tahu larangan-larangan terhadap kaum perempuan di Tunisia.
Kamis, 30 Maret – 20.50
En sortant de l’ecole – Jacques Prévert (short moovie)
Dir : Lila Peuscet
Prancis| 2014 | 3 min | Animasi | Versi Prancis, subtitel Inggris |  Warna