Sepuluh proyek penelitian unggulan terpilih pada PHC Nusantara 2025

Pada 5 Maret 2025, Komite Gabungan Prancis-Indonesia mengadakan pertemuan di Jakarta, secara daring dan luring, guna menyeleksi proposal program Partenariat Hubert Curien (PHC) Nusantara. Sepuluh proyek penelitian unggulan berhasil lolos seleksi dari 43 proposal yang diajukan.

Program tersebut bertujuan untuk mendorong pertukaran pengetahuan dan teknologi yang unggul antara pusat-pusat penelitian di kedua negara, terutama melalui pendanaan mobitas peneliti. Para pemenang pun menerima manfaat dari sharing pengetahuan dan pemerolehan pengalaman melalui kegiatan penelitian bersama (joint research).

PHC Nusantara dikoordinasikan di Prancis oleh Kementerian Eropa dan Luar Negeri (MEAE) dan Kementerian Pendidikan Tinggi dan Riset (MESR), sedangkan di Indonesia oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (KEMDIKTISAINTEK).

Rapat seleksi dibuka oleh Bapak Yos Sunitiyoso, Direktur Hilirisasi dan Kemitraan, KEMDIKTISAINTEK, yang mengapresiasi dukungan Pemerintah Prancis terhadap kerja sama ilmiah antara kedua negara.

Bapak Jules Irrmann, Konselor Kerja Sama dan Kebudayaan, Kedutaan Besar Prancis di Indonesia, menggarisbawahi adanya peningkatan jumlah proposal yang diajukan secara signifikan tahun ini, di mana mencapai tiga kali lipat dari tahun 2024. Beliau menekankan peranan penting PHC Nusantara dalam memperkuat kerja sama Prancis-Indonesia, yang tahun ini memasuki perayaan 75 tahun. Di samping itu, Beliau juga mendorong promosi hasil penelitian yang lebih luas, terutama melalui penyelenggaraan seminar oleh para penerima pendanaan PHC Nusantara.

Dari sisi Prancis, Bapak Thierry Goubier, Atase Kerja Sama Sains dan Teknologi mempresentasikan gambaran ringkas mengenai topik-topik penelitian yang diusung oleh proyek terpilih sejak 2019. Mayoritas topik yang diusung di antaranya bidang ilmu bumi dan antariksa, teknik, serta biologi, kedokteran, dan kesehatan. Beliau juga menyoroti dampak signifikan program ini terhadap publikasi ilmiah tingkat tinggi.

Bapak Pascal Legendre, seorang ahli dari Delegasi untuk kerja sama Eropa dan Internasional (DAEI) MESR, turut mengingatkan pentingnya keterlibatan peneliti muda pada proposal yang diajukan sebagai kriteria utama dalam penilaian juri.

Di akhir pertemuan, sepuluh proyek penelitian unggulan terpilih di antara 43 proposal yang diajukan, yang menunjukkan peningkatan kualitas kolaborasi antara peneliti Prancis dan Indonesia. Kedua pihak juga menyepakati dukungan pendanaan, yakni pihak Indonesia, melalui Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), berkomitmen untuk mendanai mobilitas dan penelitian bagi peneliti Indonesia mulai tahun 2025. Sementara itu, pihak Prancis berkomitmen untuk menanggung biaya terkait mobilitas penerima pendanaan asal Prancis untuk periode 2025-2026 (selama dua tahun).

Proses seleksi ini melambangkan sebuah kolaborasi antara Prancis dan Indonesia yang semakin erat dan menjadi bukti kedinamisan kerja sama ilmiah kedua negara.

Daftar Penerima Pendanaan PHC Nusantara 2025

Pembukaan Program Beasiswa France Excellence tingkat Doktor Tahun 2025

Tenggat waktu pendaftaran: 23 Maret 2025 Pukul 23.00 WIB

Wujudkan mimpi Anda: raih kesempatan menarik ini untuk melanjutkan studi doktor ke Prancis!

Kedutaan Besar Prancis untuk Indonesia, Timor Leste dan ASEAN – Institut français Indonesia meluncurkan program beasiswa France Excellence tingkat doktor tahun 2025 yang bertujuan untuk memperkuat riset kolaborasi yang tengah berjalan antara kedua negara. Beasiswa tersebut ditujukan kepada para kandidat yang ingin melanjutkan studi doktor di perguruan tinggi Prancis dan/atau mengikuti joint supervision. Pendanaan dapat berupa beasiswa penuh maupun parsial.

  • Beasiswa Penuh: pendanaan studi doktor berdurasi maksimal 36 bulan (3 tahun);
  • Beasiswa Parsial: pendanaan studi doktor berdurasi maksimal 18 bulan secara akumulatif selama 3 tahun.

Untuk mendaftar pada program Beasiswa France Excellence tingkat doktor, silakan mengunduh panduan pendaftaran ini dan mengisi formulir di bawah ini:


Formulir Beasiswa France Excellence S3

Ada pertanyaan ? Silakan kunjungi laman FAQ.

Penawaran Beasiswa Mobilitas Penelitian di Prancis: Séjour Scientifique de Haut Niveau (SSHN) – Edisi 2025

Tenggat pendaftaran: 22 Februari 2025, Pukul 23.00 WIB

Apakah Anda ingin memperluas cakrawala ilmiah Anda melalui kolaborasi penelitian dengan peneliti Prancis? Program beasiswa Séjour Scientifique de Haut Niveau (SSHN) kembali dibuka tahun ini untuk menawarkan kesempatan menarik!

Kedutaan Besar Prancis di Indonesia, Timor Leste, dan ASEAN dan Institut français d’Indonésie meluncurkan program beasiswa Séjour Scientifique de Haut Niveau (SSHN) edisi 2025. Beasiswa SSHN bertujuan untuk memberikan dukungan perjalanan bagi para peneliti Indonesia yang ingin memulai atau menindaklanjuti berbagai proyek kerja sama ilmiah tingkat tinggi antara kedua negara.

Panggilan pendaftaran ini ditujukan bagi mahasiswa S3, peneliti muda maupun peneliti senior yang bekerja di perguruan tinggi atau lembaga penelitian Indonesia dan yang memiliki kerja sama dengan Prancis.

Beasiswa ini terbagi menjadi dua kategori:

  • SSHN peneliti muda (mahasiswa S3 atau peneliti bergelar doktor kurang dari 5 tahun);
  • SSHN peneliti senior (peneliti yang bergelar doktor lebih dari 5 tahun).

Pendanaan mencakup mobilitas peneliti dan biaya hidup selama satu (1) hingga tiga (3) bulan di Prancis. Mobilitas dapat dilaksanakan antara tanggal 1 Mei sampai dengan 31 Desember 2025.

Untuk informasi lebih lanjut, silakan mengakses panduan pendaftaran ini.

Untuk mendaftar, silakan mengisi formulir di bawah ini:


Formulir beasiswa SSHN 2025

Ada pertanyaan? Silakan kunjungi laman FAQ.

Panggilan Proyek Penelitian: Science et Impact 2025

Sesi 2025: Tenggat pendaftaran diperpanjang hingga 15/03/2025

Wujudkan proyek kolaborasi Anda di bidang sains dan teknologi antara Prancis, Indonesia, dan Timor Leste melalui program Science et Impact!

Diluncurkan oleh Kedutaan Besar Prancis untuk Indonesia, Timor Leste, dan ASEAN, program Science et Impact bertujuan untuk melengkapi proyek Anda, dengan menyediakan sebuah pendanaan yang fleksibel, reaktif, dan mudah guna mendukung kerja sama sains dan teknologi. Program ini bertujuan untuk mendukung para aktor Prancis dalam proyek kerja sama mereka dengan Indonesia dan Timor Leste, serta memenuhi beragam kebutuhan seperti konferensi sains, sidang disertasi, magang, seminar, survei/angket, terjemahan, peralatan, dll. Hibah ini juga bermaksud untuk memperkuat atau menginisiasi kerja sama yang terjalin antara institusi Prancis dan institusi Indonesia atau Timor Leste.

Visibilitas capaian/luaran (publikasi, hasil penelitian yang konkrit, artikel di jurnal ilmiah) dari setiap proyek yang akan didanai diharapkan dapat mengilustrasikan manfaat yang nyata dari kerja sama sains antara Prancis, Indonesia dan Timor Leste.

Dana yang disediakan untuk setiap proyek maksimal 10.000 euro; pendanaan rata-rata sejak Oktober 2016 adalah sekitar 3.500 euro per proyek.

Bantuan dana ini berupa hibah yang disalurkan kepada sebuah institusi berbadan hukum di Prancis. Sebelum dana ditransfer, penerima wajib membuat surat pernyataan yang menyatakan bahwa pengirim dibebaskan dari biaya transfer. Tidak diperlukan Surat Perjanjian antara Kedutaan Besar Prancis dan lembaga yang bersangkutan karena pendanaan ini bersifat sepihak.

Untuk pendaftaran silahkan isi formulir online berikut ini :


Formulir Science et Impact 2025

Perhatian 

  • Hanya satu sesi panggilan yang akan dibuka pada tahun 2025.
  • Satu formulir per proyek yang akan diterima.
  • Sekali terkirim, formulir tidak dapat diubah atau dibatalkan.

Untuk informasi selengkapnya, silahkan mengunduh Panggilan Proyek Penelitian Science et Impact 2025.

Ada pertanyaan? Silakan kunjungi laman FAQ.

Untuk pertanyaan lebih lanjut, Anda dapat menghubungi Kantor Kerja Sama Sains dan Teknologi di Kedutaan Besar Prancis untuk Indonesia, Timor Leste dan ASEAN melalui surel projet@ifi-id.com.

Selamat! Ini Pemenang Science et Impact, SSHN, France Excellence S3 dan MT 180 2024

Pada tahun 2024, Institut français d’Indonésie (IFI) – Kedutaan Besar Prancis di Indonesia, Timor Leste dan ASEAN meluncurkan sejumlah program strategis guna memperkuat kerja sama ilmiah antara Prancis dan Indonesia. Program-program tersebut yakni Science et Impact, beasiswa mobilitas penelitian Séjour Scientifique de Haut Niveau (SSHN), beasiswa France Excellence tingkat doktor dan kompetisi Ma Thèse en 180 secondes (MT 180). Temukan daftar pemenang dari setiap program di bawah ini.

Science et Impact

Program Science et Impact menawarkan pendanaan yang fleksibel untuk mendukung para aktor Prancis agar dapat melanjutkan proyek kerja sama mereka dengan Indonesia dan Timor Leste. Pada tahun 2024, sebanyak 68 proposal diajukan pada dua sesi seleksi (Maret dan September), dan terdapat 24 proyek yang dipilih oleh tim komite gabungan. Kebutuhan utama yang diajukan pada proyek-proyek terpilih adalah pendanaan untuk perjalanan (58%), penyelenggaraan pertemuan/seminar (25%) dan penelitian (13%).

Berikut ini daftar penerima pendanaan Science et Impact sesi 2024.

Beasiswa SSHN

Beasiswa Séjour Scientifique de Haut Niveau (SSHN) mendukung mobilitas para peneliti Indonesia yang ingin memulai atau memperkuat proyek kerja sama ilmiah tingkat tinggi antara Prancis dan Indonesia. Dari 36 kandidat, sebanyak 19 peneliti terpilih dengan proporsi 63 % peneliti muda dan 37 % peneliti senior. Para pemenang telah melaksanakan perjalanan ilmiah mereka di Prancis, terutama di Kota Montpellier, Paris, Clermont Ferrand, Valenciennes dan Nantes.

Berikut ini daftar penerima beasiswa SSHN sesi 2024.

Beasiswa France Excellence tingkat Doktor

Program beasiswa France Excellence tingkat doktor menawarkan kesempatan luar biasa bagi kandidat Indonesia yang ingin melanjutkan studi doktor di Prancis. Pada edisi 2024, sebanyak lima kandidat yang diterima. Di antara kelima kandidat tersebut, sebuah beasiswa penuh telah diberikan kepada Nining Sumawati Asri, peneliti di Pusat Riset Material Maju, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Nining menempuh pendidikan doktor di École Doctorale Sciences pour l’Ingénieur Bretagne (SPI Bzh), Laboratoire de Génie Civil et Génie Mécanique (LGCGM), Université de Rennes 1.

Ma Thèse en 180 secondes (MT 180)

Kompetisi « Ma thèse en 180 secondes » atau Disertasiku dalam 180 Detik (MT 180) kembali diselenggarakan di Indonesia untuk ketujuh kalinya. Tahun ini, sebanyak tujuh kandidat yang mendaftar dan mengikuti pelatihan komunikasi baik lisan maupun tertulis secara gratis. Acara final digelar secara daring pada tanggal 27 September 2024, dengan menghadirkan para juri, di antaranya Thierry Goubier, Atase Kerja Sama Sains dan Teknologi, Julie Dupéroir, Atase Kerja Sama Bahasa Prancis dan Nugroho Dwi Hananto, Direktur Pengelolaan Armada Kapal Riset BRIN sekaligus alumni IPGP.

Daftar pemenang kompetisi MT 180 2024 :

  • Juara 1 : Bambang Sutrisno (Universitas Sebelas Maret dan Universitas Muhammadiyah Jakarta – Dewan Terkoneksi Politik dan Risiko Jatuhnya Harga Saham)
  • Juara 2 : Asih Melati (INSA Centre Val De Loire – Pengembangan, Karakterisasi Fisika-Kimia dan Thermal Degradasi Biokomposit)
  • Juara 3 : Made Handijaya Dewantara (Griffith University dan Université Paris 1 Panthéon-Sorbonne – Interaksi Parasosial dalam Ekosistem Vlog Perjalanan: Implikasi terhadap Pemasaran Destinasi Pariwisata)

https://youtu.be/yNgecRb7p_Q

Kerja Sama Prancis-Indonesia Melawan Polusi Plastik, Menuju Masa Depan yang Lebih Berkelanjutan dengan OceanKita

Pengurangan polusi plastik dan pengelolaan sampah masih menjadi tantangan lingkungan yang besar bagi Prancis dan Indonesia. Guna menghadapi masalah yang mendesak ini, sebuah inisiatif Prancis-Indonesia dibentuk untuk memberikan solusi-solusi yang berkelanjutan. OceanKita, perusahaan sosial yang didukung oleh para mitra Prancis, aktor lokal dan otoritas Indonesia, menjadi salah satu kolaborasi yang paling dikenal dalam bidang ini.

https://youtu.be/rKOsKHFalho?feature=shared

Inisiatif lokal untuk Dampak Global: Proyek “Seribu Biru”

Sebagai bagian dari upayanya dalam mengurangi sampah plastik di laut, OceanKita, cabang dari perusahaan sosial Indonesia Sustanea yang didirikan oleh Nicolas Bernier dari Prancis, telah meluncurkan proyek “Seribu Biru”, didanai oleh bank Prancis, BNP Paribas Asset Management.

Tujuan dari inisiatif ini adalah untuk membersihkan pantai dan perairan pesisir Untung Jawa, salah satu pulau di Kepulauan Seribu di dekat Jakarta, sekaligus untuk meningkatkan kesadaran di antara penduduk, pelajar, dan wisatawan tentang perlunya mengurangi sampah laut. Penelitian lapangan ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan kualitas ekosistem lokal, tetapi juga untuk membangun kapasitas masyarakat dalam pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan.

Pada tanggal 21 September 2024, OceanKita mengambil langkah lebih jauh dengan mengadakan aksi bersih-bersih Pantai Sakura dan penanaman mangrove di pulau tersebut, bekerja sama dengan TKN PSL (Tim Koordinasi Nasional Pengelolaan Sampah Laut).

Acara ini mempertemukan berbagai pemangku kepentingan yang berperan aktif, di antaranya para sukarelawan dari masyarakat setempat, anggota TKN PSL, OceanKita, dan Kantor Kerja Sama Sains dan Teknologi Kedutaan Besar Prancis di Indonesia – IFI. Perwakilan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) turut hadir dan menunjukkan dukungan resmi untuk inisiatif ini, yakni Iwan Nirawandi (Direktorat Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan), Arief Adriansyah dan Sardi (Direktorat Pengurangan Sampah).

TKN PSL mengambil kesempatan ini untuk menegaskan kembali target nasional yang ambisius untuk mengurangi sampah plastik di Indonesia sebesar 70% pada tahun 2025. Mereka pun menunjukkan bahwa sebagian besar sampah yang ditemukan di Pulau Untung Jawa berasal dari daerah lain, yang diangkut oleh arus laut karena lokasinya berdekatan dengan Pulau Jawa, Provinsi Jakarta dan Banten. Dengan melibatkan masyarakat lokal dalam aksi tersebut, OceanKita dan mitranya telah berhasil menciptakan dinamika positif, yang didukung oleh pemerintah, untuk memperbaiki kondisi pantai. Kolaborasi ini telah menunjukkan hasil yang menjanjikan dengan peningkatan daya tarik wisata di pulau tersebut, serta mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.

 

Membersihkan Sungai Ciliwung: Kerja Sama Internasional untuk Aksi Lokal

Upaya jangka panjang ini bukanlah upaya yang berdiri sendiri. Pada tanggal 14 Maret, Hari Aksi Internasional untuk Sungai dirayakan melalui sebuah kegiatan bersama Kedutaan Besar Prancis di Indonesia dan beberapa organisasi lokal. Untuk memperingati hari tersebut, sebuah kampanye pengumpulan sampah plastik diadakan di Sungai Ciliwung, di selatan Jakarta.

Diselenggarakan oleh Kantor Kerja Sama Sains dan Teknologi (CST) Kedutaan Besar Prancis di Jakarta, bekerja sama dengan OceanKita dan Sahabat Sungai Indonesia (SSI), kegiatan ini diikuti oleh para perwakilan dari Institut français d’Indonésie dan Kedutaan Besar Prancis di Indonesia, para peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta para sukarelawan. Mereka menyusuri Sungai Ciliwung dan mengumpulkan total 66 kg sampah plastik, yang terdiri atas botol, kemasan plastik, sepatu, styrofoam, dan lain-lain.

Walau diwarnai dengan kenyataan pahit tentang sungai yang dipenuhi sampah, komitmen para anggota SSI dan tim OceanKita mampu mengubah suasana. Meskipun hanya simbolis, aksi ini berhasil membersihkan satu bagian sungai, menyoroti pentingnya kerja kolaboratif di berbagai tingkatan dan komitmen bersama untuk memulihkan ekosistem sungai di Indonesia.

Peringatan Hari Aksi Internasional untuk Sungai ini menyoroti kerja sama yang bermanfaat antara Prancis dan Indonesia. Program pendanaan “Science et Impact” dari Kedutaan Besar Prancis, yang diwakili oleh para pemenang penghargaan seperti David Rapidel dari ReCleanSea-O5 Marine dan Nicolas Bernier dari OceanKita-Sustenea, berkolaborasi dengan Reza Cordova dari BRIN dan timnya, termasuk Deny Yogaswara yang juga hadir dalam acara ini, menunjukkan manfaat nyata dari penelitian ilmiah dalam kerja sama bilateral.

Sungai Ciliwung, yang membentang sepanjang 120 km dari Bogor ke Jakarta, mengalir di wilayah berpenduduk sekitar 280.000 orang dan menghasilkan sekitar 190 ton sampah setiap harinya, termasuk 49 ton plastik. Setiap harinya, sekitar 3,4 ton sampah berakhir di sungai. Degradasi sungai, dengan tepiannya yang dipenuhi sampah, menunjukkan kebutuhan mendesak untuk bertindak dan pentingnya memobilisasi sumber daya nasional dan internasional untuk mendukung upaya lokal. OceanKita, dengan dukungan bersama dari Indonesia dan Prancis, membantu mengubah persepsi masyarakat tentang polusi plastik dan mendorong aksi lokal.

 

Tantangan Polusi Plastik di Indonesia

Indonesia menyadari tantangan besar yang dihadapi dalam hal pengelolaan sampah dan berupaya mencari solusi yang berkelanjutan. Melalui Indonesia National Plastic Action Partnership (RAN) yang diperkenalkan pada tahun 2017, Indonesia berkomitmen untuk mengurangi sampah plastik hingga 30% dan kebocoran plastik di laut hingga 70% pada tahun 2025. Meskipun sudah ada beberapa upaya, dengan waktu satu tahun yang tersisa, target ini masih ambisius. Sungai Ciliwung adalah ilustrasi yang sempurna untuk masalah ini.

Menurut data dari National Plastic Action Partnership (NPAP) tahun 2017, Indonesia menghasilkan 6,8 juta ton sampah plastik setiap tahun. Sebanyak 61% di antaranya tidak terkumpul, sehingga menyebabkan polusi yang signifikan melalui kebocoran ke laut dan pembakaran sampah. Statistik menunjukkan bahwa 620.000 ton plastik berakhir di lautan setiap tahunnya. OceanKita menunjukkan bahwa angka-angka ini tidak banyak berubah sejak tahun 2017, menggarisbawahi besarnya tantangan yang dihadapi.

 

Mikroplastik: Ancaman Tak Kasat Mata bagi Ekosistem

Mikroplastik, pecahan plastik berukuran kurang dari 5 mm, merupakan ancaman berbahaya bagi ekosistem perairan dan kesehatan manusia, ancaman yang menjadi perhatian OceanKita. Mikroplastik berasal dari penguraian sampah plastik yang lebih besar, serta dari produk industri dan barang konsumsi seperti kosmetik dan pakaian sintetis. Partikel-partikel ini sekarang ada di mana-mana, di sungai, lautan, bahkan di udara yang kita hirup. Di Indonesia, mikroplastik tidak hanya terdeteksi di sungai seperti Sungai Ciliwung, tetapi juga pada organisme spesies air, mencemari seluruh rantai makanan.

Dampak mikroplastik terhadap fauna air sangat buruk, di antaranya tertelan oleh ikan dan burung, gangguan fungsi reproduksi, serta akumulasi racun dalam organisme. Bagi manusia, mikroplastik masih belum banyak dipahami, namun berpotensi menimbulkan risiko kesehatan yang serius, termasuk gangguan hormon dan efek pada sistem kekebalan tubuh.

Keberadaan mikroplastik yang ditemukan di sebagian besar wilayah perairan pesisir dan sungai di Indonesia menjadi bukti bahwa polusi plastik masih terus terjadi, dan juga perlunya penelitian ilmiah kolaboratif untuk menghasilkan solusi yang inovatif.

 

Kolaborasi yang Membuahkan Hasil dengan Otoritas Lokal dan Nasional

Aksi-aksi lokal yang dilakukan oleh OceanKita, termasuk kolaborasi dengan asosiasi Sahabat Sungai Indonesia (SSI), didukung oleh otoritas lokal seperti Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan Dinas Pariwisata.

SSI bekerja sama dengan DLH Kota Depok, yang membimbing dan melatih para anggota dan sukarelawan organisasi ini untuk meningkatkan efektivitas dan dampaknya. Mereka juga bekerja sama dalam rangka program “Green to School” untuk meningkatkan kesadaran lingkungan di kalangan anak muda.

Di samping itu, SSI juga bekerja sama dengan Dinas Pariwisata Kota Depok untuk mempromosikan pariwisata berkelanjutan dan meningkatkan kesadaran akan konservasi alam di kalangan wisatawan. Dinas Pariwisata mendukung kegiatan arung jeram di Ciliwung dengan menyediakan kendaraan dan pemandu.

Singkatnya, kolaborasi antara SSI dan lembaga pemerintah setempat meningkatkan efektivitas kegiatan pembersihan dan pelestarian sungai, serta membuat masyarakat setempat lebih terlibat dalam pelestarian lingkungan.

 

Sebuah Visi Bersama untuk Masa Depan

Kesimpulannya, upaya bersama OceanKita, Kedutaan Besar Prancis dan pemerintah daerah menunjukkan bahwa perjuangan melawan polusi plastik membutuhkan mobilisasi kolektif, baik secara lokal maupun internasional. Inisiatif yang dilakukan di Pulau Untung Jawa dan Sungai Ciliwung menggambarkan kesediaan masyarakat lokal untuk menjadi agen perubahan, berkat dorongan yang diberikan oleh kemitraan Prancis-Indonesia dan dukungan dari pemerintah pusat dan daerah.

Aksi lokal dan dukungan internasional ini memberikan solusi nyata dan menunjukkan bahwa kerja sama Prancis-Indonesia memiliki potensi untuk menjadi teladan dalam memerangi polusi plastik di Asia Tenggara. Dengan melanjutkan langkah ini, Prancis dan Indonesia bersama-sama berkontribusi pada masa depan yang lebih bersih dan berkelanjutan bagi planet ini dan generasi mendatang.

Lokakarya Interaktif: Menemukan Penjahat di Lautan…

Sebagai bagian dari Fête de la Science 2024, dengan tema “Lautan Pengetahuan,” sebuah lokakarya interaktif menanti Anda. Acara ini, akan dilangsungkan dalam bahasa Inggris, menyajikan diskusi untuk menyelami dunia penuh teka-teki tentang hiu, mematahkan mitos-mitos dan mengungkap kebenaran di balik makhluk yang sering disalahpahami ini.

Dipandu oleh Kimberley Fargeaud, dari Kantor Kerja Sama Sains dan Teknologi – IFI, lokakarya menarik ini akan mengeksplorasi kebenaran tentang makhluk berbahaya di lautan. Melalui diskusi langsung yang interaktif serta wawasan ilmiah, para peserta akan memulai perjalanan menarik untuk menjawab  pertanyaan: “apakah kita harus takut pada hiu?”

Acara ini menawarkan perpaduan yang unik antara edukasi dan hiburan, dan menarik bagi para penggemar dunia lautan dan bagi anda yang ingin mengetahui lebih lanjut tentang lautan. Jangan lewatkan kesempatan ini untuk mengungkap misteri salah satu predator paling ikonik di lautan dan memberikan anda perspektif baru tentang siapa “penjahat sejati” di lautan.

Bergabunglah dengan kami pada hari Senin, 14 Oktober 2024, dari pukul 18.30 hingga 20.00 WIB di IFI Thamrin.


Klik di sini untuk mendaftar

Atau scan QR:

Saksikan Final Kompetisi MT180 Indonesia 2024 secara live !

Tanggal : Jumat, 27 September 2024

Pukul : 15.00 – 17.00 WIB

Tautan zoom : https://bit.ly/FinaleMT180_2024

Anda tertarik dengan penemuan inovatif? Jangan lewatkan edisi ketujuh Final Kompetisi Ma Thèse en 180 secondes (MT 180) atau Disertasiku dalam 180 Detik Indonesia tahun 2024! Kompetisi yang mendebarkan ini memberikan kesempatan kepada para mahasiswa doktor dan peneliti muda untuk mempresentasikan hasil penelitian mereka dalam bahasa Prancis hanya dalam waktu 180 detik, dengan jelas, ringkas dan berdampak.

Apa itu Disertasiku dalam 180 Detik ?

Kompetisi ini merupakan lompatan nyata bagi talenta muda dalam bidang penelitian, yang memungkinkan para peneliti untuk memperkenalkan proyek penelitian mereka kepada masyarakat luas. Para peserta harus menyakinkan juri dan publik dengan presentasi yang dinamis dan menarik, hanya dalam 3 menit dan hanya menggunakan satu visual !

Mengapa harus menyaksikan Final ini?

  • Temukan penelitian-penelitian yang inovatif: Menghadiri presentasi yang penuh semangat dengan topik-topik yang variatif, mulai dari kemajuan di bidang kesehatan sampai inovasi teknologi termasuk juga ilmu sosiologi dan ekonomi.
  • Dukung peneliti: Beri dukungan bagi talenta lokal dan apresiasi kemampuan mereka dalam mempopulerkan sains dengan bahasa yang mudah dimengerti publik awam.
  • Berinteraksi secara langsung: Lemparkan pertanyaan seputar keingintahuan Anda dan bertukar informasi dengan para peneliti selama sesi diskusi atau melalui kolom chat secara daring selama acara berlangsung.

Bagaimana cara berpartisipasi ?

Bergabung melalui zoom pada tanggal 27 September jam 15.00 WIB untuk mengikuti acara secara live dan dukung peneliti favorit Anda. Jangan lupa untuk membagikan informasi seputar acara ini kepada rekan dan teman-teman Anda!


Tautan Zoom

Susunan acara :

  • 15.00 – 16.00 : Kompetisi : Berlangsungnya presentasi dari 7 kandidat (dalam bahasa Prancis)
  • 16.00 – 16.15 : Presentasi dari Campus France : Studi di Prancis, apa yang perlu Anda ketahui ? (dalam bahasa Inggris)
  • 16.15 – 16.30 : Diskusi bersama kandidat : Tanya jawab seputar penelitian dan pengalaman mereka di Prancis (dalam bahasa Inggris)
  • 16.30 – 17.00 : Pengumuman pemenang dan penyerahan hadiah (dalam bahasa Prancis)

Kami menanti kehadiran Anda sebanyak-banyaknya dalam perayaan penelitian saintifik tersebut. Jangan lewatkan kesempatan unik untuk mengenal langsung dengan calon peneliti besar, pengalaman riset mereka di Prancis dan proyek penelitian mereka yang bisa menginspirasi Anda!

L’Ambassade de France en Indonésie et l’IPB organisent la 2ème conférence internationale sur les incendies : Synergie mondiale pour lutter contre les incendies de forêt

Le 12 août 2024, l’Ambassade de France en Indonésie, en collaboration avec l’IPB University (institut indonésien d’agriculture de Bogor), a organisé la deuxième conférence internationale sur les incendies. Cette conférence avait pour but de démontrer l’engagement des différentes parties à réduire les émissions de gaz à effet de serre dues aux incendies de forêts. La conférence s’est tenue à l’IPB University et a rassemblé plusieurs délégués locaux et internationaux, à savoir la Malaisie, la France, le Brunei Darussalam, la Corée du Sud et la Thaïlande.

La personne ressource française pour cette conférence, la Professeure Christelle Hely, de l’Institut des Sciences de l`Evolution-Montpellier (ISME), Université de Montpellier s’est montrée très enthousiaste à l’égard de cet événement et a fermement soutenu les efforts de l’Indonésie en matière de réduction des émissions de gaz à effet de serre. Elle espère que le gouvernement français, par l’intermédiaire de l’Ambassade de France en Indonésie, pourra contribuer de manière significative via cette coopération, à la lutte contre les incendies de forêts, qui constituent l’une des plus grandes sources d’émissions de gaz à effet de serre. Le gouvernement français est prêt à partager les expériences et les technologies de gestion des incendies de forêt qui ont été mises en œuvre avec succès en Europe.

« L’un des résultats de la coopération entre la France et l’IPB est le Centre d’excellence sur les incendies de forêts tropicales et de tourbières, qui est le premier et le seul centre de formation en Asie du Sud-Est doté d’un simulateur d’incendie. Cet outil est utile pour former les experts et les équipes de pompiers contre les incendies de forêts aux stratégies et techniques d’extinction des incendies en Indonésie », a-t-elle déclaré.

En tant qu’hôte de la conférence, le Professeur Iskandar Siregar, vice-recteur de l’IPB chargé de la connectivité mondiale, de la coopération et des anciens élèves, a déclaré : « Les incendies de forêt affectent de nombreux aspects de la vie, de la santé publique aux dommages causés à l’écosystème. C’est pourquoi la conférence et la gestion des incendies de forêt comme celles-ci sont très importantes ».

Le président de la conférence, Dr. Ati Dwi Nurhayati, a souligné l’importance de ce forum en tant qu’un espace de discussion et d’échange d’expériences entre les pays concernant la gestion des incendies de forêts. « La collaboration entre le gouvernement, les universitaires et la communauté internationale est très importante pour ce problème », a-t-elle poursuivi.

Du point de vue du gouvernement indonésien, Laksmi Dhewanthi, Directrice générale de la lutte contre le changement climatique au Ministère indonésien de l’environnement et des forêts (KLHK), a déclaré que le gouvernement avait renforcé les capacités des agents sur le terrain grâce à la formation et à l’éducation, ainsi qu’à l’utilisation de technologies plus sophistiquées pour la surveillance des incendies de forêt.

« Diverses parties ont été impliquées dans la résolution de ce problème, tant au niveau du gouvernement central que des gouvernements régionaux, des ONG et du secteur privé. Le gouvernement implique plusieurs agences nationales, telles que l’Agence nationale de gestion des catastrophes (BNPB), l’Agence de météorologie, de climatologie et de géophysique (BMKG), l’Agence nationale pour la recherche et l’innovation (BRIN), les universitaires et les communautés concernées par les incendies », a-t-il déclaré.

Le Professeur Bambang Hero, expert de l’IPB et Directeur du Regional Fire Management Resource Southeast Asia (RFMRC-SEA), est également d’accord avec cette déclaration. « La coopération qui s’est établie entre les différentes parties doit être poursuivie et améliorée afin de pouvoir surmonter le problème global des incendies de forêt », a-t-il conclu.

IPB University dan Kedubes Perancis Gelar 2nd International Fire Conference: Sinergi Global Atasi Karhutla

Pada 12 Agustus 2024, Kedutaan Besar Prancis di Indonesia bekerja sama dengan IPB University menyelenggarakan Konferensi Internasional tentang Kebakaran Hutan yang kedua. Konferensi ini diadakan untuk menunjukkan komitmen berbagai pihak dalam upaya pengurangan emisi gas rumah kaca yang berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Konferensi ini diadakan di IPB University dan diikuti oleh berbagai delegasi lokal maupun internasional, yaitu Malaysia, Prancis, Brunei Darussalam, Korea Selatan dan Thailand.

Narasumber Prancis untuk konferensi ini, Prof. Christelle Hely dari Institut des Sciences de L`Evolution-Montpellier (ISME) Université de Montpellier sangat antusias terhadap acara ini dan sangat mendukung upaya Indonesia dalam mengurangi emisi gas rumah kaca. Dia berharap pemerintah Prancis melalui Kedubes Prancis di Indonesia dapat memberikan kontribusi yang signifikan melalui kerja sama ini, untuk mengatasi karhutla yang merupakan salah satu sumber emisi terbesar. Pemerintah Prancis siap berbagi pengalaman dan teknologi yang dibutuhkan dalam mengelola karhutla yang telah berhasil diterapkan di Eropa.

“Salah satu hasil kerja sama Prancis dan IPB yang sudah diterapkan, yaitu Ruang Rainforests and Peatlands Fires Centre of Excellence yang merupakan training centre pertama dan satu-satunya di Asia Tenggara, yang dilengkapi dengan fire simulator. Alat tersebut berguna untuk melatih ahli dan tim pemadam karhutla dalam strategi dan teknik pemadaman di Indonesia,” ujarnya.

Sebagai tuan rumah penyelenggara konferensi, Prof. Iskandar Siregar, Wakil Rektor IPB bidang Konektivitas Global, Kerja Sama dan Alumni ; menyampaikan, “Kebakaran hutan mempengaruhi banyak aspek kehidupan, mulai dari kesehatan masyarakat hingga kerusakan ekosistem. Maka dari itu, konferensi dan juga penanganan terkait kebakaran hutan sangat penting dilakukan.”

Ketua pelaksana konferensi, Dr Ati Dwi Nurhayati, menyebutkan pentingnya forum ini untuk wadah diskusi dan berbagi pengalaman antar negara mengenai penanganan karhutla. “Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat internasional sangat penting untuk permasalahan ini”, sambungnya.

Sementara itu, dari segi pemerintah Indonesia, Laksmi Dhewanthi, selaku Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim, Kementerian Lingkungan dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia, mengatakan bahwa pemerintah telah meningkatkan kapasitas petugas di lapangan melalui pelatihan dan pendidikan serta menggunakan teknologi pemantauan kebakaran hutan yang lebih canggih.

“Berbagai pihak telah dilibatkan untuk menanggulangi masalah ini, baik dari pemerintah pusat maupun daerah, NGO serta pihak swasta. Pemerintah melibatkan beberapa badan nasional, seperti Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), para akademisi serta masyarakat peduli api,” ujarnya.

Pakar IPB, Prof. Bambang Hero, yang juga menjabat sebagai Direktur Regional Fire Management Resource Southeast Asia (RFMRC-SEA), juga sepakat dengan pernyataan tersebut. “Kerja sama yang telah terbangun di antara berbagai pihak ini perlu diteruskan dan ditingkatkan untuk dapat mengatasi tuntas permasalahan karhutla,” pungkasnya.