.

MENGENANG ALBERT UDERZO

Rahartati Bambang Haryo
25-03-2020

Kalau saja bulan Mei 1995 saya tidak kebetulan membaca – saya lupa nama surat kabar atau majalahnya – bahwa komik Astérix akan merayakan ulang tahunnya yang ke-50, saya tidak akan menghubungi pemimpin redaksi femina, dengan permintaan, izin menghadiri pestanya. Gayung bersambut. Setelah menunggu beberapa waktu, izin diberikan. Tiket pesawat diberikan, visa tanpa susah payah saya dapatkan, berkat Astérix.

Maka berangkatlah saya ke Paris, dan seperti biasa atas kebaikan hati banyak teman dan mantan peserta kursus Sekdilu – saya kebetulan mendapat tugas sebagai widyaiswara – saya dapat menginap di apartemen milik seorang diplomat.

Tanpa membuang waktu, tanggal 16 Juni 1995, saya langsung menuju ke kantor Bapak Albert Uderzo di avenue Victor Hugo.

Meskipun alamat penerbit Albert René sudah saya temukan, saya tidak dapat langsung naik ke kantor, karena pintu di lantai dalam keadaan keadaan tertutup. Hanya ada tombol dengan angka dan huruf, yang harus saya tekan, kalau saja saya tahu angka dan hurufnya. Satu-satunya jalan menelepon sekretarisnya. Tapi ponsel belum populer tahun itu, jadi saya harus lari ke kabin telepon tak jauh dari sana.

Harus antre. Tiga orang di depan saya. Malangnya, orang yang sedang telepon sama sekali tidak peduli dirinya ditunggu. Baru ketika calon penelepon terdepan mengetok pintunya, dengan suara keras dia membuka pintu sambil berteriak, “Kamu tidak lihat saya sedang menelepon, ya?” Saya sungguh tidak menduga jawaban yang dihardik bakal seketika membuat si penelepon membanting pesawat lalu keluar. “Kamu tidak menelepon, kamu ngobrol.” Kami berempat tertawa.

Akhirnya saya mendapat giliran. Ternyata nomor yang saya putar sedang sibuk. Jadi harus memutar kembali nomornya, sementara di luar telah menunggu dua orang, dari raut wajah mereka saya tahu, mereka harus segera menelepon. Dengan berat hati saya keluar, lalu kembali ke pintu.

Semesta memihak saya. Tiba-tiba ada orang yang membuka pintu, begitu saja, menekan gerendelnya, lalu masuk. Saya berikan isyarat bahwa saya juga ingin masuk. Alangkah baiknya hati orang itu. Dia memegang pintunya, dan mempersilakan saya masuk, setelah bertanya, siapa yang ingin saya temui. “Monsieur Uderzo.” Pertanyaan selanjutnya cukup mengagetkan. “Kenapa Anda mau bertemu Uderzo?” Saya terpaksa menjawab, “Saya penerjemah komik Astérix.” Tanggapannya mengagetkan saya, “Pas vrai! – Ah, masa, sih? Mari saya antar …”

Pak Uderzo menyambut ramah kedatangan saya. Dia mengaku heran, Astérix bisa diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.

– Bagaimana cara Anda menerjemahkan Astérix?” begitu pertanyaan selanjutnya.
– À mon avis, Astérix est intraduisible.” Astérix tidak bisa diterjemahkan.
– Kenapa begitu?
– Terlalu banyak permainan kata, peribahasa, nyanyian … Dan kata-kata yang diucapkan terbalik. Farpaitement, au lieu de parfaitement. Alih-alih parfaitement, Anda menuliskannya terbalik, farpaitement …

Baik Pak Uderzo maupun sekretarisnya terbahak.

– Lalu, bagaimana Anda menerjemahkannya?”
– Terjemahan dari kata parfaitement dalam bahasa Indonesia secara harafiah adalah dengan sempurna. Tetapi karena terdiri dari dua kata, dan kalau dibalik pun tidak menimbulkan tawa pembaca, saya langsung menerjemahkannya dengan tebul-tebul behat; betul-betul hebat;

Pak Uderzo menggeleng-gelengkan kepala, dan menyuruh saya mengulang kata tebul-tebul behat dan mencoba menirukannya. Saya tertawa melihat mimiknya.

Pembicaran selanjutnya tentang bagaimana saya menerjemahkan nyanyian, peribahasa dalam bahasa Latin, dan permainan kata. Saya lalu mengambil contoh Astérix chez les Belges (Astérix di Belgia). Gambar legioner sedang mencuci sambil menyanyi, mengingatkan saya pada lagu ciptaan Titik Puspa, Marilah kemari. Saya terpaksa memperdengarkan lagu yang sebenarnya, “Marilah kemari, ye, ye, ye, ye … Dan kini menari, ye ye ye ye … “ dan menerjemahkan liriknya, kemudian memperdengarkan lirik perubahannya, Marilah mencuci, ye ye ye ye … Nyuci sambil nyanyi, ye ye ye ye …

Sayang seribu sayang, karena saya sangat tidak suka dipotret maupun memotret, meskipun saya membawa kamera kecil, tetapi potret yang seharusnya saya simpan dengan baik, hilang entah ke mana.

Pertemuan yang sangat menyenangkan itu berakhir, ketika saya melihat Pak Uderzo melihat arlojinya.

– Saya tidak akan membiarkan Anda pulang ke Indonesia dengan tangan kosong.

Saya tidak sepenuhnya memahami maksudnya. Saya berpikir Pak Uderzo akan memberikan pernak-pernik Astérix yang ada di atas mejanya. Tetapi sekretarisnya langsung paham, dia keluar sebentar dari ruangan, lalu kembali dengan membawa kertas tebal dan lebar.

– Mari ikut saya.

Dengan ramah dia menyilakan saya masuk ke ruangan lain, dan di sana dia menggambar Astérix, seingat saya dalam sekejap langsung jadi, dan menambahkan dedikasi di bawahnya,

pour A. Rahartati Bambang Haryo
avec toutes mes félicitations
et amitiés
Uderzo

Untuk A. Rahartati Bambang Haryo
disertai ucapan selamat
dan salam persahabatan

Ternyata cerita tentang Astérix berlanjut ketika saya telah berasa di bandara Charles de Gaulles, dengan menumpang pesawat Cathay Pacific.

Saya memang paling tidak suka berdesak-desakan waktu boarding. Saya menunggu dengan sabar dan baru berdiri ketika penumpang terakhir sudah dipersilakan masuk. Apa hendak dikata. Tiba-tiba tiket saya berbunyi waktu saya mau boarding.

– Kenapa begitu?
– Anda anggota keluarga awak pesawat?
– Bukan …

Saya menangis. Karena terlanjur janji dengan anak bungsu untuk mengajaknya ke Yogya, begitu saya pulang. Tangis saya menjadi-jadi ketika melihat koper saya diturunkan dari pesawat. Dengan mengepit rol berisi gambar Astérix, saya diantar menemui operation manager Cathay Pacific. Saya jelaskan bahwa saya bukan anggota awak pesawat, tetapi penyumbang artikel untuk majalah femina, yang mengirimkan saya untuk bertemu Monsieur Albert Uderzo berkaitan dengan ulang tahun Astérix …

– Albert Uderzo, Astérix?
– Ya, ini buktinya.

Dengan kesal saya keluarkan tunjukkan buku dengan tanda tangan Pak Uderzo dan gambar Astérix lengkap dengan dedikasinya.

Singkatnya, oleh operation manager saya diantar ke hotel yang tidak terlalu jauh dari Charles de Gaulle. Kepada resepsionis dia sampaikan, bahwa saya adalah penerjemah Astérix dari Indonesia. Dari wajah yang semula menyelidik, terlontar kata ajaib dari mulutnya. “Pas vrai …! Astérix?!

Esok paginya operation manager datang menjemput saya dengan mobilnya. Sesampai di bandara, dia melarang saya untuk check in, dan meminta koper saya untuk dibungkus dengan plastik, dan sambil meminta maaf atas insiden off load yang saya alami, dia mempersilakan saya naik di business class.

Monsieur Albert Uderzo, dari Gabriel Laufer, salah seorang penggemar fanatik Astérix, saya mendengar Anda meninggal dalam tidur, bukan karena corona. Beristirahatlah dengan tenang, Monsieur. Saya bersyukur pernah mengenal Anda dan mendapat kesempatan sebagai penerjemah komik yang sangat digemari pembaca Indonesia. Berkat Astérix, pemerintah Prancis berbaik hati memberikan penghargaan Chevalier de l’Ordre des Arts et des Lettres. Tanpa Anda, tidak akan ada panggilan Madame Astérix untuk saya, dan tentu saja saya tidak akan pernah menerima medali Chevalier. Terima kasih, Monsieur Albert Uderzo. Selamat jalan.

– Silakan telepon putra Anda.

Bagikan:

WhatsApp
Facebook
Twitter