13 Februari 2026 lalu, Komite Gabungan Prancis-Indonesia telah memilih lima belas proyek program Partenariat Hubert Curien (PHC) “Nusantara” edisi 2026.
Program PHC Nusantara Adalah sebuah kemitraan bergengsi yang bertujuan untuk memperkuat pertukaran ilmiah tingkat tinggi antara laboratorium penelitian Prancis dan Indonesia. Program tersebut diinisiasi oleh Kementerian Eropa dan Luar Negeri (MEAE) Republik Prancis dan Kementerian Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Antariksa (MESRE) Republik Prancis, serta berkolaborasi dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (KEMDIKTISAINTEK) Republik Indonesia.
Edisi yang Mengilustrasikan Kedinamisan Kerja Sama Prancis-Indonesia
Rapat seleksi dibuka secara daring oleh Prof. I Ketut Adnyana, Direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), KEMDIKTISAINTEK, menyampaikan apresisasinya terhadap dukungan Pemerintah Prancis dalam kerja sama ilmiah bilateral melalui program PHC Nusantara.
Bapak Jules Irrmann, Konselor Kerja Sama dan Kebudayaan Kedutaan Besar Prancis di Indonesia, menggarisbawahi peningkatan penerimaan jumlah proposal yang signifikan pada edisi tahun ini. Pada kesempatan ini, beliau juga mengingatkan bahwa Tahun Inovasi Prancis-Indonesia 2026 merupakan sebuah kesempatan strategis untuk mengembagkan kerja sama di bidang penelitian dan inovasi. Dalam hal ini, PHC Nusantara menjadi instrumen penting dari dinamika kerja sama tersebut.
Di sisi lain, Ibu Kristiana Stoitseva, Perwakilan dari MESRE, menyampaikan proses evaluasi, kriteria seleksi dan penyusunan daftar kandidat terpilih. Beliau juga mengapresiasi kualitas ilmiah pada proposal yang masuk.
Dr. Philippe Blanc-Benon, Ahli Senior dari Delegasi untuk Eropa dan Internasional (DAEI) dari MESRE, turut mengingatkan pentingnya keterlibatan tim peneliti Prancis dan Indonesia yang aktif dan seimbang dalam pelaksanaan proyek.
Komitmen Pendanaan Bersama Periode 2026-2027 (Dua Tahun)
Setelah melewati berbagai pertimbangan, 15 proyek penelitian yang diusung oleh tim gabungan Prancis-Indonesia telah terpilih pada edisi 2026. Pihak Indonesia, melalui DPPM, mendanai penelitian pemenang Indonesia. Sementara itu, pihak Prancis menanggung biaya perjalanan peneliti Prancis.
Program pendanaan ini menjadi saksi atas komitmen kedua negara untuk melanjutlan dan mengembangan kolaborasi ilmiah yang ambisius.