.

Quarter Life Crisis? Let’s Talk! Saatnya Anak Muda Buka Suara di Nuit des Idées 2026

Pernah nggak sih kamu ngerasa kewalahan dengan hidup yang rasanya makin cepat berubah?
Di satu sisi harus mikirin masa depan, di sisi lain masih berjuang dengan realita hari ini—mulai dari tekanan karier, burnout, sampai pertanyaan yang nggak ilang-ilang: “kapan ya saya bisa dibilang sukses?”.

Di dunia yang terus berevolusi ini, tantangan anak muda jadi makin kompleks. Bukan cuma soal “mau jadi apa”, tapi juga soal “gimana caranya tetap bertahan dan tetap waras di tengah semuanya”.

Pada 24 Juni 2026, Institut français d’Indonésie (IFI) akan menghadirkan Nuit des Idées dengan tajuk “Quarter Life Crisis? Let’s Talk!” sebagai ruang pertemuan gagasan dan dialog, antara generasi muda dan para ahli.

Diadakan serentak di lebih dari 100 negara dan diinisiasi di Paris sejak 2016, Nuit des Idées tahun ini mengusung tema Ouvrir la Voie (Membuka jalan). Nuit des Idées mengajak generasi muda untuk berdiskusi dan berbagi pandangan tentang tantangan yang dihadapi hari ini.

Kalau biasanya para ahli menjadi pembuka dalam sebuah diskusi, kali ini IFI membalikkan alurnya dengan memberikan kesempatan bagi generasi muda untuk menjadi pembuka percakapan. Anak muda terpilih akan duduk di atas panggung, berhadapan langsung dengan para pembicara. Setiap topik dibuka dengan pernyataan pemantik, dan peserta di panggung bisa mengangkat tangan dan maju untuk berbicara langsung.

Karena siapa lagi yang lebih memahami quarter-life crisis selain mereka yang sedang mengalaminya.

Diskusi akan dibagi ke dalam tiga tema utama:

  • Ekonomi dan kemandirian – bagaimana generasi muda membangun stabilitas finansial di tengah kondisi yang penuh ketidakpastian.
  • Krisis kesehatan mental dan kecemasan – bagaimana cara hidup dan tetap bergerak di dunia yang sedang menghadapi berbagai krisis di banyak sisi. 
  • Mendefinisikan ulang kesuksesan di usia 20-an dan 30-an – bagaimana anak muda mempertanyakan makna “sukses” di masa kini, serta dari mana ekspektasi tersebut berasal dan bagaimana memaknainya kembali.

Tiga pakar dari latar disiplin yang berbeda akan merespons cerita dan pandangan para peserta:

    1. Dr. Nurhastuty Wardhani, Senior Lecturer di Universitas Trisakti dan peneliti di Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), dengan PhD di bidang keuangan dari University of Queensland.
    2. Dr. Ira Puspitawati, Kepala Program Studi Psikologi Universitas Gunadarma, peneliti psikologi perkembangan dan kognitif.
    3. Fahmi Taftazani, peneliti di Center for Social Representation Studies (CSRS).

Acara ini terbuka untuk umum dan gratis. Pintu dibuka pada pukul 16.30 WIB di Auditorium IFI Jakarta dan diskusi dimulai pada 17.00 WIB di Auditorium IFI Jakarta.

Jadi, tunggu apa lagi? Amankan tempatmu dan jangan lewatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari percakapan ini.

Bagikan:

WhatsApp
Facebook
Twitter