.

Webinar Persiapan Mobilitas PHC Nusantara ke Indonesia dan ke Prancis

Pada tanggal 24 April 2023, Kantor Kerja Sama Sains dan Teknologi Institut Français d’Indonésie (IFI) – Kedutaan Besar Prancis di Jakarta bersama Campus France telah menyelenggarakan webinar untuk mempersiapkan keberangkatan penerima pendanaan program PHC Nusantara. Webinar tersebut membahas berbagai topik yang berkaitan dengan prosedur administrasi Campus France (tenggat waktu, dokumen yang harus disiapkan, pengeluaran yang memenuhi syarat, penggantian biaya), serta analisis pengaruh dan pentingnya program ini bagi kedua negara.

Webinar ini dimulai dengan presentasi dari Thierry Goubier, Atase Kerja Sama Sains dan Teknologi, Institut Français d’Indonésie – Kedutaan Besar Prancis di Indonesia. Beliau mengatakan bahwa salah satu tujuan PHC Nusantara adalah untuk menginisiasi kolaborasi ilmiah yang berkelanjutan antara Prancis dan Indonesia.

Selain itu, Dimitri Lévêque, Perwakilan Kementerian Eropa dan Luar Negeri (MEAE), menggarisbawahi pentingnya partisipasi para peneliti sebagai aktor kunci dalam pertukaran pengetahuan dan teknologi yang unggul di antara laboratorium-laboratorium penelitian di kedua negara.

Kristiana Stoitseva, Koordinator bidang Keahlian Kementerian Pendidikan Tinggi dan Riset (MESR), mempresentasikan proses evaluasi proposal dan analisis pengaruh program PHC secara global. Analisis tersebut bertujuan untuk meningkatkan pengaruh program PHC yang berkaitan dengan kelanjutan program, serta peningkatan anggaran. Berdasarkan analisis program PHC dari tahun 2005 – 2020, sebanyak 81% kolaborasi penelitian terus berlanjut setelah program berakhir.

Di samping itu, para peneliti disarankan untuk menyertakan penyebutan pendanaan program PHC Nusantara dalam publikasi mereka agar dapat mempromosikan program dan proyek penelitian yang didanai. Contoh kalimat akan dikirimkan kepada para peneliti.

François Pradal, Penanggung Jawab bidang Penelitian Campus France menjelaskan pelaksanaan teknis mobilitas dan penggunaan dana. Beliau menginformasikan kepada peserta bahwa waktu terbaik untuk mengajukan permohonan mobilitas setidaknya tiga minggu sebelum rencana keberangkatan (sebelum tanggal 15 November). Namun, bagi mereka yang tidak dapat melaksanakan mobilitas pada tahun ini, dimohon untuk menginformasikan hal tersebut kepada Kantor Kerja Sama Sains dan Teknologi IFI-Kedutaan Besar Prancis sesegera mungkin agar anggaran dapat dialokasikan kepada peneliti lain.

Selama sesi tanya jawab, ada beberapa pertanyaan yang diajukan, antara lain tentang perjanjian kerja sama. Kesimpulannya, ketersediaan perjanjian kerja sama akan diapresiasi untuk merealisasikan proyek penelitian dengan lebih baik.

Terkait visa, kunjungan singkat (kurang dari 60 hari) dapat menggunakan jenis Visa on Arrival (VoA). Sedangkan, prosedur klirens etik dan visa peneliti (C315) masih diperlukan bagi para peneliti yang akan melakukan penelitian lapangan. Untuk informasi lebih lanjut terkait prosedur, silakan menghubungi projet@ifi-id.com.

Penyelenggaraan Webinar oleh Kemdikbudristek

Di Indonesia, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemdikbudristek) juga telah menyelenggarakan webinar persiapan keberangkatan pada tanggal 4 Mei 2023. Hampir seluruh peserta mengikuti pertemuan tersebut. Pihak Kementerian mempresentasikan proses administrasi terkait kontrak dua sumber pendanaan yang berbeda, yaitu SAME dan BOPTN. Para pemenang harus mengisi informasi yang diperlukan pada situs Kemdikbudristek untuk keperluan pencairan dana penelitian dan mobilitas.

Pada webinar ini, Kantor Kerja Sains dan Teknologi IFI-Kedutaan Besar Prancis juga berkesempatan menginformasikan prosedur permohonan visa dan daftar dokumen yang harus disediakan dalam permohonan tersebut. Tim Kerja Sama Sains dan Teknologi akan dikerahkan untuk memastikan kesiapan dokumen untuk permohonan visa.

Direktorat Sumber Daya Kemdikbudristek meminta kepada para pemenang untuk mengirimkan laporan aktivitas selambatnya bulan Desember 2023. Mobilitas ke Prancis harus dijadwalkan pada tahun 2023, dengan durasi minimal 1 bulan dan maksimal 3 bulan. Para peneliti kedua negara harus menentukan jadwal agar dapat melaksanakan kunjungan masing-masing dengan baik.

Direktorat Riset Kemdikbudristek bersama Kantor Kerja Sains dan Teknologi IFI-Kedutaan Besar Prancis mengharapkan agar program penelitian ini dapat memberikan kesempatan kepada pemenang untuk memperluas jejaring akademis dan professional, berbagi pengetahuan dan memperoleh ketrampilan penelitian baru. PHC Nusantara tentunya dapat menjadi sarana kolaborasi yang memungkinkan para pemenang memanfaatkan peluang-peluang lain, seperti program Eropa.

Kantor Kerja Sains dan Teknologi IFI-Kedutaan Besar Prancis mengucapkan selamat kepada seluruh pemenang dan berharap agar proyek penelitian mereka sukses terlaksana.

Bagikan:

WhatsApp
Facebook
Twitter