Sains & Teknologi

Sosial : Anak muda berdiskusi tentang iklim di IFI Surabaya

4 Agustus lalu, 50 anak muda dari generasi Y (anak muda yang lahir antara tahun 1980 dan 2000, yang biasa disebut para Millenials dalam bahasa Inggris), diundang oleh Centrius (Center for identity and urban studies), datang untuk berdiskusi di auditorium IFI Surabaya tentang isu pemanasan iklim dan konsekuensinya dari pakta perjanjian di Paris. Pada kesempatan ini, Benoit Bavouset, Direktur IFI Surabaya menjelaskan tujuan dan konsekuensi dari pakta perjanjian ini yang merupakan kelanjutan apa yang dibahas pada saat Konferensi tentang iklim di Paris (COP21), akhir tahun 2015 lalu. Beliau menekankan pentingnya hasil perjanjian tersebut : universal, penetapan tujuan, mekanisme perbaikan, pendanaan dan transparansi. Namun beliau menyebutkan batasan dari perjanjian ini (pendanaan dari tahun 2020, tujuan yang tidak mengikat…). Sekarang pakta kesepakatan ini telah disetujui oleh 184 negara : yang pertama menyetujuinya pada tahun 2016, merupakan kepulauan kecil di Karibia, Oceania dan di Afrika dan yang terbaru adalah Suriname dan Kesultanan Oman di tahun ini. Diskusi yang diisi oleh pemaparan dari Benoit Bavouset dan Anggalia Putri, knowledge manager Centrius bisa menunjukkan seberapa besar kepedulian anak muda Indonesia yang tergerak mengenai isu tentang iklim dan pembangunan yang berkelanjutan.



Share:

PARTNER