Bahasa

OLEH-OLEH DARI PRANCIS AKHIR 2014


Residensi Seniman Surabaya di Prancis:
Agus Koecink dan Jenny Lee Mendesain Ruang Asia di Museum Rouen



Sepuluh Desember 2014 lalu, seniman Agus Koecink mempresentasikan project residensi seni di Museum Rouen - Prancis, di hadapan seniman muda dan senior, di Auditorium IFI Surabaya. Sang perupa, yang baru kembali dari Prancis, memaparkan mengenai karya yang dibuat olehnya dan sang istri Jenny Lee, seniman keramik, dalam rangka kolaborasi setelah sekian lamanya dengan museum tersebut.


Agus dan Museum Rouen, Proses yang Cukup Lama  

Agus « Koecink » Soekamto, dikenal dan diakui berkat karya-karyanya yang khas, dengan gaya kontemporer namun membawa jejak tradisi Indonesia. Pada tahun 2010, Agus Koecink terpilih oleh Kantor Kebudayaan Kedutaan Besar Prancis di Jakarta untuk mengikuti program  beasiswa seni bernama « Mobilité des acteurs culturels indonésiens », di antara sejumlah seniman dari berbagai wilayah nusantara. Saat itulah, kolaborasi antara Agus dan Museum Nasional Sejarah Alam di kota Rouen tersebut dimulai.

Di tahun 2010 pula, Museum Rouen memiliki project membuat ruangan khusus untuk koleksi dari Asia. Sébastien Minchin, Direktur Museum, berkeinginan untuk melibatkan seniman Asia kontemporer yang memiliki keterikatan kuat dengan budaya Asia, sehingga dipilihlah Agus dan Jenny.  Setelah kontak terkait residensi pertama mereka di museum tersebut pada 2010 berjalan lancar dan, tahap dasar project diletakkan: Agus membuat konsep dan desain denah calon ruang Asia dan  project pun dilaksakan.

Setahun kemudian, pada 2011, Agus dan Jenny kembali ke Museum Rouen, melanjutkan kolaborasi untuk ruangan Asia. Residensi ini didukung oleh CCCL Surabaya (sekarang IFI Surabaya), mitra dari pasangan seniman asal Surabaya ini sejak bertahun-tahun.

Seleksi benda-benda seni, sejarah dan budaya dari Asia, perbaikan denah ruangan, pertemuan dengan publik Prancis, lokakarya bagi para pelajar dan mahasiswa… Agus dan Jenny mencurahkan 100% waktu mereka pada project museum, juga berbagi kecintaan mereka akan seni serta membuka kesempatan bagi publik untuk menambah wawasan mengenai aspek tak dikenal atau belum diketahui dari budaya Indonesia.

Setiap kali kembali ke Indonesia, kedua seniman menyelenggarakan pameran seni visual « Oleh-Oleh dari Prancis », terinspirasi dari budaya, gaya hidup dan dinamika Prancis, membagi pengalaman seni mereka dengan publik Indonesia.


Pada Tahun 2014 ….

Semuanya bergerak lebih cepat. Agus dan Jenny diundang kembali untuk melakukan residensi di Museum Rouen. Kali ini pada musim gugur. Saat itu, denah ruangan telah diselesaikan, benda-benda yang akan ditampilkan telah dipilih secara hati-hati, hanya tinggal penyelesaian pengaturan terakhir (dekorasi, lukisan mural, dll). Untuk bagian ruangan bagi koleksi dari Indonesia, pasangan seniman ini memilih untuk menekankan pada 2 elemen penting budaya Indonesia, yaitu  wayang dan batik yang keduanya diakui sebagai Warisan Dunia Tak  Benda oleh UNESCO.

Agus dan Jenny tinggal di Rouen mulai tanggal 15 September hingga 18 Oktober 2014, bekerja aktif menyelesaikan project Ruang Asia, selain itu, mereka juga memandu 5 lokakarya untuk publik: teknik membatik untuk mahasiswa jurusan seni rupa, mewarnai dan menggambar wayang untuk pelajar Taman Kanak – Kanak dan Sekolah Dasar, membuat perhiasan dari batik untuk para perempuan, juga diskusi bersama mahasiswa bidang warisan kebudayaan/heritage dan konservasi budaya.

Dalam rangka ‘Hari Pusaka Budaya Eropa’ dan ‘Open House Museum Rouen’ tanggal 20 September lalu, Agus melakukan performance art dengan menampilkan wayang dan Budaya serta tradisi Indonesia.


Ruang Baru, Pelaku Baru  

Peresmian Ruang Asia di Museum Rouen diselenggarakan pada 17 Oktober 2014. Sebuah sukses besar! Ruangan diresmikan dengan kehadiran para pimpinan museum Rouen, 2 seniman Surabaya, media, publik dan undangan. Acara dihadiri pula oleh Deputy Chief Of Mission Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Paris, Bapak Hari Ashariyadi.

Sejak 2014, KBRI turut mendukung project ini, dan baru-baru ini pihak KBRI memberikan cinderamata sebagai koleksi Museum Rouen berupa sebuah noken (tas dari serat kayu khas Papua yang menjadi Warisan Dunia Tak Benda UNESCO), sebuah rok adat,  wayang, busur  dan panah, serta pelindung lengan dari kayu (digunakan dalam perang di Papua Barat) yang dipamerkan di ruang Galeri, di sebelah benda yang telah dipajang.

Kolaborasi budaya Prancis – Indonesia semakin kaya dengan kemitraan baru yang solid, yang menjanjikan  masa depan cerah pada “Tahun Indonesia” di Prancis pada 2017.


Share:

PARTNER