Sains & Teknologi

Prancis, Jerman, & Indonesia: Menjalin Kerja Sama di Tanah Papua

Bandung, 10 September 2018 lalu, dua peneliti mengadakan seminar bersama sekembalinya mereka dari Papua. Peneliti yang pertama yaitu Dr. Marian Vanhaeren, arkeolog asal Belgia yang sejak 2011 melanjutkan karir penelitian di Bordeaux, Prancis. Peneliti kedua adalah Prof. Dr. Wulf Schiefenhövel, arkeolog asal Jerman yang juga tergabung dalam Max Planck Institut fur Ornithologie, Jerman. Diskusi bertajuk “Connecting Humankind” yang mereka bawakan hari itu dapat terlaksana atas kerja sama antara Institut Prancis Indonesia (IFI) Bandung dan Dinas Pertukaran Akademis Jerman (DAAD).

Bagi Marian dan Wulf, ini bukan pertama kalinya mereka berkolaborasi. Sejak 2013, keduanya telah menginisiasi proyek penelitian tiga negara, Prancis, Jerman, dan Indonesia dalam bidang Arkeologi dan Etnoarkeologi di Provinsi Papua. Baru tahun lalu, Marian dan Wulf berkunjung ke Kampung Abar, sebuah desa penghasil gerabah khas di area Danau Sentani, sebagai bagian dari penelitian mereka. Kampung Abar sendiri terkenal di antara banyak wisatawan asing sebagai lokasi strategis untuk birdwatching cendrawasih (Paradisea apoda).

Marian secara khusus menaruh minat terhadap studi tentang perhiasan prasejarah dan pengaruhnya terhadap perkembangan perilaku manusia di masa lampau. Topik ini diangkat dalam Diskusi HTS (Hommes, Territoires, Sociétés) di IFI Thamrin bulan Juli 2018, “Beads and Beauty: From Prehistoric to Present Day.”  Wulf sendiri hadir dalam kesempatan tersebut dan turut berdiskusi bersama para peserta.

Selama hampir separuh dekade mengadakan penelitian bersama, Marian dan Wulf telah menghasilkan beberapa studi, salah satunya adalah jurnal ilmiah mengenai studi arkeologi dan antropologi di Pegunungan Bintang. Kolaborasi keduanya juga merupakan bagian dari rangkaian kerja sama yang lebih luas dalam bidang ilmiah antara Prancis dan Jerman di Indonesia.


Share:

PARTNER