Diskusi Budaya

WEBINAR "SYSTEM OF A LOCKDOWN: MUSIC & MUSICIANS DURING THE COVID-19 PANDEMIC"

19 Mei 2020 | 19.00 | Zoom
Gratis | Registrasi: https://bit.ly/musikifi

Pada dasarnya, musik dibuat, dikarang, dikembangkan, dipelajari dan diperdalam dengan cara yang intim, khusyuk, bisa disebut juga terkungkung. Di situlah para komponis juga musisi bekerja tanpa henti, latihan tertutup di dalam studio atau rumah mereka.

Begitu juga para penikmatnya, mendengarkannya dengan intim untuk menemani kesenangan bahkan kesedihan yang dialami

Namun di lain sisi, musik terinspirasi dari banyak hal di luar, alam, perjalanan, pengalaman, pemandangan, serta kebebasan. Penyajiannya pun diperuntukan bagi khalayak umum dan disambut dengan sorak sorai.

Dalam dunia teater, opera, philharmonik, rumah ibadah, stadion, hajatan besar, musik menggerakan dan pemersatu masyarakat.

Apa jadinya hidup ini tanpa musik dan musisi yang memainkannya?

Sedangkan saat ini, di masa pandemi yang mengguncang dunia ini, musik seolah ditinggalkan dan dikucilkan dari prioritas hidup. Juga tiba-tiba, panggung terbuka untuk semua orang, terutama bagi yang aktif memamerkan dirinya.

Lalu alternatif apa yang bisa kita temukan untuk menyokong musisi agar tetap aktif dan produktif di masa PSBB?

Apakah bisa kira mendorong pemerintah terutama Kementrian Kebudayaan akan hal ini?

Tonalitas apa yang cocok agar bisa didengarkan?


Share:

PARTNER