Diskusi HTS

"UNDANG-UNDANG OTONOMI DAERAH DAN PENULISAN SEJARAH DI INDONESIA BAGIAN TIMUR" Oleh Geneviève Duggan

12 Desember 2018 | 17.30 |
IFI Thamrin
Reservasi : Eventbrite


Undang-undangotonomi daerah (RAL 1999, 2001) telah memberikan kesempatan kepada banyakkelompok masyarakat untuk meredefinisi diri, mengungkapkan visi masa lalu,serta menuliskan sejarah mereka sendiri. Bagaimanapun, hal tersebutmenempatkan masyarakat tanpa tradisi tulis dalam posisi yang pelik. Pasalnya,sumber-sumber sejarah lisan (dari sudut pandang rakyat) dan dokumen tertulisyang dibuat oleh orang luar, terutama manuskrip-manuskrip keluaran zamankolonial Belanda kerap saling bertentangan.

Dapatkahcerita-cerita lisan sebuah pulau kecil membantu kita untuk memahami masa lalusebuah wilayah? Misalnya, sejarah Provinsi Nusa Tenggara Timur yang telahlama terabaikan oleh para sejarawan. Presentasi ini ingin menunjukkanbagaimana penelitian multidisiplin ini dapat mengharmonisasikan sejarah lisandan tertulis dalam kelompok-kelompok masyarakat yang hanya memilikitradisi lisan, juga membantu merekonstruksi sejarah mereka. 

Penelitian ini mengungkapkan perbedaan antara memori lokal (di mana kitamengingat waktu tanpa mengetahui tanggal dan apa yang penting untuk hari ini)dan praktik-praktik para sejarahwan yang bekerja menggunakan sumber-sumbereksternal, tertulis, dan bertanggal.

Pendekatanmetodologi ini menunjukkan juga bagaimana dua bidang penelitian dapat saling memperkayasatu sama lain. Contoh-contoh yang dikaji pada seminar ini merujuk padaupaya gabungan antropolog Geneviève Duggan dan sejarawan Hans Hägerdaldalam riset mereka yang bertajuk Savu: Sejarah dan Tradisi Lisan di SebuahPulau di Indonesia (NUS Press, 2018).


Diskusi akan diikuti oleh penjualan kain tenun tradisional. Seluruh kain yang dijual merupakan buatan tangan para pengrajin tenun dari Koperasi Tewuni Rai yang mendedikasikan diri mereka pada pelestarian teknik tenun dan celup alami yang diwariskan turun-temurun, dan pada pelestarian motif tradisional yang erat kaitannya dengan sejarah Pulau Sabu. 

Seluruh keuntungan dari penjualan ini akan diberikan kepada para pengrajin dan koperasi Tiwani Rai


 

Pembicara

Sejak kedatangannya di Indonesia pada 1988, Geneviève Duggan sudahtertarik dengan tradisi tekstil Indonesia. Sekembalinya ke Eropa, iamenyelesaikan studi etnologinya di Universitas Heidelberg, Jerman. Hasilpenelitiannya diterbitkan dengan judul Kain Ikat Savu: Perempuan-perempuanPenenun Sejarah di Indonesia Bagian Timur (Bangkok: White Lotus, 2001). DiSingapura, tempat tinggalnya sekarang, ia menyelesaikan studi Doktornya dibidang etnologi mengenai proses memorisasi dan transmisi pengetahuan disebuah masyarakat yang tidak memiliki tradisi tulis (Memory Processes in Savu,2008) dan mendapatkan penghargaan dari Fakultas Ilmu Humaniora pada 2009.

Sejak 2010 – 2013, ia bekerja di Lembaga Kajian Asia Tenggara diSingapura. Setelahnya, ia bekerja bersama Dr. Hans Hägerdal, sejarahwan dariUniversitas Linné di Swedia, untuk menggarap sebuah kajian ilmiah setebal700 halaman tentang Pulau Savu sejak awal sejarahnya hingga hari ini dan telahditerbitkan pada Juni 2018. Selain itu, ia juga membantu para perempuanpenenun di Savu yang telah mendampingi dirinya selama masa penelitian lapanganmelalui sebuah koperasi bernama Tewuni Rai dan juga melalui pembangunan sistempemasokan air dan balai perlindungan tanaman di Desa Pedero


Bila Anda melewatkan seminar ini, Anda masih tetap dapat menontonnya melalui saluran Youtube kami.


Share:

PARTNER