Diskusi HTS

Tatanan dunia yang religius: Penerapan & penyesuaiannya di Indonesia oleh Delphine Allès

9 April 2019 | 17.30 |
IFI Thamrin
Gratis | Reservasi: Eventbrite


Sekularisme yang sangat berlebihan dianggap sebagai ciri khas hubungan internasional moderen, tidak akan digunakan lagi. Kita melihat banyaknya gagasan-gagasan yang bertujuan untuk mengintegrasikan atau melibatkan tokoh-tokoh  keagamaan di semua tahapan pembangunan,  dalam pelaksanaan kebijakan publik internasional. 

Pada diplomasi agama tradisional, ditambahkan gagasan-gasasan dialog “antar peradaban” atau “antarkeyakinan”. Aliansi antarnegara dibuat berdasarkan kriteria keagamaan atau atas peninjauan kembali  pengakuan akan hak asasi manusia. Evolusi ini bagaimanapun merujuk pada pemikiran agama yang terbatas, patuh pada filter politik yang mengindikasikasikan kategori keagamaan homogen, perwakilan dari para penganut yang mereka wakili dan berbeda dari lingkungan sekuler.

Dengan menyeleksi para aktor yang dianggap mewakili komunitas yang melampaui mereka, atau dengan memberikan sumber daya bagi mereka yang mampu menyesuaikan agenda mereka dengan apa yang diharapkan negara dan organisasi internasional, atau dengan menciptakan dinamika penolakan mereka sendiri, maka inisiatif-inisiatif tersebut merubah konteks tentang dimana seharusnya mereka dikerahkan. Itulah kasus yang ada di Indonesia,  dimana terdapat jalinan antara wacana-wacana yang disampaikan oleh para aktor utama di panggung internasional,definisi resmi agama dan inisiatif masyarakat sipil yang terasimilasi muncul bersamaan dengan gerakan yang bercirikan penegasan otonomi dalam pandangan politik dan agama yang dilembagakan.

Menganalisis pengakuan sistem internasional dalam hal peruntukannya di Indonesia,  presentasi ini mengkaji cara-cara di mana perwakilan resmi agama ikut berkontribusi dalam merubah representasi dan praktek keagamaan setempat, semuanya terlihat diubah sebagai sebuah imbalan atas alokasi-alokasi ini.

Dialektika dan hibridasi adalah kata-kata inti dari proses ini, di sini ditunjukkan  pandangan yang secara besamaan menolak semua ketentuan sejarah dan kesamaan kategori agama dan politik di dunia pasca-Barat. 


Pembicara

Delphine Allès adalah seorang profesor ilmu politik dan direktur departemen hubungan internasional di Institut nasional bahasa dan peradaban orientales (Universitas Sorbonne Paris). Ahli dalam hubungan internasional dan Indonesia kontemporer, perjalanan ilmiahnya ditandai dengan penelitian pendekatan hubungan internasional pasca-Barat, dititik beratkan pada analisa interaksi antara perubahan sistimatis dan dinamika lokal. Sebelumnya, ia telah menulis tentang interaksi antar agama dan kebijakan politik di luar negeri di Indonesia (Indonesia's Transnational Islamic Actors and Transcending the State, Routledge, 2015) yang mencakup juga masalah keamanan di Asia Tenggara. Pekerjaannya saat ini didasarkan pada penelitian sabatikal di tahun 2017-2018 sebagai delegasi Lembaga Penelitian untuk Asia Timur Kontemporer (IRASEC), di Indonesia.


 

Jika anda tidak hadir pada konferensi tentang Hommes, Territoires, Société? Anda bisa melihatnya di kanal Youtube kami.


Share:

PARTNER