Diskusi Sains

SEMINAR "SOME NATURAL DISASTER THROUGH INDONESIAN LITERATURE" OLEH ETIENNE NAVEAU

29 Agustus 2018 | 17.30 | IFI Thamrin
Gratis | Reservasi: Eventbrite

Nusantara telah menghadapi berbagai peristiwa alam besar, seperti meletusnya Gunung Krakatau pada 1883 dan tsunami Aceh pada 2004. Bagaimanakah peristiwa-peristiwa alam tersebut dicitrakan dalam kesusastraan Indonesia dan informasi apa yang bisa kita dapatkan dari tulisan-tulisan tersebut mengenai masyarakat Nusantara? Etienne Naveau mencoba memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut melalui analisis beberapa novel karya dua penulis produktif: Kwee Tek Hoay dan Taufiq Ismail.

Penulis pertama, Kwee Tek Hoay, tertarik pada teosofi. Ia menulis Drama dari Krakatau pada 1929. Novel ini terinspirasi dari novel The Last Day of Pompeii karya Edward Bulwer-Lytton dan mengandung banyak dokumentasi ilmiah mengenai peristiwa alam tersebut. Drama sentimental yang bertokohkan seorang dukun Baduy keturunan Raja Hindu Padjajaran dan mengagungkan dewa pelindung Wisnu ini dapat memberikan gambaran mengenai bagaimana mutasi budaya dan agama, terlebih peristiwa-peristiwa alam, menggoreskan trauma pada penduduk Nusantara.

Sementara itu, penulis kedua menggunakan pendekatan yang sama sekali berbeda. Taufiq Ismail yang menganut teodisi Islam menggunakan peristiwa-peristiwa alam dalam novel-novelnya untuk merenungkan makna penderitaan manusia.


Pembicara

Pemegang akta mengajar dan gelar doktor filsafat, Etienne Naveau adalahjuga doktor di bidang bahasa, sastra, dan peradaban Indonesia yangpenelitian-penelitiannya dibuat berdasarkan kajian terhadap teks-teksautobiografi Indonesia. Sejak 2003, ia bekerja sebagai guru besar bahasa dansastra Indonesia di Inalco (Institut Nasional Bahasa-bahasa dan PeradabanOriental), serta menjadi anggota Cerlom (Pusat Kajian dan Penelitian Sastra danTradisi Lisan Dunia). Pada November 2017, iamendapatkan gelar HDRnya melalui penelitian berjudul "Identitas danPidato-Pidato Para Pendiri Indonesia (sastra, filsafat, agama)".

Di Inalco, Etienne Naveau mengampu kelas penerjemahan, sastra, dan analisiswacana agama dan politik Indonesia. Ia adalah juga seorang penerjemah bahasaIndonesia. Ialah penerjemah antologi puisi ParisPasar Malam (2015), antologi puisi dwibahasa Debu di Atas Debu karya penyair Taufiq Ismail (penerbit Horison,2015), buku puisi dwibahasa Di Luar Katakarya Acep Zamzam Noor (penerbit Presses de la Sorbonnes nouvelle, 2016), duanovel karya Eka Kurniawan: ManusiaHarimau (penerbit Folio, 2017), dan CantikItu Luka (penerbit Sabine Wespieser, 2017).


Bila Anda melewatkan seminar ini, Anda masih tetap dapat menontonnya melalui saluran Youtube kami.


Share:

PARTNER