Diskusi HTS

"Pusaka! Pelbagai Benda Sakti dari Jawa Barat dan Banten" oleh S-A. Andrieu & G. Facal

2 Mei 2018 | 17.30 | IFI Thamrin
Gratis | Reservasi: Eventbrite


Di Provinsi Jawa Barat dan Banten, pusaka dapat berupa benda-benda alami atau artefak yang dianggap sakti. Para pemiliknya menggunakan benda-benda tersebut untuk mendapatkan kesaktian yang memudahkan mereka untuk mendapatkan otoritas atau bahkan menguatkan legitimasi politik mereka. Hal ini melahirkan serangkaian norma atau pakem yang mencakup penggunaan, peredaran dan pemerolehan benda-benda pusaka tersebut.

Selain itu, pusaka juga menyimpan potensi kemanusiaan dan dipercaya dihuni roh nenek moyang. Sebagai timbal balik, orang yang memiliki dan merawat pusaka akan mengalami transformasi fisik dan status sosial. Di kedua daerah ini, pusaka menggabungkan dan terbentuk dari berbagai pengaruh agama atau aliran kepercayaan yang menghidupkan ruang dan sejarah Jawa Barat (animisme, hinduisme, buddhisme, tantra, Islam, kristianisme). Pengaruh-pengaruh ini berada di tengah pusaran permasalahan ekonomi dan kekuasaan. Kemudian, dengan berkembangnya kegiatan pariwisata budaya di Indonesia, legitimasi baru disematkan pada pusaka-pusaka ini, yang sebelumnya selalu diasingkan dari hingar-bingar pariwisata.

Seminar kali ini akan dimulai dengan presentasi mengenai beberapa benda pusaka dari Jawa Barat. Beberapa di antaranya merupakan koleksi pribadi; beberapa lainnya masih sering digunakan kesaktiannya; dan sebagian lainnya masih tersimpan di tempatnya, menunggu untuk "ditarik". Kemudian, dengan menggunakan ilmu etnologi dan antropologi, seminar akan dilanjutkan dengan analisa mengenai keberadaan, fungsi dan penggunaan benda-benda pusaka tersebut, serta tantangan modernitas yang berkaitan dengan eksistensi mereka.


Pembicara

Sarah-Anaïs Andrieu dan Gabriel Facal adalah antropolog dan doktor peneliti di bidang antropologi sosial di lembaga penelitian Centre Asie du Sud-Est (CASE Paris, EHESS/CNRS). Keberhasilan penelitian mereka sangat terbantu oleh kefasihan mereka dalam berbahasa Indonesia dan kemampuan berbaur mereka dengan masyarakat.

Sarah-Anaïs Andrieu mendapatkan gelar doktor bidang antropologi sosial dan etnologi dari Ecole des Hautes Etudes en Sciences Sociales (EHESS, Paris) pada tahun 2010. Ia tinggal di Bandung sejak 2006. Penelitian-penelitiannya berfokus pada pertunjukan dan praktik-praktik tradisional di Indonesia (utamanya wayang golek) dan proses pewarisan budaya. Hasil-hasil kajiannya diterbitkan di berbagai jurnal ilmiah, namun realisasi pekerjaannya mengantarnya hingga menggelar tur kelompok wayang golek Sunda ke Prancis pada tahun 2007.

Sejak 2004 Gabriel Facal melakukan beberapa penelitian selama kurang lebih 40 bulan di Asia Tenggara, terutama di daerah Banten, Indonesia. Di Banten dari tahun 2009 s.d. 2012, ia membuat sebuah disertasi mengenai orang-orang kuat atau jawara untuk Universitas Aix-Marseille, Prancis. Lalu, selepas mendapatkan gelar doktor, ia membuat penelitian mengenai relasi kekuasaan antara kelompok-kelompok penguasa lokal dan lembaga-lembaga politik regional. Jejaring yang ia dapat saat melakukan penelitian tersebut menjadi modal penelitian selanjutnya. Kali ini mengenai kelompok-kelompok islamis radikal di Banten.

Apakah anda melewatkan diskusi sains kami? Jangan khawatir, Anda dapat menemukannya di saluran Youtube kami!


Share:

PARTNER