Diskusi HTS

PERIKANAN KERANG (MOLUSKA) DI INDONESIA DAN TIMOR LESTE : PRAKTIK, PANDUAN, DAN TANTANGAN OLEH ARIADNA BURGOS

6 November 2019 | 17.30 | IFI Thamrin
Gratis | Reservasi: Eventbrite

Di Asia Tenggara, seperti halnya di berbagai kawasan lain di dunia, moluska yaitu kerang kepah, kerang darah, kerang-kerang kecil aman konsumsi, dan siput laut merupakan sumber daya alam yang kaya akan nilai budaya dan simbolis. Dalam hal ini, cangkang kerang moluska merupakan sumber daya alam yang penting: di satu sisi sebagai sumber pangan masyarakat pesisir laut dan di sisi lain cangkang kerang yang mengandung kalsium telah digunakan sebagai perhiasan, uang komoditas, peranti keagamaan/magis. Agar dapat menangkap moluska secara efektif, para penangkap kerang harus mempunyai pengetahuan mendalam tentang habitat, cara hidup, dan penyebarannya. Demikian juga pengetahuan tentang ekosistem laut dan dinamika sosio ekologi kawasan pesisir. Dari sudut pandang biologi, moluska dianggap sebagai organisme bioindikator yang baik: organ tubuh, cangkang, dan di skala yang lebih besar, dinamika populasinya menjadi sumber informasi penting tentang kualitas dan transformasi kawasan pesisir. Selain itu, sifatnya yang berada di mana-mana dan tersebar luas secara geografis sangat tepat untuk studi ekologi komparatif berskala besar. Pada situasi dunia sekarang ini, ekosistem dan masyarakat menghadapi sejumlah tantangan besar, seperti perubahan iklim, degradasi ekologis, dan globalisasi, sehingga hubungan antara kearifan lokal dan ilmu pengetahuan alam menjadi pusat perdebatan internasional. Moluska menawarkan perspektif orisinal yang dapat memadukan kearifan lokal, ilmu pengetahuan alam, dan pendekatan partisipatif untuk meningkatkan pengawasan, evaluasi dan tata kelola perubahan kawasan pesisir berdasarkan dua studi kasus di pulau Siberut (Indonesia) dan di pulau Atauro (Timor-Leste). Tujuan presentasi adalah 1) memberikan gambaran keragaman praktik dan keraifan lokal yang diterapkan pada masa panen, transformasi, dan penggunaan moluska, 2) mengindentifikasi faktor-faktor perubahan sosio kultural dan ekologis yang mempengaruhi hubungan antara penduduk lokal dengan moluska dan lingkungan laut, 3) mendiskusikan peranti, pendekatan, dan tindakan interdisipliner dan partisipatif untuk keberlanjutan perikanan moluska secara manual.

Pembicara

Ariadna Burgos adalah peneliti pasca doktor di Lembaga Penelitian Prancis untuk Pembangunan (IRD). Beliau telah meraih dua gelar master yaitu “Evolusi, Warisan Alam, dan Masyarakat” dan meraih gelar doktor etnologi di Museum Nasional Sejarah Alam Prancis. Spesialisasinya di bidang dinamika sosio ekologis perikanan dan penggunaan moluska dan evolusi dinamika sosio ekologis kawasan pesisir dan di evolusi perikanan rakayat. Ariadna telah mengembangkan satu pendekatan inovatif tentang studi interaksi manusia dan moluska dengan memadukan pendekatan kualitatif dan kuantitatif dari disiplin ilmu berbeda, yaitu: antropologi, ekologi, geografi, dan arkeologi. Ariadna berasal dari Colombia. Ia telah bekerja bersama penduduk di beberapa daerah pesisir Indonesia, di Timor Leste, Papua Nugini, Vietnam, dan Senegal untuk lebih memahami bagaimana faktor budaya dan sosio ekonomi mempengaruhi perilaku penduduk dalam menyadari dan mengelola perubahan lingkungan di daerah pesisir, seperti mangrove dan terumbu karang. Saat ini ia mengerjakan penelitiannya tentang warisan dan sumberdaya kelautan di Flores (Indonesia), pulau Atauro (Timor Leste). Ariadna telah menerima penghargaan Leroi-Gourhan pada tahun 2012 dan penghargaan Engie “Keunggulan Penelitian di Museum Manusia” pada tahun 2019 untuk pekerjaannya di etnomalakologi.

Anda terlewatkan sebuah seminar dalam rangkaian seminar Hommes, Territoires, Sociétés? Anda dapat menontonnya kembali di kanal Youtube kami.


Share:

PARTNER