Pemutaran Film

Le Mois du Documentaire

Bulan dokumenter
23 - 24 November 2017
Auditorium IFI

Jl Sagan 3- 55223 Yogyakarta- Indonésie

Tél: + 62 (274) 54 74 09   Fax: + 62 (274) 56 21 40  

Web : http://ifi-id.com/yogyakarta
twitter : https://twitter.com/IFI_Yogyakarta

IG : https://www.instagram.com/IFIyogyakarta/
FB FAN PAGE: IFIYOGYAKARTA  

IFI Yogyakarta tergabung dalam edisi ke 18 bulan film dokumenter yang digagas oleh asosisasi « Images en bibliothèques » dan Institut Français, diselenggarakan lebih dari 1200 daerah di Prancis dan 35 negara di seluruh dunia, selama bulan November 2017. Agenda yang bertajuk « retour a l'école » pada 23 – 24 November 2017 yang juga tergabung dalam edisi ke 16 Festival Film Dokumenter Yogyakarta yang diselenggarakan oleh FFD, rekanan dari Indonesia, pada tanggal 9 – 15 Desember 2017 mendatang. FFD akan mempersembahkan film-film silang pandang berkat pemutaran film Prancis, Jerman, Indonesia dan Asia Tenggara.
 
Retour à l'école
 
Berabad silam, nilai dan pengetahuan diteruskan melalui beragam wujud. Ia dinarasikan melalui dongeng, mitos, hingga nyanyian. Saat ini, sekolah merupakan bentuk yang paling umum bagaimana gagasan nilai dan pengetahuan dipindahkan dari generasi ke generasi, dengan bentuk yang formal dan terinstitusionalisasi. Sayangnya, wujud pendidikan formal memiliki kecenderungan yang didaktis. Gambaran mengenai apa yang harus dilakukan anak muda maupun masa depan yang ideal seringkali berupa narasi tunggal. Alih-alih mengeksplorasi kreativitas dan hasrat anak-anak muda, sekolah seringkali memuat bias kepentingan orang dewasa. Mereka diwajibkan pandai dalam mata pelajaran, ahli dalam olahraga, hingga, patuh pada ideologi negara. 
 
Dalam penyelenggaraan Le Mois du Film Documentaire (Bulan Dokumenter Prancis) 2017 ini, film-film yang disajikan berusaha mengeksplorasi bagaimana anak-anak muda di dalam ruang sekolah berusaha mendobrak dan menyiasati kelindan batas-batas sosial budaya yang ada di dalamnya. Film Le Cour du Babel (Julia Bertuccelli, 2013) berusaha memotret dinamika anak-anak dalam memahami perbedaan di dalam keseharian, bagaimana interaksi mereka dalam memandang teman-teman yang berbeda ras, agama, dan etnis secara polos merupakan hal yang menarik untuk dipahami. . Sementara Comment J’ai les detestes les math (Olivier Peyon, 2013) berawal dari diskusi ruang kelas menuju fenomena global bagaimana matematika bisa begitu dibenci sebagai sebuah mata pelajaran. Sedikit beranjak dewasa, penggambaran gap antar generasi mulai terlihat di dalam dua film; yaitu Les Regles de Jeu (Claudine Bories & Patrice Chagnard, 2014) dan Chanta ton Bac d’abord (David Andre, 2013). Bagaimana tuntutan masyarakat dan keluarga berusaha dilawan oleh anak-anak muda di dalam proses sekolah menengah menuju perkuliahan, sekaligus transisi menuju kedewasaan.
 
 
Kamis, 23 November 2017 | Auditorium IFI-LIP | 16:00 WIB
Comment j'ai détesté le math/ How I Came to Hate Maths 
Oliver Peyon | 103 min | France | 2013 | PG 
 
Matematika identik dengan kebosanan, nyaris idak terelakan memperoleh nilai buruk dalam matematika, singkat kata, kita benci matematika ! Mungkin mudah untuk tertawa jika matematika tidak memiliki andil besar dalam peradaban. lewat perjalanan ke empat penjuru dunia, ditemani ahli matematika seperti Cédric Villani (peraih Fields medal 2010), Comment j'ai deteste le math menceritakan bagaimana matematika mengubah dunia.
Math Always bored you, you always thought that being useless at math was inevitable, in short, you always loathed math! we could have been happy to lough at them if mathematics hadn't taken such an important place in our society. Through a journey to the four corners of the world in the company of the greatest mathematiciens, including Cédric Villani (2010 Fields Medal), Comment j'ai détesté les maths recounts how mathematics have changed our world for the better... and sometimes for the worst. 
 
Rumah Produksi : zadig Productions
Kontak               :  info.yogyakarta@ifi-id.com
 
 
Kamis, 23 November 2017 | Auditorium IFI-LIP | 19.00 WIB
Chante ton bac d'abord / We Did IT on A Song 
David André | 82 min | France | 2013 PG 
 
Mengisahkan liku perjalanan sekelompok remaja dari Boulogne-sur-Mer., sebuah kota di Prancis di tengah krisis keuangan. Di antara mimpi-mimpi dan kekecewaan, ditangkap lewat mata anak-anak muda berlatar belakang kelas menengah dan pekerja, diiringi lagu-lagu yang dalam harmoni membawa puisi, tawa, dan rasa, ke dalam realita. 
This film is telles the storry tale of a fgroup of friends from Boulogne-sur-Mer, a French town hit by the financial crisis. A year between dreams and disillusion, imagined by teenagers from a working or midle class background, with songs that regulary add poetry, laughter, and emotion to reality. 
 
Rumah produksi : brotherfilsm 
 
Jumat, 24 November 2017 | Auditorium IFI-LIP | 16.00 WIB
La Cour du Babel / Scholl of babel 
Julie Bertuccelli | 89 min | France | 2013 | PG 
 
Sekelompok siswa, usia 11 sampai 15 tahun, bertemu di kelas Bahasa Prancis. Bak teater kecil ; kepolosan, energi dan kontradiksi mereka dalam berekspresi, yang termotivasi keinginan untuk mengubah hidup, mempertanyakan nbanyak gagasan mengenai masa muda dan integrasi. 
They are college students, age 11 to 15, meeting in a same class to learn French, in this small theater, the innocence, the energy and the contradictions of these teenegers express themselves, who, motivated by the same desire to change their life, question many received ideas about youth and integration. 
 
Rumah produksi : Les Films du Poisson, Sampek Productions, Arte France Cinema
 
Jumat, 24 November 2017 | Auditorium IFI-LIP | 19.00 WIB
Les regles du jeu / The Rules of the Game 
Claudine Bories & Patrice Chagnard | 106 mjin | France | 2014 | PG 
 
Lolita tidak suka tersenyum, Kevin tidak tahu cara membawakan diri. Hamid tidak suka koki. Thierry berbicara bahasa jalanan. Mereka berusia dua puluh tahn , tidak memiliki ijazah dan mencari pekerjaan.
Selama 6 bulan, pelath dari agensi kerja akan mengajarkan mereka sikap dan tata bahasa yang dibutuhkan untuk mendapat perkerjaan. Melalui proses tersebut, film ini menguak absurditas "aturan main " di lapangan 
Lolita dos not like to smile, Kevin does not know how to sell himself. Thierry speak wash, Hamid does not like chefs. They are twenty years old, have no diploma and are lookinh for work. For 6 months, the coaches of an employment agency will teach them the behavior and the language you need to get a job. Through this learning, the film reveals the absurdity of these new rules of  the games