Diskusi Sains

BAJAK LAUT VERSUS BADAN PENEGAK HUKUM: KONFRONTASI TIADA AKHIR OLEH ERIC FRÉCON

21 Februari 2018 | 17.30

IFI Thamrin

Gratis

Reservasi: Eventbrite


Feniks atau Hidra? Seperti mitologi Yunani tersebut, bajak laut tidak pernah mati. Memberantas sebuah kelolpok di suatu tempat, maka kelompok-kelompok baru akan muncul di tempat lain. Hal inilah yang terjadi di Asia Tenggara pada tahun 1990-2000an, khususnya di sepanjang Selat Malaka, salah satu jalur maritim terpenting di dunia, tempat di mana banyak penelitian lapangan (di bidang ilmu politik) dilakukan. Setelah puncak statistik terakhir pada tahun 2015, perampokan bersenjata terhadap kapal laut dan pembajakan kini sedang mengalami penurunan. Apakah ini untuk selamanya atau sekadar jeda sebelum akhirnya muncul kembali di Kepulauan Riau?


Jawabannya akan sangat terkait tidak hanya dengan akar permasalahannya (konteks politik, latar belakang sosial, dan lingkungan geografis pelaku kriminal laut), tetapi juga dengan reaksi para penegak hukum di laut. Di samping tingkat kesiapan dan perlengkapan mereka, inilah saatnya untuk fokus pada model penerapan hukum dan pengelolaan administrasi di laut. Gagasannya adalah mempelajari tidak hanya berbagai inisiatif regional, tapi juga faktor-faktor nasional, khususnya di Indonesia: apa itu yang disebut “budaya maritime”, sistem hukum, dan agenda politik (seperti ide presiden akan “poros maritim dunia”).

Pembicara

Eric Frécon yang kini bermukim di Singapura, adalah seorang dosen-peneliti di Sekolah Kelautan Prancis. Ia adalah juga Koordinator Observatorium Asia Tenggara di Asia Centre di Paris, serta anggota Komite Uni Eropa untuk Dewan Kerja Sama Keamanan di Asia Pacific (CSCAP). Pada tahun 2011-2012, ia menjabat sebagai Wakil Kepala Redaksi di sebuah majalah politik dan kebijakan internasional, Diplomatie. Sebelumnya, ia bekerja sebagai rekanan peneliti dalam Program Indonesia Sekolah Studi Internasional S. Rajaratnam Singapura selama tiga tahun.

Ia mendapatkan gelar Ph.D di bidang ilmu politik di Sciences Po Paris pada tahun 2007. Buku terakhirnya berjudul Chez les pirates d’Indonésie, terbitan Paris: Fayars tahun 2011.


Share:

PARTNER